
Seperti janji tadi malam, aku ke sekolah pagi-pagi untuk menjemput Nisa dan anak-anak yang akan ikut lomba. Tepatnya mempersiapkan mereka. Nisa dan peserta lomba akan naik angkot yang sudah disewa pihak sekolah.
Sesampainya di kampus Reva, kampus kami juga dulunya, anak-anak diminta masuk ke salah satu ruangan. Panitia akan menjelaskan tentang sistem lomba dan aturan apa saja selama kegiatan berlangsung. Aku dan Nisa menunggu di luar ruangan.
Kami berbincang tentang kemungkinan anak-anak bisa lolos atau tidak. Ternyata cukup banyak peserta lomba yang mendaftar. Nisa terlihat antusias mengikuti kegiatan ini.
"Kalau lolos babak penyisihan, kapan tahap berikutnya?" tanya Nisa.
"Aku juga kurang tau, Nis. Waktu itu ga sempat nanya. Nanti pasti dijelasin sama anak-anak."
"Ooh. Ya udah. Aku mikirnya kasihan juga kalau tahap berikutnya hari ini juga. Pasti mereka lelah ikut lomba sampai sore." Sesekali Nisa melirik anak-anak yang berada dalam ruangan.
"Iya, sih. Mau gimana lagi kalau gitu aturannya." Aku menjawab seadanya.
"Semoga aja dilanjutin besok lagi," ujarnya.
Aku tak menanggapi ucapan Nisa. Anak-anak sudah keluar ruangan. Sepertinya lomba akan dimulai. Aku menghampiri mereka. Tahap pertama mereka diuji dengan pengetahuan umum tentang sains. Lomba dibuat dalam bentuk cerdas cermat.
Para guru diminta menemani anak-anak sementara panitia menyiapkan bahan lomba. Aula terasa sesak. Aku memilih duduk di luar, gantian dengan Nisa menemani anak-anak di dalam. Saat terdengar panggilan untuk grup dari sekolah kami, aku pun masuk lagi.
Anak-anak cukup jeli menjawab pertanyaan dari para juri. Walau tidak semua soal bisa dijawab, tapi aku yakin mereka masuk ke tahap berikutnya. Kusempatkan berdoa semoga mereka tetap semangat dan bisa menerima apapun hasil lomba.
Sementara menunggu pengumuman, aku keluar lagi. Ingin rasanya menghubungi Reva, tapi aku bingung harus bicara apa. Nomornya sudah kusimpan saat dia tidur.
Parah tuh, cewe! Sampai detik ini, tak ada niat meminta nomor hape-ku.
__ADS_1
Aku membuka galeri foto. Saat hari pernikahan, aku sempat meminta salah satu sepupuku mengambil foto kami. Reva terlihat tenang sebelum ijab kabul. Berbeda dengan beberapa teman atau keluarga yang sempat kuhadari acara pernikahannya. Mereka terlihat gugup dan gelisah.
Tunggu saja, Cantik ... aku akan berusaha bikin kamu punya rasa yang sama. Bahkan, jatuh cinta padaku suatu hari nanti.
Terdengar pengumuman dari mikrofon. Anak-anak dari sekolah kami masuk ke tahap berikutnya, mencari jejak. Aku dan Nisa diminta menunggu di sekitar aula saat mereka mengikuti lomba.
Hasilnya mereka kalah nilai dari peserta lainnya. Aku dan Nisa berusaha menghibur mereka. Syukurlah, anak-anak mengerti dan tidak terlalu bersedih karena tak mendapat juara.
Setelah melepas Nisa dan anak-anak naik angkot, aku pun melajukan motor untuk pulang. Tak sengaja mataku melihat ke arah kantin yang menyediakan mie ayam. Makanan kesukaan Reva. Apa aku beli saja, ya?
Saat melihat lebih jelas, betapa terkejutnya aku, di sana Reva duduk berhadapan dengan seorang lelaki. Dadaku terasa panas. Ingin rasanya menghampiri mereka.
Kutahan amarah yang siap meledak. Jika aku nekad mendatangi mereka, ada kemungkinan aku bertengkar dengan lelaki itu. Ingat kalau harus kembali ke sekolah, kubatalkan niatku.
***
Tiba di rumah, aku mengucapkan salam dengan tak semangat. Tak ada sahutan, tapi pintu terbuka. Aku bergegas masuk ke kamar kami. Ternyata Reva sedang di kamar mandi.
Aku duduk di kursi menunggunya keluar. Sepertinya Reva pura-pura tak melihatku. Sempat melintas tanya dalam benakku. Dia kenapa? Apakah perasaannya pada pria itu begitu besar sampai tak menggubris saat suami pulang kerja.
Setelah menyisir rambut, Reva melangkah menuju pintu. Aku tak dapat menahan diri untuk bertanya.
"Kamu kenapa?"
Reva tak menggubris pertanyaanku, tetap melanjutkan niatku keluar kamar. Nekda kuhadang tubuhnya sebelum mencapai pintu.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanyaku lagi.
"Kamu yang kenapa?" balasnya.
Aku mendekatkan padanya. Reva mundur perlahan, tapi tak kubiarkan dia lepas begitu saja. Tanganku bergerak mengunci pinggangnya.
"Lepasin!" bentaknya.
Aku bergeming, lalu merapatkan pelukan. Kuabaikan jantung yang berdetak tak karuan. Aku butuh penjelasan dari Reva.
"Jangan bikin aku penasaran," ucapku tepat di telinganya.
Reva berusaha melepaskan diri dariku. Aku semakin erat memeluknya. Sempat kutangkap rona merah di wajahnya.
"Lepas," ucap Reva pelan.
Aku mendekatkan wajah saat dia mendongak. Irama jantungku kembali bertalu-talu. Dia mencoba mendorong tubuhku, tapi sia-sia.
"Please ...." Reva memasang wajah memohon.
Sedetik kemudian bibirku sudah menempel di bibir Reva.
Jangan lupa vote, like dan komen..❤❤
Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺
__ADS_1