
Kami baru saja akan makan malam. Ibu memasak semur tahu, aku cukup bersemangat ingin menyantapnya. Ridho dan Bapak baru saja pulang dari masjid.
"Assalamualaikum ...." Terdengar ucapan salam dari luar.
Ridho berinisiatif membuka pintu. Ternyata ayah dan ibu mertua yang datang. Kami pun menyusul ke depan untuk menyambut mereka.
"Mari masuk, Mas, Mbak," sapa Ibu dengan ramah. Bapak pun menjabat tangan ayah mertua dengan hangat.
"Maaf datangnya waktu Magrib begini, takut kemalaman pulangnya kalau shalat dulu. Jadi tadi shalat di jalan, biar nyampenya masih sore," jelas Ayah.
"Ngga pa-pa," sahut Bapak. "Kami baru saja mau makan. Sekalianlah kita makan malam bersama."
"Wah ... terimakasih!" jawab Ayah dengan antusias. "Jadi merepotkan kami ini."
"Ngga repot kok, Mas. Ayok, Mbak!" Ibu menggandeng tangan Bunda menuju meja makan.
Aku menyiapkan peralatan makan dan mangkuk cuci tangan. Tak lupa mengisi air untuk kami minum. Ayah dan Bunda sudah duduk dengan canggung.
"Mari, besan ... kita makan," ajak Bapak pada tamunya.
Aku dan Ridho tak berniat mengganggu nostalgia mereka. Bunda juga tak banyak bicara. Hanya mengangguk atau menjawab seadanya.
"Masakan kamu enak," ucap Bunda pada Ibu.
Pernyataannya cukup mengejutkan kami. Biasanya Bunda jarang berkomentar tentang orang lain. Wajah Ibu sedikit merona mendengar pujian dari Bunda.
__ADS_1
"Ah ... biasa aja, Mba. Cuma gulai dan semur gini, kok."
"Beneran!" ulang Bunda dengan semangat.
"Makasih, Mbak," sahut Ibu dengan malu-malu.
Bapak dan Ayah hanya tersenyum melihat istri mereka mulai akrab. Aku turut bersyukur melihat hubungan hangat yang terjalin. Ridho hanya diam, tapi dari raut wajahnya yang semringah, aku tahu dia juga bahagia.
Selesai makan malam, aku dan ibu membereskan meja dan piring bekas makan. Bapak mengajak yang lainnya mengobrol di ruang keluarga.
"Cie ... yang tadi dipuji masakannya ...." godaku.
Ibu tersenyum malu. "Kamu bisa aja. Ibu ngga nyangka kalau mertuamu bisa bicara begitu. Selama ini kesannya dia kaku pada orang baru."
Ibu terbahak. "Udah, ah! Ayo selesaikan kerjaan kamu. Takutnya mereka ga lama di sini."
"Siap, Ibu ratu! Silahkan mengobrol bersama tamu."
Ibu ikut-ikutan mengacung jempolnya. "Lanjutkan putri shaleha!"
Aku tertawa melihat tingkahnya. Walau sudah berumur, Ibu kadang bisa menempatkan diri sebagai teman dekat yang menyenangkan. Sepeninggal Ibu, aku segera menyelesaikan cucian piring.
"Kamu sehat, 'kan? tanya Bunda saat aku sudah duduk di dekat mereka. "Maksud Bunda, kandunganmu baik-baik saja?"
"Alhamdulillah, Bun. Cuma suka mual-mual aja."
__ADS_1
"Syukurlah. Biasa itu, ibu hamil rata-rata mengalaminya. Sudah periksa ke dokter?"
"Belum, Bun. Insya Allah minggu ini periksa," jawab Ridho.
Aku hanya mengangguk untuk mendukung jawaban Ridho. Ayah mertua tersenyum melihat putranya begitu semringah. Mungkin memahami perasaan Ridho karena pernah mengalaminya juga.
"Baguslah, Bunda doakan semoga calon bayi kalian sehat."
"Iya. Kamu jaga Reva baik-baik, Dho," tambah Ayah.
Ah ... ayah mertua memang perhatian orangnya. Aku menatapnya dengan pandangan terima kasih. Ibu juga terlihat kagum dengan sikap Ayah.
"Tenang aja, Yah."
"Kalau gitu, kami pamit dulu, ya. Takut ada apa-apa di jalan kalau terlalu malam pulangnya. Sebenarnya aku inginnya ke sini lusa pas libur, tapi Bundanya ga sabar lagi," kata ayah mertua.
"Buru-buru sekali, kawan?" sahut Bapak.
"Maklum sudah berumur gini, ga kuat dorong mobil."
Kami tertawa mendengar candaannya. Ayah dan Bunda menyalami Bapak dan Ibu. Aku dan Ridho mencium tangan mereka saat di teras. Kami pun melambaikan tangan saat mereka sudah di mobil.
Jangan lupa vote, like dan komen..❤❤
Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺
__ADS_1