
Hari ini kami memutuskan untuk berkunjung ke rumah mertua. Sepulang kerja, Ridho bergegas mandi dan bersiap. Aku sudah rapi dengan gamis maroon dan jilbab senada.
Rencananya kami akan menginap karena besok Ridho libur. Aku menyetujui usulnya karena sudah lama tak berkunjung. Aku pun memasukkan beberapa stel pakaian untuk besok.
Saat keluar kamar, Bapak baru saja pulang. Aku dan Ridho menghampiri Bapak di teras. Kami pun pamit pada Bapak dan Ibu.
"Kalian hati-hati di jalan, ya," pesan Ibu.
"Iya, Bu," jawabku.
"Salam sama ayahmu, Dho," ujar Bapak.
"Baik, Pak."
Setelah mencium tangan Bapak dan Ibu, kami pun meluncur ke jalan raya. Bapak sempat menawari untuk membawa mobilnya. Namun, Ridho menolak. Takut Bapak ada keperluan untuk toko besok.
Aku berusaha tenang duduk di boncengan. Sebenarnya sedikit gugup karena ini pertama kalinya kami pergi agak jauh dari rumah sejak aku hamil. Ridho menggenggam erat tanganku yang memeluk pinggangnya. Sepertinya dia juga khawatir.
Kubalas genggaman tangannya untuk menandai kalau aku baik-baik saja. Sempat kulirik spion dan melihat Ridho tersenyum. Kami tak banyak bicara selama di perjalanan.
Setibanya di rumah mertua, kami memgucapkan salam. Ayah dan Bunda sedang duduk santai di depan rumah. Bunda langsung berdiri, tampak terkejut dengan kedatangan kami.
"Kok, ga bilang-bilang mau ke sini?"
"Biar surprise, Bun!" jawab Ridho asal.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kami sengaja tak memberi kabar, takut tak jadi berkunjung. Sudah dua kali membuat rencana, tapi gagal karena kondisi tubuhku tak mendukung.
"Ya udah. Kalian langsung masuk. Ga baik Reva di luar udah Magrib," sahut Bunda.
Ayah tersenyum mendengar ucapan Bunda. Aku juga sedikit terkejut dengan perhatiannya kali ini. Mungkinkah Bunda sudah berubah?
Dalam hati aku berharap, semoga Bunda benar-benar sudah menerimaku sepenuhnya sekarang. Walaupun hal itu mungkin disebabkan karena aku mengandung calon cucunya, aku tetap merasa bahagia. Selama ini aku selalu khawatir salah bersikap di depan Bunda.
"Iya. Ayah ke masjid dulu, ya. Kamu temani Reva aja dulu, Dho," ujar Ayah.
"Iya, Yah."
Tak lama kemudian, adzan Magrib berkumandang. Kami shalat jamaah bertiga dengan Bunda di ruang keluarga. Aku sempat menitikkan air mata saat mendengar doa Ridho untuk keluarga kami. Bunda memelukku setelah kami selesai shalat.
Ridho tersenyum melihat kedekatan kami. Aku pun mengangguk pelan sebagai jawaban. Benar-benar tak menyangka kalau sikap Bunda sudah jauh berubah dari terakhir kami menginap di sini.
__ADS_1
Saat membantu Bunda untuk menyiapkan makan malam, Ayah pulang dari masjid. Bunda menggoreng ikan nila untuk menambah lauk. Harumnya membuat air liurku terbit.
Satu minggu ini, mualku semakin berkurang. Selera makan mulai membaik walau belum sebanyak sebelum hamil. Setidaknya dalam sehari aku sudah bisa menghabiskan dua piring nasi dan lauk.
Kata orang anaknya laki-laki kalau suka makan daging-dagingan. Aku tersenyum semringah saat mendengarnya karena memang mengharapkan bayi laki-laki. Sebenarnya aku juga makan sayur walau hanya sedikit jumlahnya.
"Nah, udah selesai. Ayo, kita makan!" ajak Bunda.
Aku pun mengambil piring dan mengisi gelas dengan air putih. Ayah terlihat bahagia dengan kehadiran kami. Tak henti-hentinya dia menggoda Ridho yang akan menjadi seorang ayah.
Aku berhasil menghabiskan sepiring nasi, sepotong ikan dan sesendok sayur. Ridho tersenyum melihatku berselera makan. Sempat kulirik Bunda juga terlihat semringah.
Usai makan malam, aku dan Ridho pamit untuk beristirahat di kamar. Ayah dan Bunda sepertinya juga lelah, jadi tak mengajak kami mengobrol. Saat makan Bunda bercerita kalau sore tadi mereka pergi ke acara arisan keluarga.
Ridho menuntunku untuk berbaring di ranjang. Setelah itu, tangannya bergerak memijit lenganku. "Kamu cape?" tanyanya.
"Ga terlalu, kok." Aku mencegah tangannya yang akan bergerak memijat kaki. "Seharusnya aku yang pijitin Mas."
"Ngga papa. Mas mau kamu merasa relaks. Pasti pegal lama di motor. Hari ini lumayan jauh kita jalannya."
Bibirku melengkungkan senyuman. Membiarkan Ridho melakukan apa yang dia inginkan. Tak lama kemudian adzan Isya berkumandang.
"Mas ke masjid dulu, ya."
Setelah merasa baikan, aku juga keluar mengambil wudhu. Bunda tak terlihat di ruang keluarga, mungkin sedang shalat di kamar. Kembali ke kamar, aku pun melaksanakan shalat Isya.
Usai shalat, aku kembali membaringkan tubuh di ranjang. Entah mengapa aku merasa lelah dan mengantuk. Perlahan mataku mulai terpejam. Sempat merasakan seseorang menyelimuti, tapi mata enggan lagi terbuka.
***
Setelah shalat subuh, aku pergi ke belakang untuk membantu Bunda memasak. Namun, dapur terlihat sepi. Aku pun kembali ke kamar. Tak lama kemudian, Ridho pulang dari masjid.
"Kok Bunda ga masak?" tanyaku.
"Hari libur Bunda jarang masak. Biasanya kami beli sayur masak atau cari makan di luar. Kalaupun masak udah agak siang."
"Ooh, gitu. Apa aku masak sendiri?"
"Ga usah. Nanti kamu kecapean. Tunggu Bunda aja. Kalau ga masak nanti Mas beli makanan."
"Iya, deh."
__ADS_1
Kami pun kembali berbaring dan bercengkrama sampai pagi. Saat jarum jam menunjuk ke angka enam, aku dan Ridho keluar dari kamar. Bunda membersihkan ruang tamu. Aku pun mendekat padanya.
"Aku bantu ya, Bun?"
"Biar Bunda aja. Kamu duduk di sana dulu." Bunda menunjuk sofa yang sudah selesai dibersihkan debunya.
Aku pun mengangguk dan menuruti kata-kata Bunda. Kulihat Ayah sedang mencuci mobil di halaman. Ridho mendekat untuk membantunya.
"Kata Ridho kalau libur kadang ga masak ya, Bun?"
"Iya. Seringnya beli. Tapi kalau kamu selera makan sesuatu, nanti Bunda masakin."
"Ga sih, Bun. Kirain masak juga tapi siangan."
"Bahan-bahan di kulkas lagi habis. Habis nyuci rencananya mau ke pasar dekat sini."
"Aku ikut ya, Bun. Udah lama ga ke pasar."
"Kalau kamu ga cape, boleh aja."
"Ah, ga ngapa-ngapain juga."
"Ya udah. Kamu mandi dan siap-siap duluan. Bunda mau selesaikan cucian, terus jemur baju."
"Iya, Bun."
Aku pun kembali ke kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti. Usai mandi dan berpakaian, aku kembali ke kamar. Saat sedang menyisir rambut, Ridho datang mendekat.
"Pagi-pagi udah wangi," katanya sambil mencium rambutku. "Mau kemana?"
"Pergi ke pasar sama Bunda. Ga papa, ya?"
"Iya. Tapi janji harus hati-hati jalannya."
"Siap, Tuan Ridho!" candaku.
Ridho tertawa, lalu mencubit pipiku. "Ya udah. Aku mandi dulu, ya. Udah basah bajunya."
"Iya. Lagian udah bau!"
"Masa?" tanyanya sambil mencium kerah bajunya. "Bau keringat gini aja."
__ADS_1
Aku terbahak melihat tingkahnya. "Aku bercanda, kok."
"Dasar nakal!" Ridho menggelitik pinggangku.