Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Hadiah


__ADS_3

Aku terkejut melihat sosok Sinta di depan pintu. Wanita itu tersenyum ramah padaku. Aku pun mempersilahkannya masuk.


"Maaf ganggu kamu istirahat."


"Ngga papa, Mbak. Ada perlu apa?"


"Sebentar lagi aku berangkat ke luar kota. Aku cuma mau kasih ini buat kalian."


"Ini apa, Mbak?" tanyaku sedikit heran dengan sikap Sinta.


"Anggap ini hadiah pernikahan kalian. Aku belum pernah kasih apa-apa buat kebaikan Ridho dulu sebagai tanda terima kasih."


Aku tersenyum tulus. "Harusnya Mbak ga perlu repot. Mas Ridho juga pasti ga mengharapkan balasan apa-apa."


"Ngga papa, Rev. Kamu jangan salah paham, ya. Aku cuma pengen ngasi hadiah aja."


Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk. Aku menerima bungkusan yang diberikan Sinta, lalu meletakkannya di meja. Wanita cantik itu pun pamit. Aku mengantarkannya sampai ke depan rumah.


Sedikit terkejut melihat Ridho sudah pulang secepat ini. Sinta membatalkan niatnya menghidupkan mesin motor. Saat Ridho turun dari motornya, masuk kendaraan lain ke halaman rumah.


"Tumben pulangnya cepet banget, Mas?" tanyaku heran.


"Pulang bentar aja. Ada berkas yang mau diambil buat dikasi ke temen," sahut Ridho sambil menunjukkan dagu ke laki-laki di sebelahnya.


"Ooh. Silahkan masuk, Mas!" sapaku pada teman Ridho.


"Di sini aja, Mbak. Saya juga lagi buru-buru."


"Ya udah, deh."


"Dho!" sapa Sinta setelah hening beberapa saat.


Ridho menoleh sejenak pada Sinta. "Kamu ga kerja, Sin?"


"Aku udah mau berangkat. Lagi muatin barang ke mobil. Pamit, ya. Terima kasih atas kebaikan kamu."


"Santai aja, Sin."


"Temen lu, Bro?" tanya teman Ridho.


"Iya. Kenalin, ini Sinta."


"Aku Pandu."


Laki-laki itu mengulurkan tangan pada Sinta. Mereka pun berjabat tangan sebentar. Sinta kembali pamit dan benar-benar menghilang dari hadapan kami.


"Cantik, Bro!" Pandu kembali bicara setelah Sinta pergi.


"Ah, elu! Kagak bisa lihat yang bening dikit. Tunggu bentar, ya. Gua ambil dulu berkasnya."


"Siip."


Aku pun mengikuti langkah Ridho masuk ke dalam rumah. "Temen mas belum nikah?"

__ADS_1


"Belum. Kenapa emangnya?"


"kalau dijodohin sama Sinta gimana? Cocok ga?"


"Kamu ada-ada aja. Ngapain juga sibuk jodohin orang. Ga terlalu dekat juga sama mereka."


"Kali aja mereka berjodoh, Mas."


"Udah, ah! Ga usah aneh-aneh. Kalau memang mereka jodoh, ada aja jalannya nanti."


"Ya, deh. Itu temen kerja, Mas?"


"Bukan. Tapi rencananya mau kerja sama. Mau bikin usaha yang lebih gede. Kalau bisa digabungin aja beberapa usaha di satu tempat."


"Wah ... keren!"


"Siapa yang keren?" tanya Ridho dengan raut curiga.


"Suamiku donk! Ada-ada aja ide bisnisnya."


Ridho tersenyum semringah. "Udah makin pinter ngomongnya, ya? Ide sama-sama itu."


Aku mengedipkan mata. "Iya, donk!"


"Kenapa matanya?" tanya Ridho dengan nada usil. "Mas cuma pulang bentar ini."


Aku mengernyitkan dahi. "Apa juga hubungannya?"


"Kirain ngajakin dinas siang!"


Ridho mengerucutkan bibirnya. "Kali aja dapat bonus!"


"Cepetan keluar! Sebelum pikiran Mas jadi tambah aneh."


Aku mendorong tubuhnya pelan sambil tertawa. Ridho membalikkan tubuhnya, lalu memelukku. Aku yang agak terkejut langsung roboh dalam dekapannya.


"Ceria banget istri shaleha. "Ridho mengecup keningku. "Mas pergi dulu, ya."


Aku menatapnya penuh kasih, lalu tersenyum. "Ok, Mas. Hati-hati, ya. Jangan lirik sana sini!" ujarku.


Ridho mencubit pipiku dengan gemas. "Apaan!"


Kami pun keluar rumah lagi. Teman Ridho masih berdiri di halaman sambil menatap sekeliling. Dia pun pamit setelah menerima berkas dari Ridho.


Setelah Ridho juga berlalu dari halaman rumah, aku baru teringat bungkusan yang diberikan Sinta. Aku pun membawanya ke dalam, lalu membukanya. Ternyata isinya dua helai baju kaus couple.


Aku tersenyum, lalu teringat pertemuan terakhir kami. Tak menyangka kalau Sinta mau repot-repot membeli hadiah untukku dan Ridho. Dengan tulus aku mendoakan agar Sinta bisa bertemu dengan seorang pria yang baik.


Setelah menyimpan kado yang diberikan Sinta, aku meraih gawai di meja. Tiba-tiba saja ingat dengan Silvi. Sahabatku yang belum juga menemukan jodohnya. Kami belum bertemu lagi setelah menjenguk Deva.


[Assalamualaikum. Kamu sehat aja, Sil?]


[Waalaikumsalam. Alhamdulillah, Beb. Besok jadi datang nikahan?]

__ADS_1


[Deh ... hampir lupa. Belum aku tanya lagi sama Ridho. Tar malam aku WA lagi, ya.]


[Ya, deh. Kabarin kalo bisa pergi, barengan aja.]


[Siip. Eh, Kak Deva gimana keadaannya?]


[Alhamdulillah udah pulang, Rev. Aku pengen jenguk lagi kemaren, tapi WA Kak Deva dulu.]


[Oh. Syukur, deh. Sampai ketemu besok, ya. Insya Allah.]


[Ok, Beb.]


Aku pun membuka aplikasi Facebook untuk melihat barang di online shop. Ingin mencari kado untuk teman yang menikah. Rata-rata pengiriman barang paling cepat tiga hari. Mau titip Silvi, tapi takut merepotkan.


Cari di toko dekat sini aja, deh. Suntuk juga di rumah aja.


Aku meletakkan gawai kembali ke meja. Jarum jam di dinding menunjuk ke angka dua belas siang. Aku mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Zuhur. Setelah berpakaian rapi, aku menghidupkan mesin motor.


Kulajukan motor dengan pelan ke jalan raya. Udara cukup panas dan menyengat. Untung ada toko barang pecah belah yang letaknya tak jauh dari rumah kami.


Aku pun menghentikan motor di halaman toko. Pilihanku jatuh pada satu set perlengkapan gelas yang cantik untuk tamu. Aku meminta pegawai toko untuk membungkusnya.


Di tengah jalan sebelum pulang, pandanganku tertumbuk pada kedai pecel lele. Gambar iklan di spanduk seakan memanggilku untuk berhenti. Sepertinya menu makanan di situ enak.


Aku kembali memarkir motor. Memesan pecel lele dan segelas jus segar. Tak butuh waktu lama, makanan yang disediakan sudah berpindah ke dalam perutku. Setelah membayar sejumlah uang, aku pun pulang ke rumah.


***


Ketukan pintu dan ucapan salam membangunkanku dari lelap. Tanpa sadar aku tertidur di depan TV. Sepulang dari membeli kado tadi, aku hanya ingin beristirahat sejenak. Untung aku sempat mengunci pintu.


Aku pun mengucek mata berusaha menghilangkan kantuk. Beranjak perlahan membuka pintu. Wajah tampan dan tubub tegap Ridho berdiri di teras.


"Kamu lagi tidur, ya?" tanyanya setelah kami masuk.


"Iya, Mas. Tadi ketiduran habis keluar rumah."


"Belanja, ya? Kamu cape?" Ridho membelai rambutku.


"Ga, kok. Cuma beli kado aja deket sini."


"Kado? Buat siapa?"


"Itu loh, temenku yang mau nikah besok. Mas ada kerjaan, ga?"


"Oh yang kemaren kamu bilang. Ga ada, kok. Jam berapa acaranya?"


"Siang, Mas. Silvi dan yang lain ngajak barengan. Pake motor aja katanya, rame-rame."


"Motor? Kamu ga takut masuk angin? Lebih satu jam jalan ke sana."


"Ngga papa ya, Mas ... sesekali seru-seruan sama temen."


Ridho berpikir sejenak. "Ya udah. Pake jaket yang tebal tapi, ya."

__ADS_1


"Siap, Pak!" Aku tersenyum semringah.


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote 😍


__ADS_2