
Dasar nakal!" Ridho menggelitik pinggangku.
"Ampuun!" Tanganku berusaha menarik jarinya dari pinggang.
Sebenarnya aku mulai suka bau badan Ridho. Sedang berkeringat sekalipun, tetap saja aku merindukan aroma tubuhnya. Terkadang aku gelisah menunggunya pulang dari tempat kerja. Merasa lega setelah dia memeluk tubuhku.
Ridho menghentikan tingkahnya, lalu meriah handuk. Aku pura-pura cemberut padanya. Ridho terkekeh pelan saat berlalu dari hadapanku.
Usai menyapu bedak ke pipi dan memoles lipgloss ke bibir, aku duduk di tepi ranjang. Tak lama, Ridho kembali ke kamar. Aku pun mengambil baju ganti untuknya. Tadi malam karena tertidur, belum sempat mengeluarkannya dari tas.
"Cantiknya Nyonya Ridho!" pujinya saat menatapku sekilas.
"Udah pinter banget nge-gombal sekarang, ya?"
Ridho kembali tertawa. "Muji bini sendiri juga!"
Aku tersenyum malu. Setelah beberapa bulan hidup bersama, aku semakin menyayanginya. Merasa bersyukur mempunyai suami yang cukup sempurna, kecuali sifat cemburunya yang sering berlebihan.
"Udah ah! Aku ke depan dulu, ya. Kali aja Bunda udah siap."
"Belum, kok. Bunda baru udah jemur baju tadi," sahutnya. "Duduk sini, dulu," ucapnya sambil menepuk ranjang di sebelahnya.
Aku pun kembali duduk di sampingnya. Ridho meraih kedua tanganku, lalu menciumnya. Aku menatapnya dengan pandangan heran.
"Makasih ya, udah bertahan bersamaku selama ini."
"Mas ngomong apaan, sih?" tanyaku bingung.
"Walau sikap Bunda kurang baik sebelum ini, kamu ga pernah mengeluh."
Aku tertegun menatapnya. Kembali teringat beberapa perlakuan Bunda yang kurang mengenakkan. Terutama saat di rumah sakit.
"Bagaimanpun juga Bunda kan sudah jadi orang tuaku selain Ibu. Sudah seharusnya aku berusaha bersabar bila ada sikapnya kurang berkenan."
Ridho menatapku dengan pandangan haru. "Iya. Mas bersyukur Allah menjodohkan kita."
Aku mengangguk pelan. "Aku juga berterima kasih, karena Mas selalu menguatkanku saat Bunda belum menerimaku sepenuhnya."
Ridho meraihku dalam pelukan. Mencium keningku lama sebelum melepaskan tangannya. "Sudah kewajiban Mas. Sekarang kamu boleh ke depan nungguin Bunda."
"Iya, Mas. Mas ga kemana-mana?"
"Kayaknya ngga. Paling main catur sama Ayah."
"Ya udah. Aku pergi dulu ya, Mas."
Ridho mengangguk sambil mengelus puncak kepalaku. Aku mencium tangannya, lalu keluar dari kamar dan duduk di teras. Tak lama kemudian, Bunda sudah siap.
"Ayok!" ajaknya.
"Iya, Bun."
__ADS_1
Bunda menghidupkan mesin mobil. Aku pun menyusul duduk di sebelahnya. Kami pun meluncur ke jalan raya. Sepuluh menit kemudian kami tiba di pasar pagi yang jaraknya tak jauh dari rumah.
Aku berjalan pelan mengikuti Bunda memilih sayuran, ikan, ayam dan beberapa jenis bumbu masak. Saat mampir ke lapak pedagang yang menjual buah, terdengar seseorang menyapa Bunda.
"Bunda apa kabar?"
Aku menoleh pada seseorang yang berdiri di samping Bunda. Ternyata Nisa yang menyapanya. Aku berusaha menerbitkan senyuman.
"Eh. Nisa ... Bunda sehat. Kamu sendiri aja?"
"Wah ... lagi belanja sama menantu, ya?" jawabnya saat melihatku. "Iya, nih, cuma mau beli sayur sama buah."
Bunda terkekeh pelan. "Iya. Ridho sama Reva lagi nginap di rumah. Cari seseorang donk, buat nemenin!"
Aku sedikit terkejut mendengar candaan Bunda. Terakhir melihat kebersamaan mereka di rumah sakit, aku menyangka Bunda seakan menganggapnya sebagai calon menantu. Kulirik wajah Nisa yang terlihat pias.
"Bunda bisa aja! Belum nemu, Bun."
"Masa? Kamu cantik gitu ... pasti banyak pria yang tertarik."
Nisa tersenyum malu. "Belum ada yang melamar, Bun. Ya udah, Nisa duluan ya, udah selesai belanjanya."
"Iya. Salam buat Mama."
Nisa menganggukkan kepala. Sempat kutangkap tatapan iri di matanya. Cepat tertutupi dengan senyum yang diberikannya untukku dan Bunda.
Aku menarik napas lega saat wanita itu berlalu dari hadapan kami. Jujur, selama dia di sini tadi, dadaku agak bergemuruh. Menahan segenap rasa yang mengacaukan hati. Terutama gelisah karena tau dia pernah dekat dengan Ridho.
Setelah belanjaan lengkap, Bunda mengajakku pulang. Beberapa saat aku termenung di mobil, memikirkan pertemuan dengan Nisa tadi. Rasanya ingin bertanya langsung, tapi aku tak mau terlihat menyedihkan. Aku tak sanggup mendengar langsung dari mulut Bunda kalau mereka pernah dekat sebelum kami menikah.
Aku sedikit kaget, lalu spontan menoleh pada Bunda. Berusaha menerbitkan senyuman sebelum menjawab pertanyaannya.
"Nisa cantik ya, Bun?" sahutku asal.
"Iya. Tenang aja, Ridho ga tertarik kok pada Nisa. Beberapa kali dia ke rumah, tapi Ridho cuek aja. Bunda sempat heran, tapi namanya jodoh Tuhan yang mengatur."
Deg!
Rasanya ada sesuatu yang menghimpit dadaku. Ternyata Nisa memang pernah mengharapkan Ridho. Aku menarik napas pelan untuk menenangkan hati.
"Iya, Bun. Aku ga kepikiran ke situ, kok. Cuma salut aja pada keramahannya."
"Ooh. Mamanya Nisa teman kuliah Bunda dulu. Waktu anak-anak masih kecil, kami kadang kumpul pas lebaran."
"Gitu ya, Bun. Pantes dia ga segan sama Bunda."
Bunda tersenyum lembut. "Iya. Kita makan bentar ya. Sekalian beli sarapan buat Ayah dan Ridho."
"Iya, Bun."
Ibu mertua menghentikan mobil di sebuah kedai yang menjual aneka sarapan. Aku memesan nasi uduk dan segelas teh manis. Bunda memilih gado-gado.
__ADS_1
Selesai makan, Bunda membeli dua porsi lontong sayur untuk para laki-laki di rumah. Kami pun kembali melaju ke jalan raya.
"Alhamdulillah nyampe. Kamu tolong panggil Ridho buat nurunin belanjaan, ya."
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Bunda memasuki halaman rumah, lalu mematikan mesin mobil. Aku turun duluan mengucapkan salam dan mencari Ridho di kamar. Apa ga jadi main catur sama Ayah?
"Eh. Udah pulang?" tanya Ridho saat aku mendorong pintu kamar.
"Iya. Diminta Bunda buat nurunin belanjaan, tuh."
"Ooh. Aku keluar dulu kalau gitu," sahutnya sambil mematikan laptop.
"Ayah mana? Ga jadi main catur?"
"Tadi main bentar. Terus diajak Pak RT jengukin warga yang baru kecelakaan."
"Innalillahi. Parah?"
"Ga tau juga. Mas mau ikut dilarang Ayah, takut kalian bingung nyariin."
"Kan bisa WA."
"Tau, Ayah! Aku nurut aja."
Ridho keluar dari kamar. Aku mengganti pakaian dengan baju kaos yang lebih nyaman. Saat menyusul Ridho, laki-laki kesayangan sudah selesai memasukkan belanja ke dapur. Bunda memberikan lontong sayur padaku.
"Nih, makan dulu, Mas. Aku siapin, ya."
"Ok."
"Bunda istirahat aja. Biar aku yang simpan sayurannya," ucapku saat Bunda mengeluarkan belanjaan dari kantung plastik.
"Ngga papa. Kita kerjain sama-sama."
Aku pun membantu Bunda memisahkan beberapa barang, lalu menyimpannya di kulkas. Tak lama terdengar ucapan salam dari Ayah. Kami pun menjawab serentak.
"Gimana keadaannya, Yah?" tanya Ridho.
"Lumayan parah, barusan dibawa ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit, Yah?" tanya Bunda.
"Itu, anaknya Pak Roni tabrakan di jalan depan."
"Yang nabrak parah juga?"
"Iya, Bun. Sama-sama dibawa ke rumah sakit tadi."
"Astagfirullah. Ngeri zaman sekarang. Jalan udah rame, anak-anak bawa motor suka ngebut."
"Iya, Bun. Kata warga yang lihat, yang nabrak lumayan kencang bawa motor."
__ADS_1
"Kamu hati-hati kalau bawa Reva, Dho. Takutnya nemu anak-anak yang ngebut gitu," nasihat Bunda.
Jangan lupa like dan vote yaa 😘