
Sore ini kami diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dua puluh empat jam sudah berlalu, infus dan peralatan lain sudah dilepas satu jam yang lalu. Aku merasa lega karena sudah bisa bergerak bebas.
Dokter kandungan dan dokter anak sudah visit ke ruangan tadi pagi. Kondisi bayi kami bagus kata sang dokter saat memeriksanya. Baby Andra termasuk bayi yang tak terlalu rewel. Sempat kudengar bayi di kamar sebelah menangis tadi malam.
Saat dokter kandungan menanyakan kondisiku, aku jawab tak ada masalah. Tepatnya aku tak betah berlama-lama di rumah sakit. Ingin merawat bayi kami di rumah.
Aku sudah disarankan berlatih berjalan. Sembari menunggu Ridho mengurus administrasi, aku memutari ruangan. Perihnya perut jangan ditanya. Namun, aku harus kuat demi bayi kesayangan.
Sedikit terhuyung, aku berpegangan pada tepi ranjang. Aku menarik napas pelan untuk meneangkan diri. Ujian ini tak sebanding dengan karunia yang sudah Tuhan berikan selama ini.
"Hati-hati, donk! Jangan dipaksa, Nak. Kalau sakit, istirahat dulu," nasihat Ibu.
"Iya, Bu."
Aku pun duduk di tepi ranjang dengan hati-hati. Perjuanganku menjadi seorang ibu baru dimulai. Aku berusaha menyemangati diri sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja.
Terdengar tangisan bayiku. Ibu mengambilnya dari box, lalu menyerahkannya padaku. Tak terkira senangnya hati saat melihat bayi kami semangat menyusui. Kubelai rambut hitamnya sambil mendoakan kebaikan untuk buah hati kami.
Sehat-sehat ya, Sayang ....
Jadi anak shaleh ya, Nak.
Tumbuhlah menjadi anak yang kuat, cerdas, berguna bagi agama dan bangsa.
Kucium pipi dan keningnya setelah bayi kami tertidur lagi. Baby Andra sedikit menggeliat karena sentuhanku. Mulutnya sedikit terbuka karena mengantuk. Menggemaskan.
Sungguh sebuah keajaiban rasanya. Masih tak menyangka dia yang selama ini berada dalam rahimku. Bayi mungil yang kulitnya putih seperti Ridho, tetapi mewarisi bentuk wajahku.
"Sudah siap pulang?" tanya Ridho pada kami.
Sampai tak sadar ayah bayiku sudah kembali. Seketika wajah baby Andra mengalihkan duniaku. Ridho mendekat, lalu mencium wajah bayi kami.
Ibu yang sedang berkemas membalikkan badan. "Dikit lagi, Nak."
Bapak menunggu di luar. Ayah dan Bunda berjanji menyusul ke rumah setelah pulang kerja. Bunda masih ada pekerjaan di kantor.
"Anak Papa bobonya anteng banget, sih?" Ridho membelai rambut bayi kami. "Cepat besar, ya? Biar kita bisa main berdua nanti."
"Wah, aku ga diajakin main, nih?" tanyaku sambil pura-pura cemberut.
__ADS_1
Ridho terkekeh pelan. "Diajak ga, ya ... emang mau main bola?"
Aku hanya tersenyum menanggapi candaan Ridho. Sebenarnya ingin menjawab 'tunggu aja kalau punya anak perempuan nanti', tapi tak nyaman karena ada Ibu. Pasti Ridho tambah semangat menggodaku.
Kami sepakat tak memakai alat kontrasepsi. Menunda kehamilan selanjutnya dengan KB alami saja. Sengaja agar jarak baby Andra dan adiknya tak terlalu jauh. Semoga saja Tuhan kembali memberiku kesempatan mempunyai bayi lagi.
"Udah selesai semua urusan persiapan pulangnya, Mas?"
"Udah, kok. Minggu depan kita diminta datang lagi ke praktek dokter sini. Bulan depan jadwal bayinya kontrol."
"Iya, Mas. Bapak ada di depan, 'kan?"
"Ada, kok. Tadi ketemu di lorong, Bapak lagi ngobrol sama kenalannya yang lagi jenguk saudaranya."
Bapak datang ke rumah sakit satu jam yang lalu. Hanya Ibu yang menemani kami menginap tadi malam. Bapak kuminta pulang agar bisa istirahat di rumah. Pagi-pagi dia akan ke toko untuk mengecek karyawan sebentar.
"Oh gitu. Pantes ga kedengaran lagi suaranya."
Ridho hanya tersenyum. "Mas mulai angkatin barang ke mobil dulu, ya."
"Ok, Mas."
"Bu, Ridho ke bawah bentar, ya.".
Ridho hanya mengangguk, lalu ke luar dari ruangan. Aku melongok ke box bayi mengecek keadaan buah hati kami. Baby Andra tidur nyenyak setelah menyusu tadi.
"Anteng dia ya, Bu."
"Iya, Nak. Semoga aja gitu terus. Ado loh, bayi yang sering begadang malam."
"Rewel gitu, Bu?"
"Iya. Kamu dulu juga pernah." Pandangan Ibu terlihat menerawang. "Tapi ga setiap hari. Hanya sesekali aja."
"Masa, Bu? Nangis atau gimana?"
"Seingat ibu ngga nangis. Tapi suka ajak main malam-malam." Ibu menjawab sambil tersenyum.
Aku ikut membayangkan kerepotan Ibu saat mengurus bayi. Benar kata orang. Kita benar-benar menyadari pengorbanan orang tua, saat sudah mempunyai anak.
__ADS_1
"Duh ... pasti ngantuk banget."
Ibu kembali tersenyum. "Lumayan. Tapi untungnya Bapak mau bantuin ngurusin anak. Kadang ibu kasihan karena Bapak harus bekerja paginya. Ibu suruh tidur, tapi Bapak tetap semangat menemani Ibu begadang. Mungkin saking bahagianya karena sudah menunggu kelahiran kamu."
"Bapak memang ayah yang baik. Semoga Ridho gitu juga ya, Bu."
"Iya, Sayang ... Ridho sepertinya juga termasuk ayah yang baik."
"Aamiin."
Kami kembali melanjutkan cerita tentang masa-masa saat aku masih bayi dan balita. Beberapa menit berlalu, Ridho sudaj kembali bersama Bapak. Mereka mengambil sisa barang yang masih ada di ruangan.
Setelah semuanya siap, perawat menjemputku dengan kursi roda. Ibu membawa bayi kami dengan dekapan penuh kasih. Ridho belum berani menggendong baby Andra terlalu lama.
Perlahan mobil kami yang dikendarai Ridho keluar dari halaman rumah sakit. Bapak menyusul kami di belakang. Orang tuaku sempat menawari kami menginap dulu di rumah. Tapi aku tak ingin mengganggu istirahat Ibu. Biarlah mereka berkunjung ke rumah saat tak lelah lagi.
Baby Andra tampak gelisah dalam gendongan Ibu. Aku hanya terdiam, bingung harus melakukan apa. Belum terbiasa dengan kegiatan mengurus bayi.
"Susuin gih, Nak!" pinta Ibu.
"Di mobil gini, Bu?"
"Iya. Mau gimana lagi. Ibu ga bisa berdiri momongin dia."
"Tapi-"
"Ibu ngerti kamu masih risih. Ngga papa, kok. Tutupin aja pake jilbab."
Aku pun mengambil baby Andra dari dekapan Neneknya. Ibu menepuk-nepuk punggungnya pelan. Aku membuka kancing gamisku. Tenryata bayiku memang kehausan.
Setelah dia puas menyusu, aku menyerahkannya kembali pada Ibu. Luka di perutku masih sangat ngilu. Ridho menatap lewat kaca berusaha memberi semangat. Aku tersenyum membalas perhatiannya.
Di tengah perjalanan, mataku tertumbuk pada kafe kecil di pinggir jalan. Seseorang yang sepertinya kukenal duduk menghadap jalan. Di depannya ada seorang pria. Semakin dekat jarak mobil dengan kafe, wajah wanita itu semakin jelas.
Silvi? Sama siapa?
Kami sudah dua minggu tak bertemu. Berbalas pesan terakhir seminggu yang lalu. Akan tetapi Silvi tak pernah bercerita mengenai seorang laki-laki yang sedang dekat dengannya.
Saat mobil melewati kafe, aku berusaha fokus melihat wajah laki-laki itu dari samping. Sepertinya tak begitu asing. Beberapa sosok yang kukenal melintas di pikiran.
__ADS_1
Mungkinkah Silvi sudah punya pacar?
Jangan lupa like dan vote, Teman-teman ...😘