
Sinta itu ... mantan Mas?"
Akhirnya rasa penasaran mengalahkan ketakutanku untuk mendengar penjelasan Ridho. Apapun kisah yang terjadi di antara mereka dulu, toh sekarang kami sudah menjadi suami istri. Aku berusaha percaya pada Ridho untuk saat ini.
Ridho tersenyum lembut, lalu menggeleng. "Bukan. Dia malah punya pacar waktu itu. Kami ... semacam sahabat saat kelas satu SMA."
"O ya?" Aku cukup terkejut mendengar pengakuan Ridho.
"Iya. Makanya kamu ga usah berpikiran yang macam-macam."
"Aku lihat ... kalian sepertinya sangat dekat dulu."
"Namanya sahabat, jadi lumayan sering sama-sama."
"Oh gitu. Tapi ...." Aku tak jadi melanjutkan kata-kata yang sempat terpikir.
Sebenarnya aku belum puas dengan penjelasan Ridho. Sepertinya masih ada hal yang tak dia ceritakan, tepatnya sengaja Ridho sembunyikan. Namun, aku juga tak ingin memaksanya bicara.
"Tapi apa?" Ridho mengernyitkan dahi menantiku bicara.
"Ah, ngga papa. Mas ada kerjaan? Aku tidur duluan, ya. Ngantuk."
Aku tak sepenuhnya berbohong. Tadi siang tak sempat tidur karena harus bersiap sebelum pergi bersama Ridho. Sekarang aku merasa lelah dan ingin tidur, sekalian bisa menghindar dari Ridho.
"Ga ada. Cuma mau nyiapin bahan buat ngajar besok bentar."
"Ya udah. Kalau cape, jangan dipaksain kerjanya. Besok subuh lanjutin."
"Iya ... good night istri mas sayang," ucapnya, lalu mengecup keningku.
***
Usai shalat Subuh, aku beranjak ke daur untuk membantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Kulihat Ibu tengah menanak nasi. Beliau tersenyum saat melihatku datang.
"Udah enakan?" tanya Ibu.
"Maksud Ibu?" Aku mengernyit heran.
"Pulang dari lihat rumah, mukanya malah ditekuk."
Aku jadi ingat kejadian kemaren. Ternyata Ibu masih penasaran dengan sikapku yang berbeda dari biasanya. Aku berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ibu.
"Suntuk aja, Bu. Ridho sibuk sendiri di sana."
"Masa?" tanya Ibu dengan nada usil. Gimana perkembangan rumah kalian?"
"Udah setengahnya selesai, Bu. Kata Ridho, mungkin minggu depan kami bisa pindah."
"Alhamdulillah kalau gitu."
__ADS_1
"Mau masak apa, Bu?"
"Kamu selera makan apa? Biar Ibu masakin."
"Sesekali aku yang masakin buat Ibu, sih."
"Kan kalian bentar lagi pindah, ga bisa makan masakan ibu lagi."
"Justru itu ... hari ini gantian, aku yang manjain Ibu."
"Aiih ... Mbak shalehah bisa aja. Baiklah, bikinin ibu sambal tempe teri, deh."
"Cuma itu? Kecil!" sahutku setengah menyombongkan diri.
Ibu terkekeh melihat tingkahku. "Ya udah. Ibu isi air buat nyuci dulu."
"Ok. Nanti biar aku yang nyuci. Ibu santai aja hari ini."
"Okesiip!"
Gantian aku yang tertawa melihat gaya Ibu bicara. Kembali terselip rasa nelangsa di hati. Saat pindah nanti, bakal jarang mendengar celoteh Ibu lagi.
Ah, Ibu ... rasanya baru kemarin aku bermanja-manja di pangkuanmu.
Sepeninggal Ibu, aku sibuk menyiapkan sarapan dan lauk hari ini. Sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakan sejenak masalah yang mengganggu pikiran. Setidaknya sampai aku siap mendengar cerita yang masih Ridho sembunyikan.
Pukul setengah tujuh, pekerjaanku di dapur selesai. Tinggal menjemur baju dan membersihkan rumah. Ibu keluar lagi untuk menyapu bagian depan rumah.
"Gimana rumah kalian, Nak?" tanya Bapak pada Ridho.
"Bagian depannya udah, Pak. Tinggal selesain dapur sama kamar."
"Cepat juga, ya?"
"Alhamdulillah, Pak. Insya Allah minggu depan kami bisa pindah. Nanti mau izin pinjam mobil Bapak buat angkut beberapa barang."
"Tenang aja, nanti Bapak ikut antar, kok. Nak Ridho pinjam mobil Ayahnya juga kalau memang dibutuhkan."
"Terima kasih, Pak. Rencananya memang mau minta tolong Ayah juga. Lihat dulu nanti repot atau ngganya."
Bapak hanya mengangguk pelan. Ridho mulai menyendokkan makanan. Aku hanya menemani sebentar, lalu mengambil peralatan mengepel rumah. Ibu sedang membersihkan debu-debu di sekitar lemari. Selesai membersihkan rumah, aku mencuci tangan karena Ridho sudah siap berangkat kerja.
"Mas pergi dulu, ya."
"Iya. Hati-hati di jalan, Mas."
Ridho hanya mengangguk, lalu mencium keningku. Setelah mengantar dia ke teras, aku kembali ke belakang untuk menyelesaikan sisa pekerjaan. Pukul delapan, akhirnya semua pekerjaan selesai. Aku kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Baru akan mengambil handuk, gawaiku berbunyi. Aku membatalkan niat ke kamar mandi. Terdapat pesan dari Silvi.
__ADS_1
[Beb, Stefi lagi di sini. Dia ngajak ketemu hari ini. Bisa?]
[Tumben Stefi ke sini? Kalian ketemu di mana?]
[Kemaren kami ketemu di acara sekolah gitu. Katanya dia nginap tempat saudara. Mau ajak kumpul bentar sebelum pulang nanti sore.]
[Boleh, deh. Aku juga suntuk di rumah. Ajak yang lain, Sil, siapa tau ada yang bisa datang.]
[Siip. Biar aku coba hubungi yang lain nanti.]
Pas sekali waktunya. Tadinya aku mau keluar sendiri kalau Silvi tak menghubungi. Aku pun mengirim pesan pada Ridho untuk meminta izin.
[Assalamuailaikum. Mas, Silvi ngajak ketemu hari ini. Ada temen sekelas dulu datang pengen kumpul. Boleh?]
Kutunggu beberapa menit tak ada balasan. Sepertinya Ridho masih sibuk atau sedang mengajar. Aku memutuskan untuk mandi terlebih dulu.
Usai mandi, aku memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi. Terdengar bunyi nada pesan, aku kembali meraih gawai di meja. Sudah ada balasan dari Ridho.
[Boleh, Sayang. Jam berapa perginya?]
[Siang kayaknya. Stefi sore udah mau pulang.]
[Ok. Hati-hati perginya. Jangan ngebut bawa motor.]
[Iya, Mas. Makasih.]
[🤗😘]
Aku terpana melihat emoticon dari Ridho. Sudah lama dia tak mengirim pesan seperti itu. Aku mengembalikan gawai ke meja, memakai pakain rumah, lalu keluar kamar untuk mencari Ibu. Wanita kesayangan juga baru keluar dari kamar.
"Udah makan, Bu? Bapak mana?"
"Ini baru mau makan. Bapak udah pergi. Toko lagi rame.""
"Bapak ga makan?"
"Ibu bawain bekal tadi. Buru-buru soalnya."
Aku pun mengambil piring untuk kami berdua dan mengisinya dengan nasi dan lauk. Ibu makan dengan lahap. Aku tersenyum melihat wanita kesayangan semangat menghabiskan lauk yang aku masak.
"Ibu kayaknya bakal nyusul Bapak ke toko nanti. Kamu jangan lupa kunci pintu kalau tidur."
"Aku juga mau pergi sama temen, Bu. Biar aku antar Ibu sekalian."
"Sama siapa? Deket toko kita?"
"Silvi dan yang lain juga. Belum tau di mana tempat ketemunya, nanti mereka kabarin lagi. Ngga papa, aku antar Ibu dulu. Paling ga jauh juga dari sana."
"Ya udah kalau gitu. Ibu siap-siap dulu," ucap Ibu setelah menghabiskan makanan di piring.
__ADS_1
"Iya, Bu. Aku juga mau ganti baju habis ini."
Setelah membereskan meja makan, aku kembali ke kamar. Mengganti pakaianku dengan rok motif bunga dan kemeja berwarna putih. Aku menyapu bedak ke pipi dan memoles lipstik berwarna merah muda. Terakhir menutupi rambut dengan jilbab berwarna toska, senada dengan motif bunga yang terlukis di rok.