Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Kabahagiaan yang Membuncah


__ADS_3

Lahiran


Sesampainya di rumah sakit, aku di bawa masuk ke ruang tunggu sebelum dioperasi. Tanganku dipasang jarum infus.


"Semangat ya, Yang!" Ridho berusaha menguatkanku.


Wajahnya tak kalah pucat dari wajahku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Ridho memberikan pelukan sebelum aku memulai perjuangan.


"Iya, Mas. Doakan aku, ya."


"Pasti, Sayang ... maafin mas ga bisa nemenin kamu berjuang."


Aku hanya menjawab dengan senyuman. Ridho mengelus puncak kepalaku. Semangatku rasanya bertambah. Tak sabar lagi menghadapi proses lahiran.


Tak lama kemudian, datang satu orang perawat membantuku mengganti pakaian dengan baju rumah sakit. Lima belas menit kemudian, aku dipapah masuk ke ruang OK.


Dua orang asisten dokter sibuk menyiapkan persiapan operasi. Berulang kali aku menarik napas panjang untuk mengurangi rasa gugup. Mereka pun membantuku naik ke meja operasi.


"Anak ke berapa, Bu?" tanya perawat wanita.


"Pertama," sahutku singkat.


Dalam hati aku terus beristigfar sembari memohon keselamatan untuk calon bayi kami. Mereka tersenyum ramah sambil terus menenangkanku. Aku berusaha membalas keramahan mereka walau perasaan sudah campur aduk.


"Tinggal di mana, Bu?" tanya asisten laki-laki.


"Di daerah Puri, Mas."


"Ooh. Jauh ya, Bu. Berdoa terus ya, Bu."


"Iya, Mas. Makasih."


Setelah persiapan selesai, dua orang dokter masuk. Dokter kandungan dan dokter anak. Mereka juga menyapaku dengan ramah.


Ternyata dokter yang menanganiku adalah dokter tempatku kontrol pertama saat kehamilan. Aku merasa sedikit lega karena sudah mengenali dokternya. Apalagi dia lumayan humble.


"Harus kuat ya, Bu. Jangan lupa berdoa."


"Baik, dok. Terima kasih."


Aku kembali larut dalam segenap asa pada Yang Kuasa. Musik mulai dihidupkan membuatku sedikit relaks. AC yang disetting sangat dingin membuatku tubuhku mulai menggigil.


"Kita mulai ya, Bu. Santai, ya."


Aku hanya menjawab dengan anggukan. Suntikan anastesi dimasukkan ke bagian pinggangku. Sedikit menghela napas menahan rasa sakit dan ngilu. Aku pun dipersilakan berbaring kembali.


Mereka bergantian mengajakku ngobrol. Mungkin berusaha membuatku terjaga. Aku menjawab sekenanya karena berusaha fokus berdoa dalam hati.

__ADS_1


Setelah obat bius bekerja, proses bedah pun dimulai. Aku merasakan sedikit geli di bagian perut saat dibelah. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi memecah keheningan yang sempat tercipta beberapa saat.


"Alhamdulillah. Bayinya sudah lahir. Laki-laki ya, Bu."


"Alhamdulillah. Makasih, dok."


"Ya Allah, jam berapa air ketubannya merembes, Bu?"


"Sekitar jam empat subuh, dok."


"Astagfirullah. Untung ga kenapa-kenapa bayinya."


Aku hanya terdiam mendengar keluhan dokter. Sungguh aku tak begitu mengerti dengan arti air ketuban untuk bayi. Selama hamil, aku tak berani membaca artikel tentang proses melahirkan yang detil.


Air mataku mengalir mendengar tangisan bayi kami begitu kencang. Rasa khawatir yang sempat menyiksa hilang seketika. Berganti dengan keharuan yang memenuhi hati.


Tak bisa digambarkan seberapa besar kebahagianku setelah melewati perjuangan melahirkan buah hati kami. Tak sabar rasanya melihat wajah bayi mungil kami. Berbagai rasa bercampur aduk membuatku menarik napas lega.


Setelah proses penjahitan selesai, aku dipindahkan ke ruang tunggu. Tubuh yang menggigil membuatku tak sanggup berkata. Berbagai tanya melintas dalam benakku.


Apa Ridho sudah melihat bayi kami?


Bagaimana perasaan suamiku sekarang?


"Kami urus bayinya dulu ya, Bu," ucap perawat wanita.


"Iya, Mbak."


Terdengar langkah dari luar ruangan mengantar barang. Sepertinya Ibu atau Bunda. Aku tak sabar ingin bertemu dengan keluarga.


"Ini bayinya, Bu."


"Makasih, Mbak."


Akhirnya seorang perawat menyerahkan sang bayi mungil ke pelukanku. Tatapan matanya membuat kebahagiaanku melambung tinggi. Kuusap pipi juga tangan buah hati kami. Begitu lembut.


Tak lama kemudian, Ridho dipersilakan masuk untuk mengadzani bayi kami. Aku tersenyum semringah saat melihat sosok yang begitu kurindukan. Raut wajah Ridho tak kalah bahagia dariku.


"Makasih ya, Yang." Ridho mengecup keningku dengan lembut.


"Iya, Mas. Alhamdulillah."


Ridho pun mengambil bayi kami dari pelukanku. Menciumnya sejenak dengan penuh kasih. Mendekatkan bibirnya ke telinga bayi kami, lalu melantunkan adzan dengan pelan.


Air mataku kembali menitik. Kebahagiaan di hatiku begitu membuncah. Beribu rasa syukur kupanjatkan pada Tuhan pemilik alam semesta.


Beberapa saat menunggu, datang dua orang perawat laki-laki memindahkanku ke brangkar lain untuk dibawa ke ruang perawatan.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya ya, Bu."


"Iya, Mas."


Mereka pun mengangkat tubuhku serentak. Ridho dipersilakan menunggu di luar. Saat sudah di depan ruang OK, kulihat wajah ornag tua dan mertua begitu semringah melihat bayi kami di pelukan Ridho. Hatiku kembali dipenuhi rasa syukur.


Setibanya di ruang perawatan, keluarga menyusul masuk. Seorang perawat wanita membantu menyiapkan box bayi untuk anak kami. Dia meraih bayi kami dari pelukan Ridho, lalu menyerahkannya padaku.


"Belajar ngasi ASI dulu ya, Bu. ASI adalah makanan terbaik buat bayi."


"Iya, Mbak."


Sang perawat meletakkan bayi mungil kami ke dadaku. Aku berusaha menggendongnya dengan hati-hati agar bisa mendapat haknya. Beberapa kali bayi laki-laki kami berusaha mengecap ******, tapi belum ada hasilnya.


"Ok. Udah dulu. Nanti diulangin lagi, ya. Agar merangsang ASI Ibunya keluar."


"Baik, Mbak. Makasih."


"Ayahnya nanti tolong bantu, ya. Bisa juga kelurga yang lain."


"Iya, Mbak," sahut Ridho.


Perawat wanita itu meletakkan bayi kami kembali ke dalam box. Ridho mengikuti langkahnya, tak bisa melepaskan pandangan dari bayi kami. Setelah perawat keluar dari ruangan, Ibu dan Bunda mendekat. Bapak dan Ayah menunggu di depan ruangan.


"Selamat ya, Sayang ... udah menjadi seorang ibu," ucap ibuku.


Bibirku melengkungkan senyuman. Aku mengangguk pelan pada wanita tersayang. Bunda melongok ke dalam box bayi.


"Selamat ya, Nak ... dapat jagoan!" ucap Bunda pada Ridho.


"Alhamdulillah, Bun." Senyum terkembang di bibir Ridho. "Aku keluar dulu, ya. Mau urus adiministrasi dan keperluan lain."


"Iya, Nak. Biar kami yang jaga di sini," sahut Bunda.


Aku dan Ibu hanya mengangguk pelan. Ridho menyentuh lengan bayi kami sebelum keluar. Terdengar Ridho pamit pada Bapak dan Ayah di luar ruangan.


"Cucu oma. Gantengnya ... duh ... gemesnya." Bunda menjawil pipi cucunya dengan gemas.


Aku dan Ibu tersenyum melihat tingkah Bunda. Ini cucu pertamanya. Untuk Ibu juga sebenarnya, tapi tak begitu heboh seperti Bunda. Ibu berjalan mendekati mertuaku.


"Wah ... cucu nenek bobonya anteng." Ibu menyentuh pipi anakku dengan ujung jarinya.


"Ganteng ya, Jeng!" Bunda menoleh sekilas pada Ibu, lalu kembali fokus pada bayi kami.


"Iya, donk, Mbak. Ayah dan para kakeknya ganteng," sahut Ibu setengah bercanda.


Mereka tertawa sambil melihat cucunya dengan pandangan gemas. Kembali membicarakan cucu mereka sambil memuji paras atau tingkah lucunya. Aku tersenyum penuh haru melihat kedua wanita yang kusayang bahagia.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya, Teman-teman ❤❤


__ADS_2