Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Sinta?


__ADS_3

"Aku cuma lagi badmood, Mas."


"Kamu cape? Maaf ya ... mas ga bisa nemenin kamu masak tadi. Belum bisa bantuin kamu beberes juga."


"Ga papa, Mas. Ga banyak juga yang dimasakin."


"Tetep aja. Kamu semua yang ngurusin kerjaan rumah."


"Santai aja, Mas. Aku kan udah biasa. Lagian aku ngerti Mas banyak kerjaan. Jadi ga perlu repot nolongin kerjaan rumah. Kecuali-" Aku tak jadi meneruskan kata-kata yang hampir terlontar.


"Kecuali apa?" Ridho mengernyitkan dahinya.


Sebenarnya aku hampir mengatakan kalau perlu bantuan Ridho saat kami sudah punya bayi nanti. Namun, lidahku mendadak kelu. Tak ingin memberi harapan palsu pada Ridho.


"Ah, ngga. Maksudku kalau aku sedang kurang sehat."


"Oh ... .kalau kamu sakit, tentu mas yang ambil alih kerjaan. Kalau lauk tinggal beli. Mas ga bisa masak," sahut Ridho sambil terkekeh.


Aku ikut tertawa mendengar pengakuannya. Ternyata ada juga sesuatu yang suamiku tak bida kerjakan. Selama ini dia sosok yang begitu sempurna bagiku.


"Okesiip!" Aku berusaha biasa saja mendengar pengakuannya.


Ridho tampak tertegun sejenak. "Oh iya, mas baru ingat kamu lagi mens. Itu yang bikin kamu badmood, ya?"


Aku hanya mengangguk pelan. Tak ingin memperpanjang masalah pagi ini. Kasihan juga, kalau Ridho harus mendengar keluhanku sebelum berangkat kerja.


Sebenarnya aku ingin pamit ke rumah Ibu. Setidaknya ada teman bicara di sana. Namun, aku merasa tak enak pada Ridho, kami baru saja dua hari pindah. Biarlah, aku mencari kesibukan di rumah siang nanti.


"Mas pesanin TV mau? Biar kamu bisa nonton dan ga rumah ga terlalu sepi."


Aku berpikir sejenak. "Boleh, deh. Tapi apa ga terlalu banyak pengeluaran kita bulan ini, mas? Nanti rencana bikin usaha mas jadi tertunda."


"Ngga papa. Bisa bulan depan bikin bangunannya. Beli sofanya pas mas libur aja, ya. Biar kamu bisa ikut dan milih bentuk yang kamu suka."


"Iya, Mas. Makasih, ya."


Seketika terbit rasa haru di hatiku. Rasa kesal yang sempat bersarang kemaren mulai berkurang. Aku tersenyum tulus sebagai tanda terima kasih.


"Gitu, donk! Kan cantik kalo senyum. Ga enak lihat mukanya ditekuk kayak tadi."


"Iya, maaf ...." Aku berusaha ikhlas untuk mengalah kali ini.

__ADS_1


Ridho menghabiskan makanannya dengan cepat. Aku pun menjadi lebih semangat menyuap nasi. Kami saling menatap dan tersenyum.


***


Seperti janjinya, Ridho benar-benar memesan Televisi siang ini. Bedanya dengan kulkas kemaren, dia sendiri yang mengantarnya ke rumah. Aku sedikit terkejut saat mendengar suara Ridho mengucapkan salam.


"Kok mas yang bawa? Kan bisa minta yang punya antar kayak kulkas," tanyaku heran.


"Ngga papa. Biar bisa sekalian pasang. Mas ga tenang nyuru orang yang masuk dan urusin."


Walaupun membenarkan pendapat Ridho, aku tetap tak enak hati melihat dia repot mengurus kebutuhan istrinya. "Kan bisa pas Mas pulang pasanginnya."


"Kelamaan. Mas beli TV biar kamu ga kesepian hari ini."


Aku hanya menghela napas. Begitulah watak Ridho. Bila sudah memutuskan sesuatu, susah dibantah lagi.


"Memangnya mas ada kerjaan di luar lagi?"


"Ngga. Mas izin bentar karena lagi jam kosong," jawabnya sambil terkekeh.


"Dasar! Bisa-bisanya kamu diizinkan, Mas."


"Namanya juga perjuangan demi cinta ... pasti dimudahkan," sahutnya.


Dalam hati aku senang mendengar kata-kata Ridho. Ternyata kedatangan Sinta tak membuatnya berubah. Semoga saja untuk selamanya.


Ridho bergerak cepat memasang TV dan antena. Sesekali aku membantu saat melihat dia kerepotan. Lima belas menit, TV dengan antena darurat sudah terpasang. Ridho berjanji akan memperbaiki posisinya saat pulang kerjaa nanti.


"Mas pergi lagi, ya?"


"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."


"Ok, Sayang!"


Ridho mencium keningku sebelum keluar dari rumah. Aku menutup pintu setelah mobil keluar dari halaman rumah. Benar juga. Suasana rumah lebih hidup dengan adanya suara televisi.


Aku mencari-cari acara yang menarik untuk ditonton. Berhenti memencet remot saat tayangan kartun upin ipin terlihat. Sebenarnya aku tak terlalu paham, tapi pernah mendengar cerita teman-teman yang menyukai mereka.


Ternyata lumayan menghibur walau tokohnya masih anak-anak. Beberapa kali aku terpingkal melihat ulah mereka. Tak sia-sia perjuangan Ridho pulang ke rumah tadi.


Nada pesan gawaiku berbunyi. Satu pesan dari Ridho terbaca. Dia terpaksa pulang sore karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

__ADS_1


[Ga papa, Mas. Pasti gara-gara izin tadi, ya?]


[Ga usah mikir yang aneh-aneh ... mas kerja lagi, ya.]


Emoticon love dan pelukan disematkan di ujung pesannya. Aku menghela napas. Sepertinya Ridho memang mendapat tambahan pekerjaan karena berusaha menyenangkan aku.


***


Pukul empat sore, aku keluar rumah untuk membeli gula dan teh. Ingin menghabiskan waktu di teras dengan segelas teh panas sambil menunggu Ridho pulang. Kemarin lupa saat belanja ke minimarket. Untung ada warung yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah.


"Permisi, Bu. Aku mau beli gula sama teh."


"Berapa, Neng?"


"Sekilo aja, Bu. Tehnya sekotak."


"Neng yang baru pindah dua hari yang lalu, ya?" tanya pemilik warung sambil menyerahkan bungkusan padaku.


"Bener, Bu."


"Baru nikah ya, Neng? Masih muda wajahnya."


"Iya, Bu."


Aku berusaha menjawab sesopan mungkin. Sebenarnya aku kurang suka dengan pertanyaan yang terlalu pribadi. Hanya saja, tak ingin membuat tetangga menilaiku sombong kalau menghindar. Apalagi ini pertama kali aku bicara dengannya.


"Main-main ke sini, kalau sepi di rumah, Neng. Suaminya pulang kerja udah sore, 'kan?".


"Iya, Bu. Kapan-kapan aku main."


"Ibu tunggu, ya. Ibu juga suka kesepian. Suami ibu pulang sudah sore. Anak sulung ibu sedang kuliah di pulau lain. Yang nomor dua kelas tiga SMP, mulai sibuk les untuk persiapan ujian."


Aku mencoba tersenyum ramah. Tak menyangka si ibu serius dengan tawarannya. Sampai bercerita tentang kondisi anak-anaknya. Awalnya aku sempat mengira dia hanya basa-basi ala tetangga baru.


Tiba-tiba aku teringat dengan Ibu di rumah. Pasti dia juga sedang sendiri dan kesepian. Besok aku akan pamit pada Ridho untuk mengunjunginya.


"Insya Allah, Bu. Saya pamit dulu, ya."


"Iya, Neng," sahutnya tersenyum ramah.


Sesampainya di rumah, aku langsung menyeduh teh dan membawanya ke teras. Ridho belum juga kelihatan batang hidungnya. Tak mengirim pesan juga.

__ADS_1


Sejuknya udara membuatku semakin semangat menikmati teh yang tak terlalu manis. Sebenarnya langit tak terlalu cerah, mulai mendung tepatnya. Sedikit khawatir pada Ridho. Dia tadi sempat bilang kalau tak terlalu sibuk, sore ini akan mengembalikan mobil Ayah.


Kuletakkan kembali cangkir yang isinya tinggal setengah ke meja. Saat mengangkat kepala, sosok yang sangat enggan kulihat berdiri di halaman rumah. Matanya seperti sedang mencari sosok yang tak ada di sampingku.


__ADS_2