Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Ridho 7


__ADS_3

Sepulang dari shalat Magrib di masjid, aku bertemu dengan Bapak yang baru tiba di rumah. "Bapak kemalaman dari toko?" tanyaku.


"Ngga. Habis lihat saudara yang sakit."


"Siapa, Pak?"


"Nanti Bapak cerita. Sebaiknya kita masuk dulu."


Aku mengangguk paham dan menuruti permintaan Bapak. Kami pun mengucap salam secara bersamaan. Terdengar jawaban pelan dari dalam, tak lama pintu dibuka.


"Gimana tadi, Pak?" tanya Ibu.


"Alhamdulillah ga parah, Bu. Cuma perlu rawat inap malam ini. Besok atau lusa mungkin sudah boleh pulang."


"Syukurlah, Ibu takut kenapa-kenapa. Tadi dadanya sesak sekali kelihatannya."


"Dia 'kan dulu perokok berat, sekarang baru terasa akibatnya."


Aku hanya diam menyimak pembicaraan mereka. Berusaha memahami apa yang terjadi pada saudara Bapak. Tadi tak sempat berbincang dengan Ibu atau bertanya pada Reva.


"Ya udah. Sekarang kita makan dulu," ujar Ibu.


Kami pun melangkah menuju dapur. Kulihat Reva memotong timun untuk mengganti sayur yang sudah habis. Untuk urusan dapur, istriku pantas diajungi jempol. Walau anak semata wayang, dia tak manja seperti wanita lain yang sempat kukenal.


Selesai makan, aku mengikuti Bapak duduk di teras. Kami kembali melanjutkan pembicaraan tentang saudaranya yang sakit. Aku turut prihatin dan mendoakan kesembuhan untuk paman jauh Reva. Tak lama adzan Isya berkumandang. Kami pun segera berangkat ke masjid dekat rumah.


Sepulang dari masjid, aku langsung kembali ke kamar. Reva terlihat asyik dengan buku bacaan di tangannya. Sampai tak menyadari aku sudah masuk. Aku pun mendekat untuk mengetahui buku apa yang dia baca.


"Baca novel?"


Dia menoleh sekilas tapi tak menjawab pertanyaanku. Matanya kembali fokus ke tulisan dalam novel. Aku merasa sedikit kesal dan berniat mengganggunya. Kuraih novel yang sedang ia baca.


"Paan, sih?" Reva mendelikkan matanya, mungkin merasa terganggu.


"Serius amat bacanya!"


"Balikin!" ucapnya galak.


Aku semakin tertantang untuk mendekat, bahkan ingin menyentuhnya. Dengan cepat memberi kecupan singkat di bibirnya. Reva refleks menutup mulut saat aku menarik wajahnya. Dia menjauh dengan menghentakkan kaki, lalu melangkah menuju ranjang.


Wanita ini benar-benar membuatku frustasi. Kutarik tangannya sampai berbalik lagi. Sekarang posisi kami saling berhadapan.


"Kamu menggemaskan!" ucapku.


"Menyebalkan!" balasnya.


"Kamu marah?"

__ADS_1


"Ngga! Kamu bebas ngapain aja. Termasuk ngobrol mesra sama cewe lain."


Hah? Dia ngomong apa, sih?


Aku berpikir keras, berusaha menebak apa yang Reva bicarakan. Sepertinya dia melihat aku dan Nisa mengobrol saat di kampus.


"Kamu cemburu?" Bibirku melengkungkan senyuman.


"Ngga. Ngapain aku cem-"


Kuletakkan telunjuk di bibirnya, lalu meraih Reva dalam pelukan. Benar-benar tak menyangka, istriku bisa berubah sikapnya saat melihatku bersama wanita lain. Salahkah bila berharap dia sudah mempunyai perasaan untukku?


Reva hanya diam. Entah apa yang dia pikirkan. Aku pun tak perduli. Cukup bahagia setelah mengetahui dia tak seacuh yang aku pikirkan.


"Aku ga ada apa-apa sama dia. Nisa teman kerja. Kami tadi lagi bahas tentang anak-anak yang sedang lomba," jelasku, tanpa dia minta.


"Aku ga lihat ada anak-anak." Reva mengangkat wajahnya dan menatapku.


"Ada. Mereka lagi di ruangan, panitia lagi jelasin cara kerja lomba."


Dia menyipitkan mata. Sepertinya sedang mengira-ngira aku berkata jujur atau tidak. Rasa senangku berubah menjadi kesal.


"Kamu ga percaya?" Aku menatap tajam padanya.


Reva menundukkan kepala. Kuangkat dagunya agar kami kembali bertatapan. Sekarang giliranku bertanya padanya.


Reva terlihat terkejut mendengar pertanyaanku. Mulai menyadari kalau aku melihat dia dan pria itu sedang makan bersama.


"A-ku awalnya ga sama dia, kok. Tadi ke sana sama Silvi." Jawabannya terdengar terbata.


"Silvi?" Sengaja aku bertanya dengan nada penuh tekanan.


"I-ya. Dia pulang duluan. Kak Deva baru datang pas aku mau pulang." Walau berusaha tenang, tetap saja suaranya terdengar gemetar.


"Iyakah?" Aku menyipitkan mata.


Reva menganggukkan kepala, lalu berusaha melepaskan diri dariku. Aku sengaja menahan tubuhnya. Bahkan memeluknya lebih erat.


"Sekarang lepas," ucapnya.


"Ngga!"


"Ridho...." Reva memberi tatapan memohon.


Lagi-lagi dia hanya memanggil nama. Sepertinya Reva perlu dipaksa mengubah panggilannya padaku. Aku berpikir cepat untuk memutuskan tentang masalah ini.


"Mas!"

__ADS_1


Dahi Reva terlihat mengernyit. Perlahan dia menggelengkan kepala. Aku menjadi penasaran, apa yang sedang dia pikirkan?


"Kenapa?"


"Ng-ga."


Baiklah! Sekarang waktunya, Bro!


Perlahan aku mendekatkan wajah kami. Reva terlihat menutup matanya. Apakah dia gugup?


Aku tersenyum melihat tingkahnya. Kucium kening wanita yang telah halal untuk disentuh. Wanita yang akhir-akhir selalu berada dalam pikiran. Reva membuka mata, wajahnya terlihat merona.


Cantik!


Bibirku kembali melengkungkan senyuman. Mataku terasa enggan berpaling dari wajahnya. Reva juga menatapku tanpa berkedip.


"Mulai sekarang panggil aku, Mas ya." Aku mengulang lagi permintaan yang sama.


"Hah?" Reva nampaknya belum fokus.


"Ga enak dengar kamu panggil nama gitu."


"I-ya."


Reva tertegun sejenak saat aku memeluknya erat. Perlahan dia mulai membalas pelukanku. Rasa hangat menjalar hingga ke hati.


Aku pun menuntunnya perlahan menuju ranjang. Membaringkan tubuh Reva, lalu membelai rambutnya. Aku berusaha menahan debar jantung yang kian meronta. Berusaha melakukan semuanya tanpa terburu nafsu. Malam ini akan menjadi hal yang pertama untuk kami.


Aku kembali tersenyum, mencoba membuat Reva nyaman. Aku mendekat padanya perlahan, lalu mengecup kedua mata Reva. Istriku terlihat canggung dengan pipi yang semakin merona.


Mencoba menggunakan insting lelakiku agar malam ini berjalan sebagaimana harusnya. Reva sudah sah menjadi istriku. Aku harus mampu memberi nafkah batin untuknya.


Tanganku bergerak perlahan menelusuri lekuk tubuhnya. Aku kembali mengecup bibirnya. Reva hanya diam, tak merespon ciumanku, mungkin dia benar-benar belum mengerti tentang hubungan suami istri.


Kusapu setiap sudut bibirnya dengan lembut, menikmati ranumnya. Reva mulai membalas ciumanku. Setelahnya, wanita berwajah manis itu memejamkan mata, kutebak dia merasa malu.


Kubuka kancing piyamanya membuat wajah Reva berubah memerah. Dia mengerjapkan mata dan memandangku sejenak. Aku mengangguk untuk meyakinkannya.


Berhasil membuat Reva merasa nyaman, aku bergerak dengan pelan untuk menyatukan tubuh kami. Kulihat Reva menggigit bibir ketika bagian tubuhku masuk ke dalam dirinya. Sakitkah?


Kembali kukecup bibirnya saat mendengar rintihan kecil Reva. Tubuhnya mulai merespon gerakanku, tak sekaku awal tadi. Aku berusaha membuatnya tak merasa takut dengan hal yang akan kami lalukan.


Sabar, Risho! Ini yang pertama untuknya. Tentu saja kamu harus memikirkan perasaannya.


Kusentuh setiap bagian tubuhnya yang bisa dijangkau dengan lembut. Malam pertama terlewati dengan sempurna. Aku merasa begitu bahagia dan bersyukur. Kuakhiri hubungan kami dengan ciuman lembut di kening, pipi dan bibirnya.


Kayaknya masih ada yang belum ngerti cara vote.😊😊

__ADS_1


Vote itu pake point yaa, bukan like. Tapi ga bayar, kok. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan pointku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. ❤❤


__ADS_2