
Selama Reva diurut, aku mengistirahatkan tubuh di ranjang. Kupasang headset di telinga untuk mendengar musik. Sengaja dengan volume pelan supaya tahu saat Reva kembali ke kamar.
Setengah jam kemudian, terdengar pintu didorong. Aku bangkit dari ranjang dan melepas headset saat melihat Reva masuk. "Udah urutnya?"
Dia hanya menganggukkan kepala, mengambil baju ganti, lalu masuk ke kamar mandi. Aku memejamkan mata berusaha bersabar dengan sikapnya. Lima belas menit di kamar mandi, Reva keluar. Saat dia menyisir rambut di depan cermin, aku mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Jangan diamkan aku!" Bisikku di telinganya.
Pandangan mata kami bertemu di cermin. Aku membalikkan tubuh Reva agar kami berhadapan. "Kita pulang sekarang ya?" tanyaku selembut mungkin.
"Iya," jawabnya.
"Motor kamu titip di sini dulu."
"Tapi-"
"Besok bareng aku ke kampus. Pulangnya aku jemput."
Jujur, aku belum percaya sepenuhnya pada Reva. Tepatnya takut dia berpaling dariku. Syukurlah dia tak membantah lagi ucapanku.
Hari mulai senja. Aku mengajak Reva untuk bersiap pulang ke rumah Ayah. Kami pun pamit pada Ibu mertua.
***
__ADS_1
Setibanya di rumah, Ayah dan Bunda sedang duduk di teras rumah. Kami pun mengucapkan salam.
"Kalian dari mana? Udah mau Magrib baru pulang," tanya Ibu setelah menjawab salam kami.
Aku tak enak hati karena suaranya terdengar sinis. Terutama saat mengucapkan kalimat ke dua. Kulirik Reva dengan ekor mata.
"Dari rumah Bapak, Bun. Tadi Reva ambil beberapa berkas di sana."
"Ooh," jawab Ibu singkat.
"Sekalian urut lagi, biar lebih enakan bekas jatuh kemarin," tambahku.
"Udah baikan, Nak?" tanya Ayah.
"Alhamdulillah udah mendingan, Yah," jawabku.
Aku senang melihat Ayah perhatian pada Reva. Setidaknya bisa menghibur hatinya setelah melihat sikap Bunda. Hanya bisa berharap suatu hari Bunda bisa menerima Reva sepenuhnya.
Aku mengantar Reva sampai ke dalam kamar. Inginku peluk tubuhnya, tapi sebentar lagi adzan Magrib. Aku pun mandi, lalu pamit pergi ke masjid.
***
Setelah makan malam, kami berkumpul di ruang keluarga. Aku menghidupkan TV. Sedang tayang acara yang menampilkan tujuh bayi paling lucu.
__ADS_1
Bibirku melengkungkan senyuman saat melihat tingkah bayi yang lucu. Benar-benar membuat gemas. Apakah suatu hari nanti kami akan dikaruniai seorang anak?
Kulirik Reva yang menepuk dahinya. "Kenapa?" bisikku.
"Hah?" Dia terlihat gugup.
"Mikirin apa?" tanyaku lagi.
"Ng-ga."
"Kalian belum program punya anak?" tanya Bunda tiba-tiba.
Reva tersenyum canggung. Aku menahan diri agar tak terpancing dengan ucapan Bunda.
"Bun, ngapain bahas masalah gitu?" tegur Ayah.
"Yah ... Bunda 'kan, cuma nanya. Wajarlah, Bunda juga pengen punya cucu."
"Mereka baru menikah. Biarin aja saling kenal dulu. Pacaran setelah menikah gitu istilahnya."
Reva tersenyum malu mendengar kata-kata Ayah. Aku merasa beruntung memiliki Ayah. Selalu berusaha mengerti keadaan anak dan menantunya.
Tak lama adzan Isya berkumandang. Reva pamit ke kamar untuk shalat. Aku dan Ayah pergi ke masjid dengan mengendarai motor.
__ADS_1
Usai berdoa untuk orang tua dan kebahagiaan rumah tangga kami, aku tertegun. Teringat kembali pembicaraan kami tadi. Bolehkah aku berharap mempunyai seorang bayi sekarang?
Aku menghela napas. Rasanya terlalu egois untuk meminta hal itu pada Reva. Aku akan bersabar menunggu hingga dia selesai mengurus skripsi. Ya, Reva juga berhak merasakan indahnya wisuda sebelum mempunyai anak.