Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Kisah tak Terduga


__ADS_3

Sejak peristiwa kegagalan mendapat lontong sayur, Ridho semakin perhatian padaku. Sebelum berangkat kerja, dia sering membantuku membersihkan rumah. Sebenarnya aku sudah melarangnya, tapi Ridho tetap berkeras.


Minggu lalu, ibu Ridho memberi kabar kalau sudah menemukan saudara yang bisa membantu pekerjaan rumah. Aku merasa belum memerlukannya sekarang. Tunggu setelah aku melahirkan saja. Kehamilanku kali ini tak terlalu membuat lelah.


Aku mengambil gawai di meja. Beberapa hari ini aku senang sekali melihat-lihat pakaian dan pernak-pernik bayi. Rasanya ingin membeli semuanya sekarang. Tapi Ibu bilang tunggu usia kandunganku enam bulan nanti.


"Lagi ngapain, Yang?" Ridho meletakkan dagunya di bahuku.


"Lagi lihat pernak-pernik bayi. Lucu banget ya, Mas?"


Ridho mengelus puncak kepalaku. "Iya. Pesen aja mana yang kamu suka."


"Nanti aja, Mas. Masih kecepatan kalau beli sekarang."


"Gitu, ya? Gimana kalau kita jalan-jalan ke mall? Kamu bisa sentuh barangnya. Kamu lihat-lihat dulu, bulan depan baru kita beli sebagian aja."


Aku menimbang sejenak. "Boleh deh, Mas. Udah lama juga ga jalan ke sana."


"Ya udah. Buruan siap-siap. Mumpung masih pagi."


"Ok, deh."


Aku pun bergegas mengganti pakaian rumah dengan gamis motif bunga. Setelah berdandan minimalis, aku menghampiri Ridho yang menunggu di luar.


"Yuk, Mas!"


"Wah ... cantik banget Nyonya Ridho!"


Aku meringis menahan malu. "Mas bisa aja."


"Beneran, Sayang ...."


"Udah gombalnya, ah! Kita pergi sekarang."


"Siap!"


Ridho membantuku naik ke mobil. Kendaraan roda empat itu baru dibelinya. Dia rela menunda impian punya usaha di rumah karena kehamilanku. Agar kami lebih mudah kalau ingin pergi ke tempat yang jauh dari rumah.


Setibanya di pusat perbelanjaan, Ridho menggandeng tanganku masuk. Awalnya aku merasa kurang nyaman, apalagi beberapa orang yang berpapasan memandang kepo. Namun, ingat aku sedang hamil, sudah sewajarnya Ridho berbuat demikian pada istrinya.


Kami berkeliling sebentar, melihat jejeran berbagai barang yang dipajang. Saat melewati pakaian anak-anak, aku berhenti sejenak. Menatap penuh ingin tahu pada deretan pajangan itu.


"Kamu mau kita masuk?" tanya Ridho.


"Ah, ngga, Mas. Masih lama kalau nunggu segede itu."


Ridho tersenyum. "Pernah dengar ibu-ibu kadang cuma lihat-lihat boleh walau ga beli."


"Iya, sih. Tapi aneh ah, rasanya. Lihat dari luar aja, deh."

__ADS_1


Akhirnya kami hanya melewati toko pakaian anak. Masuk ke baby shop, aku hanya membeli pakaian untuk ibu hamil yang juga disediakan di sana.


"Lucu-lucu banget ya, Mas? Jadi ga sabar pengen bawa pulang."


"Iya, Sayang. Bulan depan kita ke sini lagi."


Aku hanya menjawab dengan anggukan. Ridho juga terlihat semringah saat menatap berbagai pernak pernik perlengkapan bayi. Puas melihat-lihat pakaian bayi, kami keluar dari toko.


Ridho mengajakku makan di foodcourt yang tersedia. Aku hanya memesan beberapa jenis roti dan minuman. Ridho juga belum lapar hanya memesan jus buah.


"Masih ada yang mau dibeli?"


"Kayaknya udah cukup, Mas. Bulan depan aja kita ke sini lagi."


"Baiklah, Nyonya Ridho!"


Aku terkekeh melihat kecerian Ridho. Suamiku terlihat makin bersemangat akhir-akhir ini. Semoga saja penantian kami tal berakhir pilu seperti sebelumnya.


"Kita pulang yuk, Mas!"


"Loh, cepet banget! Ga mau nonton dulu? Mumpung lagi di sini."


"Ngga, Mas. Belum minat. Pengen baring-baring di rumah."


"Udah cape, ya? Ya udah, kita pulang sekarang."


Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Kakiku memang sedikit sakit setelah berkeliling tadi. Mungkin karena terlalu bersemangat saat berjalan.


Kayaknya ga enak juga kalau lewat aja. Apalagi kalau dia lihat pas kami keluar nanti.


Kuputuskan untuk meminta pendapat Ridho juga. "Mas, itu Sinta, 'kan?"


Ridho menoleh pada orang yang kutunjuk dengan dagu. "Iya. Lagi belanja juga kali."


"Iya. Kita sapa yuk, Mas!"


"Hah?" Ridho terdiam beberapa saat. "Terserah kamu, deh."


Aku pun berjalan mendekati meja dua wanita yang sama cantiknya. Mereka terlihat asik mengobrol dan berhenti saat aku datang. Ridho menyusul langkahku dengan wajah enggan.


"Mbak Sinta!"


"Eh. Hei, Rev! Wah, lagi jalan-jalan, ya?"


"Iya. Mbak lagi belanja, ya?" Kulirik kantong belanjaan yang terletaknya di kursi samping Sinta.


"Hu'um. Buat persiapan lamaran," ucap Sinta sedikit malu-malu.


"O ya? Wah, selamat ya, Mbak. Kapan acaranya?"

__ADS_1


"Lamarannya minggu depan. Nikahannya insya Allah tiga bulan lagi rencana kami. Kalian datang nanti, ya." Sinta bicara dengan wajah ceria.


"Insya Allah ya, Mbak. Soalnya mungkin aku udah mau lahiran saat itu nanti."


"Oh, iya yah." Sinta menatap perutku yang mulai membuncit. Semoga lancar lahirannya nanti, ya. Sehat-sehat terus."


Tanpa sadar aku menyentuh perut. "Makasih ya, Mbak."


Ridho hanya diam menyimak obrolan kami. Entah apa yang dipikirkannya. Apa dia masih takut aku cemburu bila dia ramah pada Sinta?


"Never mind. Kalian udah mau pulang, ya?"


"Iya, Mbak. Btw, calon Mbak orang mana, nih?"


Ridho menyenggol lenganku. Sepertinya dia keberatan melihat kekepoanku. Sebenarnya aku tak biasanya peduli pada urusan orang. Entah mengapa aku jadi tertarik dan penasaran pada calon suami Sinta.


"Anak sini juga. Deva namanya."


"Deva?" Tiba-tiba sosok seseorang yang kukenal melintas di pikiran. "Deva Mahendra?"


Sinta sedikit mengernyitkan dahinya. "Iya. Kok kamu tau? Kenal?"


"Kalau memang dia, kenal. Kakak kelas aku pas SMA. Lagi ngambil S2 di kampusku dulu."


Sinta tertegun sejenak. Kulirik Ridho yang memasang wajah datar. Apa dia sudah benar-benar melupakan masalah Deva?


"Beneran orang yang sama kayaknya. Dia udah mau selesai. Wah, dunia sempit, ya Rencananya kami nikah nunggu dia wisuda nanti."


"Oh gitu. Semoga lancar prosesnya ya, Mbak," ucapku sungguh-sungguh.


Ridho kembali menyenggol lenganku. Aku menatapnya dengan pandangan sebal. Ridho mengedip matanya seolah memberi kode.


"Sin, kami duluan, ya. Semoga lancar persiapannya," ujar Ridho.


"Iya, Dho. Makasih."


Aku mengernyitkan dahi melihat tingkah Ridho. Tak biasanya dia cuek pada orang, apalagi Sinta. Padahal aku masih ingin bicara dengan wanita itu.


"Mas kenapa, sih, buru-buru banget?" tanyaku saat sudah di parkiran.


"Katanya tadi cape. Wajar mas ajak pulang."


"Beneran cuma karena itu?" tanyaku penasaran.


"Iya. Masa masih curigaan juga? Mas ajak nonton tadi ga mau. Jadi mas pikir kamu memang udah cape."


Aku menghela napas sedikit gusar. Perkataan Ridho memang benar adanya. Hanya saja aku belum sepenuhnya percaya kalau Ridho tak punya perasaan apa-apa pada wanita itu dulu.


"Ya, deh. Kita pulang."

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen, yes ❤❤


__ADS_2