
Udah, donk, ngambeknya! Mas jadi sedih, nih, dicuekin terus." Ridho meraihku dalam pelukan.
Aku berusaha menerbitkan senyuman di wajah. Ridho memelukku erat. Beberapa saat kami hanya diam, larut dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba suatu ide melintas dalam benakku.
"Coba ceritakan, kisah Mas waktu SMA dulu," pintaku.
"Buat apa, Sayang?" Wajah Ridho berubah pucat.
Aku kembali tersenyum. "Aku cuma pengen tau aja. Biar ga nebak-nebak sendiri kejadian saat Mas masih sama-sama Sinta dulu."
"Ngga usah ya ... ga penting juga. Lagian nanti kamu ngambek lagi," keluhnya.
"Ga, kok. Janji!"
"Beneran?" Terlihat raut sangsi di wajah Ridho.
"Iya. Buruan cerita!" ujarku mulai tak sabar.
"Kami awalnya cuma teman sekelas. Mulai dekat sejak beberapa kali naik angkot yang sama karena mas belum dibelikan motor pas baru masuk SMA."
Aku jadi membayangkan mereka duduk sebelahan di angkot. Tak sadar aku menggelengkan kepala. Berusaha mengusir pikiran jahat yang melintas di kepala.
"Kenapa?" tanya Ridho mengernyitkan dahi.
Aku tersadar dari lamunan. "Ngga, papa. Terus?"
"Lama-lama jadi agak dekat, kayak sahabatan gitulah jadinya."
"Tiap hari ngobrol gitu?" tanyaku sambil menahan gondok.
"Awalnya lumayan sering, tapi ga tiap hari juga. Mas kan juga punya teman lain di luar kelas. Punya kegiatan lain. Ikut ekskul juga."
Aku mengangguk paham. "Aku jadi pengen tau mas ikut ekskul apa. Tapi entar aja, deh!"
Ridho tersenyum geli melihat ekspresiku. "Pas semester dua, mas diajak teman ikut acara RISMA di sekolah. Jadinya agak berkurang waktu untuk kumpul sama anak kelas lagi."
"Maksudnya sama Sinta?" tanyaku dengan nada sedikit jutek.
"Ampun! Katanya tadi janji ga bakal ngambek lagi? Atau mas ga usah cerita aja, deh." Ridho terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Deh ... kenapa juga aku jadi cemburuan gini, sih?
Mendadak ingat aku sedang datang bulan. Sepertinya aku menjadi sensitif karena pengaruh dari mens juga. Kadang susah mengatur perasaan sendiri.
__ADS_1
Aku berusaha meredam rasa cemburu, lalu menghela napas. "Iya, iya ... lanjutin lagi!"
"Pas ada waktu kumpul, Sinta cerita udah pacaran sama Reno, teman satu kelas juga. Tapi kalau mereka jalan, Sinta kadang ajak mas juga."
"Yah, jadi obat nyamuk, donk!" selorohku.
Ridho terkekeh. "Ga nyangka istri mas tau juga istilah kayak gitu."
"Tau, lah! Pernah denger dari temen."
"Kirain pernah juga jadi obat nyamuk!" balasnya.
"Ih ... ga donk! Dibilang jarang keluar rumah juga." Aku mengerucutkan bibir karena sebal.
"Iya, deh ... yang anak rumahan. Karena kami memang sering kumpul di kelas, jadinya biasa aja jalan bertiga gitu."
"Hm ... aku masih belum nemu inti ceritanya."
"Inti apaan, Sayang? Jangan mulai mikir yang aneh-aneh, deh!"
"Ada kejadian yang ga biasa aja maksudnya. Pas pertama ketemu Sinta, kalau ga salah, Mas ada bilang dia pindah tiba-tiba."
"Oh ... sebenarnya mas kurang nyaman cerita masalah itu. Tapi ga papa, deh. Biar istri mas ini ga salah paham lagi." Ridho tersenyum sambil membelai pipiku.
Wajah Ridho berubah sendu sebelum bercerita. Matanya mulai menerawang, mungkin berusaha mengingat kejadian waktu itu. Aku jadi sedikit bergidik melihat ekspresinya. Hatiku jadi bertanya-tanya, kejadian apa yang membuat raut muka Ridho berubah sangat cepat?
"Dua bulan sebelum kenaikan kelas, ibu dan adiknya Sinta kecelakaan. Ibunya meninggal di tempat. Adiknya sempat dirawat, tapi meninggal juga seminggu kemudian."
"Astagfirullah!" Tanganku spontan menutup mulut karena sangat kaget dengan kisah Sinta. "Ya Allah, sedih banget pastinya Sinta ya, Mas?"
Sejenak aku ikut merasakan apa yang Sinta alami waktu itu. Pasti ujian itu sangat berat baginya. Apalagi saat itu dia masih remaja, jiwanya pasti sempat labil.
Aku yang baru pindah rumah beberapa hari saja sudah rindu pada Ibu. Tak bisa kubayangkan bagaimana Sinta harus melewati masa-masa itu. Entah mengapa, jadi timbul rasa iba pada Sinta di hatiku.
"Iya. Mas dan Reno berusaha ada di sampingnya, menguatkan Sinta karena dia benar-benar drop waktu itu. Bahkan, berhati-hari dia tak masuk sekolah, setelah pemakaman adiknya. Padahal sebentar lagi ujian semester."
"Reno sampai bingung dan meminta mas menasehati Sinta. Alasannya karena mas lebih paham agama sejak sering kumpul dengan anak RISMA. Padahal mas masih belajar juga. Masih sering bandel di kelas."
"Jadi gimana sikap mas?" tanyaku penasaran.
"Mas coba beberapa kali datang ke rumah Sinta. Terakhir kali ngajak teman RISMA yang memang udah gabung dan lebih paham agama dibndingkan mas yang baru ikut-ikutan."
"Sinta mau denger?"
__ADS_1
"Awalnya dia tetap bersikeras, tak punya semangat hidup lagi. Tapi dua hari kemudian, dia datang ke sekolah. Mungkin ada keluarganya juga yang menasehati Sinta."
"Oh ... terus, masalah pindahan itu?"
"Waktu libur kenaikan kelas, kami ga ketemu lagi. Mas sempat diajak orang tua berlibur ke rumah nenek di Palembang. Pas pulang ke sini, Reno main ke rumah. Dia cerita kalau Sinta sudah tak satu sekolah lagi dengan kami, diajak pulang kampung sama ayahnya. Biar ada keluarga yang nemenin pas ayahnya kerja atau lembur."
"Oh gitu ... mas sedih donk?" godaku.
Aku mulai sedikit memahami mengapa Sinta begitu semringah saat bertemu Ridho. Mungkin dia menganggap Ridho adalah orang yang begitu perhatian padanya. Mau menemani saat dia melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.
Sejujurnya yang aku tak mengerti, maksud kedatangan Sinta ke rumah kami dua hari ini. Sebegitu berartinya Ridho untuknya? Jangan-jangan waktu itu dia sempat mempunyai perasaan pada Ridho?
Ah, entahlah!
"Ng ... Mas ga pernah ngubungin Sinta pas dia udah pindah?"
"Ngga pernah. Waktu kelas satu mas belum punya HP."
"Masa?" tanyaku karena heran.
Orang tua Ridho dua-duanya bekerja. Rasanya tak mungkin anaknya belum punya HP waktu SMA. Aku saja sudah dibelikan HP saat kelas tiga SMP.
"Iya, Sayang ... mas beli HP udah kelas dua. Hasil nabung, kurangnya ditambah Ayah. Ga percaya juga?"
Aku menjadi semakin kagum pada Ridho. Dari remaja dia sudah belajar mandiri. Pantas saja di usianya yang masih muda, Ridho sudah mempunyai beberapa usaha.
"Mas kok gitu, sih? Aku kan cuma nanya."
Ridho terbahak. "Makanya, udahan ya, introgasinya ... udah kayak penjahat aja mas, untung yang nanya polisi cantik."
"Mas apaan, sih?" Tanpa diminta, wajahku mungkin sudah merona.
"Sekarang, giliran mas yang jadi polisi. Kamu harus jawab seluruh pertanyaan mas." Wajah Ridho berubah serius.
"Hah? Maksudnya?" Aku benar-benar tak mengerti ucapan Ridho.
"Mas mau introgasi seluruh tubuh kamu!" sahut Ridho, lalu tersenyum misterius.
Aaarrrgh! Tetap saja aku yang kalah pada akhirnya.
Jangan lupa like dan vote ya, Zheyenk 💕💕
Vote itu pake point yaa, ga bayar, kok. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan pointku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. ❤❤
__ADS_1