Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Ikhlas


__ADS_3

Setelah di USG kemarin, dokter menyatakan rahimku sudah bersih. Aku tak tahu harus bersyukur atau hanya lega mendengar penjelasan tersebut. Pernah mendengar dikuret itu rasanya sakit luar biasa, tak terbayang jika aku harus mengalaminya.


Sudah cukup rasanya sakit dengan cobaan dari-Nya harus kehilangan calon bayi yang sangat kami nanti. Kadang masih tak percaya kalau makhluk mungil itu tak ada lagi dalam rahimku. Sesekali aku masih menyentuh perut saat ingat tiga hari yang lalu kami masih bersama.


Berulang kali aku memohon ampun dan minta diberi kekuatan untuk menghadapi musibah ini. Terkadang tanpa disadari air mataku menetes. Ujian ini terasa berat. Namun, aku berusaha ikhlas menjalaninya.


"Kita harus ikhlas, Sayang," ucap Ridho saat mataku terlihat menerawang.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Bagaimanapun juga, aku harus kuat. Hidup harus kembali berjalan. Masih ada orang-orang yang aku sayangi di sekelilingku.


Sangat bersyukur mengingat dukungan orang tua dan mertua yang membantu menguatkan aku. Bunda yang awalnya terlihat kecewa perlahan bisa menerima kejadian ini, walau sikapnya tak sehangat beberapa hari yang lalu.


Ridho menggenggam jemariku erat saat aku memandang Bunda yang keluar dari ruangan. Aku hanya bisa berdoa di dalam hati, semoga Bunda tak berubah seperti dulu lagi. Tetap menerimaku apa adanya, walau belum bisa memberinya seorang cucu.


***


Dua hari dirawat di rumah sakit, siang ini aku diperbolehkan pulang. Ridho sedang keluar menebus resep yang diberikan dokter. Hanya ada Ibu yang sibuk mengemasi barang. Bapak tadi pagi datang sebentar mengantar Ibu, lalu pamit ke toko.


Bapak sempat menawari untuk menjemput kami selepas Zuhur, tapi Ridho tolak takut Bapak kelelahan. Akhirnya Bapak meninggalkan mobil di rumah sakit. Dia kembali ke rumah dengan menaiki angkot untuk mengambil motor.


Ayah dan Bunda hanya menjenguk tadi malam. Mereka berjanji akan berkunjung ke rumah Bapak sepulang dari kantor. Aku berusaha mengerti tentang kesibukan mereka. Apalagi kemaren Bunda sudah izin, Ayah pulang saat jam makan siang.


"Sudah ... jangan dipikirin terus. Ibu yakin suatu saat nanti, kalian akan diberi kepercayaan lagi."


Ucapan Ibu membuyarkanku dari lamunan. Entah mengapa, begitu sulit untuk melupakan tentang bayi yang hilang. Aku berusaha menerbitkan senyuman agar Ibu merasa tenang.


"Ridho lama ya, Bu?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin rame, jadi lama antre di apotek."


"Iya, ya. Kasihan Bapak jadinya naik angkot."


Aku kembali mencari bahan obrolan lain agar Ibu tak khawatir. Wanita kesayangan tersenyum lembut. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela. Langit tampak cerah.


"Ah ... ga papa. Ga terlalu jauh juga."


"Lumayan, Bu. Dua kali naik angkot. Coba tadi minta Bapak langsung ke toko aja. Biar sore nanti dijemput."


"Kamu ada-ada aja. Lebih baik mikirin kesehatan kamu sekarang. Bapak udah biasa kerja keras dari dulu."

__ADS_1


Justru itu yang membuatku semakin memikirkan Bapak. Dari dulu berkerja keras untuk kami. Sampai sebesar ini, aku belum bisa juga membahagiakannya. Bahkan, sekarang kembali membuat dia susah.


Aku menarik napas panjang. Berusaha mensugesti diri sendiri agar pikiranku menjadi lebih tenang. "Maaf ya, Bu. Jadi bikin kalian repot."


"Kamu ngomong apa sih? Udah jadi kewajiban setiap orang tua untuk mengurus anaknya."


Aku hanya tersenyum sekilas. Entah mengapa perasaanku jadi melow begini. Sepertinya masih terbawa kesedihan karena sudah kehilangan calon anak kami.


"Kamu udah hubungi pihak bimbel belum?" tanya Ibu tiba-tiba.


"Eh. Iya. Belum, Bu. Sore ini aku ada jadwal. Untung Ibu ingetin."


"Ya udah. Cepet telpon. Takut mereka nungguin."


Aku pun meraih gawai yang terletak di atas nakas. Dari kemarin aku tak berniat membuka benda pipih itu. Ada dua pesan baru di aplikasi hijau.


[Assalamuailaikum. Beb, kok ga online dua hari ini. Kamu apa kabar?]


Aku tersenyum membaca pesan dari Silvi. Setelah wisuda kami belum bertemu lagi. Hanya berkomunikasi lewat sosial media. Aku pun mengetik balasan untuknya.


[Waalaikumsalam. Aku lagi di rumah sakit, Neng.]


Pandanganku sedikit buram akibat ingat lagi penyebab sampai dirawat. Dengan sekuat tenaga aku menahan air mata agar tak keluar lagi. Kembali kuketik balasan pesan untuk Silvi.


[Aku keguguran.]


[Ya Allah. Astagfirullah. Kok ga ngabarin, Beb? Di rumah sakit mana?]


[Ga sempat, Neng. Agak drop akunya. Di Raflesya. Tapi ini udah mau pulang.]


[Iya. Aku ngerti. Tar sore aku ke rumah, ya. Ini masih di sekolah.]


[Ga papa. Ga usah buru-buru. Aku udah mendingan, kok.]


[Apaan! Dasar bebal! Tungguin aja di rumah.]


Lagi-lagi aku tersenyum membaca pesan Silvi. Sifat ceplas ceplosnya belum berubah. Mendadak ada rasa rindu akan sosok bawelnya.


"Kenapa senyum-senyum, gitu?" tanya Ibu.

__ADS_1


"Ini, Bu. Baca pesan dari Silvi. Tar sore mau ke rumah katanya."


"Silvi yang pernah ke rumah kita? Iya, udah lama dia ga main. Udah kerja, ya?"


"Iya, Bu. Dia ngajar di sekolah, jadi lebih sibuk."


"Ooh. Udah hubungi bimbelnya?"


"Astaga! Sampe lupa karena sibuk chat sama Silvi."


Ibu tersenyum melihat aku menepuk dahi. Aku kembali menatap layar gawai mencari kontak admin bimbel. Panggilanku diangkat saat nada hubung ke dua.


"Halo. Ada yang bisa dibantu?"


"Assalamualaikum. Ini Reva, Mbak. Aku ga bisa ngajar sore ini. Lagi sakit. Maaf, baru sempat ngabari."


"Waalaikumsalam. Wah, mendadak sekali ngasih taunya. Sakit apa, Mbak Reva?"


"Aku di rumah sakit, Mbak. Habis ... keguguran. Beneran ga ingat ngabarin kemarin." Dengan sekuat tenaga aku menahan suara agar terdengar tenang.


"Ya Allah. Sabar ya, Mbak. Nanti dicarikan guru pengganti. Semoga cepat sehat lagi."


"Aamiin. Makasih ya, Mbak. Maaf atas keteledoran aku."


"Iya. Ga papa, Mbak."


Aku memutuskan panggilan setelah mengucapkan salam. Ibu sudah selesai mengemasi barang bawaan yang akan dibawa pulang. Tak lama kemudian, Ridho kembali ke ruang perawatan.


"Udah siap pulang?" tanyanya padaku.


"Udah kok, Nak Ridho," jawab Ibu.


Ridho membawa barang-barang ke mobil terlebih dahulu. Setelahnya menuntunku berjalan ke mobil. Ibu menyusul di belakang kami, membawa sisa barang yang tak terbawa oleh Ridho.


Rumah sakit bercat merah bata ini cukup lengang. Mungkin karena kami keluar saat jam istirahat. Beberapa pasien yang masih menunggu antrian terlihat menonton TV atau berbincang dengan keluarganya.


Sesampai di mobil, Ridho menuntunku naik. Aku duduk di belakang bersama Ibu. Ridho melajukan mobil dengan pelan ke jalan raya. Tatapanku beralih ke luar jendela, mengamati pengguna jalan yang berlalu lalang. Pikiranku kembali mengenang masa-masa yang telah terlewati.


Ah ... rasanya baru kemarin kami melewati jalan ini untuk kontrol ke dokter kandungan.

__ADS_1


Terimakasih untuk teman-teman yang sudah vote 💕💕


__ADS_2