Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Curhat


__ADS_3

Pukul sepuluh, aku keluar dari kamar. Ibu sedang menutup jendela dan pintu belakang. Aku pun ke garasi untuk memanaskan mesin motor. Kembali ke kamar, aku mengambil tas. Terdengar nada pesan berbunyi.


[Ketemuan setengah dua belas di Bakso Pak Min katanya, Beb.]


[Ok. Ini aku udah mau OTW. Antar Ibu ke toko dulu.]


[Siip. Jangan kangen ya, kalau aku agak telat. Aku ngajar sampe jam dua belas. Tungguin aku yes.]


[Ish! Kepedean!]


[BTW, siapa aja yang bisa datang?]


[Haha. Aku udah WA dua teman kita yang lain. Tapi belum konfirm jadi datang atau ngga.]


[Oh gitu. Ya udah. Jangan kelamaan datangnya, aku tinggal pulang tar!]


[Ye ... udah jadi bini orang masih suka ambekan!]


Aku tertawa melihat emot benda bulat menjulurkan lidah dan menepuk kening yang ditambahkan Silvi di akhir pesan. Wanita mungil itu masih ekspresif seperti dulu. Jadi penasaran kabar terbaru darinya.


[Biarin!]


Silvi tak membalas lagi pesanku. Ada tugas mengajar lagi mungkin. Aku pun memasukkan gawai ke dalam tas, lalu kembali ke depan. Ibu sudah duduk di kursi teras.


"Udah siap pergi, Bu?"


"Udah donk! Kamu kunci pintunya, tuh. Kamu ga lupa bawa kunci cadangan, 'kan?"


"Iya, Ibuku sayang ... ada dalam tas, kok."


"Ok. Kita pergi sekarang."


Aku pun melajukan motor ke jalan raya dengan pelan. Takut Ibu protes kalau tahu aku kadang sedikit ngebut. Jalanan masih lengang karena anak sekolah belum pulang.


Jam sebelas kami tiba di toko. Bapak sedang sibuk melayani pembeli yang membayar belanja. Dua karyawan lain menemani pengunjung yang sedang memilih pakaian.


"Rame ya, Bu? Apa aku bantuin juga?"


"Gitulah suasananya kalau menjelang puasa. Ngga papa, kan kamu ada janji sama temen."


"Telat dikit ga masalah kayaknya," jawabku sambil tersenyum. "Ibu gantiin Bapak dulu, biar dia bisa istirahat bentar."


"Baiklah Mbak shaleha!" jawab Ibu sambil terkekeh.


Aku pun segera membantu pegawai melayani pembeli. Tak lupa mengirim pesan pada Silvi kalau aku juga agak telat datang. Ibu segera mengganti posisi Bapak sebagai kasir. Cinta pertamaku menghabiskan sisa makanan yang baru sempat dimakan setengah.

__ADS_1


Pukul dua belas kurang lima belas menit, aku pamit pada Bapak dan Ibu. Tak enak hati juga pada Stefi membuat dia terlalu lama menunggu. Lima menit di jalan, aku tiba di tempat yang dijanjikan.


"Reva!" Stefi melambaikan tangannya saat Aku masuk ke kedai bakso.


"Hai! Kamu sehat?"


"Alhamdulillah. Kamu tambah cantik aja, Rev?"


"Masa, sih?" tanyaku sedikit malu dengan pujian Stefi.


"Beneran. Lebih fresh gitu. Iya kan, Ren?" Stefi meminta pendapat Reni, teman dekatnya saat kami kuliah dulu.


"Hu'um. Efek bahagia itu," sahut Reni.


"Deh ... makasih, makasih!" Aku menangkup kedua tangan sambil beraksi layaknya artis.


Mereka berdua terbahak. "Lebay, ah!"


"Habisnya kalian bikin aku GR aja. Kalian juga makin fresh, nih. Enak kerja, ya? Ga kek aku, kadang suntuk di rumah."


"Lumayan. Seru bareng anak-anak di sekolah," jawab Stefi. "Loh, bukannya kamu kerja di bimbel, Silvi kemarin cerita."


"Ga lagi. Habis aku ... keguguran waktu itu." Sekuat hati aku mencoba terlihat tegar menceritakan peristiwa beberapa bulan yang lalu.


"Maaf ya ... kami ga tau. Kamu sabar ya ...." hibur Reni.


"Aamiin. Ga papa. Aku memang sengaja ga ngasi tau banyak orang," sahutku sambil tersenyum.


"Kamu masih di bank itu, Ren?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Masih, Say. Aku kurang suka ngajar. Salah jurusan keknya," jawab Reni sambil terkekeh.


"Apaan!" protes Stefi.


"Iya, nih. Bukan salah jurusan. Takdir aja yang beda," ingatku.


Reni tersenyum malu. "Iya, iya. Becanda aja aku tuh. Pada serius amat, sih! BTW, si Silvi mana, nih?"


Kami tertawa melihat tingkah Reni. Saat ingin kembali menggodanya, Silvi datang. Wanita cantik itu tersenyum semringah pada kami.


"Hai hai! Udah lama?"


"Udah jamuran, kali" sahut Stefi.


"Masa? Mana jamurnya?" tanya Silvi sok imut.

__ADS_1


Stefi mengerucutkan bibir. "Heleh! Sok emesh!"


Silvi terbahak. "Iye. Maaf. Kan udah bilang, ngajar dulu. Ini dicepetin selesainya."


"Iya, Neng. Becanda, kok," Stefi tertawa senang.


"Kamu udah ga lelet lagi donk bawa motornya?" godaku.


"Udah lumayan, lah!" sahutnya bangga.


Silvi memesan bakso dan minuman sesuai pesanan masing-masing orang. Kami pun kembali terlibat dalam obrolan seru. Beberapa saat kemudian, pesanan datang. Kami makam sambil sesekali bercerita tentang hal yang lucu saat kuliah dulu.


Tak terasa lebih satu jam kami menghabiskan waktu. Stefi pun pamit karena harus sudah di rumah sebelum mobil travel menjemput. Kami mengangguk paham, memeluknya sebelum pergi.


Selepas Stefi dan Reni pulang, aku dan Silvi masih berbincang. Rasanya masih kangen saat-saat bersama waktu kuliah dulu. Kami memutuskan mengobrol setengah jam lagi sebelum berpisah.


"Kamu gimana sama Deva?" tanyaku penasaran.


"Oh iya. Minggu kemaren kami tukaran nomor pas ketemu di kampus. Dia ada perlu ke sekolah tempatku ngajar. Ada rencana penelitian untuk tugas di sana."


"Cie ... akhirnya bisa chatingan!" godaku. "Ga cerita-cerita, sih?"


"Belum sempat, beb. Maklumlah, lagi banyak koreksian. Kan baru minggu kemaren juga!"


"Iya, deh. Jadi, gimana?"


"Gimana apanya? Masih temen biasa, kok."


"Wah ... berarti ada kemungkinan jadi temen luar biasa!" Aku semakin semangat menggoda Silvi.


Silvi tersenyum malu. "Ga tau, lah! Doain aja kami berjodoh," sahutnya malu-malu.


Aku tertawa melihat ekspresi wajah Silvi. "Maunya! Pokoknya aku doain kamu dapet jodoh yang shaleh, yang ganteng, yang tajir!" ucapku tulus.


"Makasih ya, Beb."


Obrolan tentang Deva pun berlanjut.Silvi antusias sekali menceritakan pertemuan dan acara berbalas pesan mereka. Sempat terselip harapan semoga mereka memang berjodoh.


"Kamu sendiri gimana sama Ridho?"


"Alhamdulillah baik-baik aja. Ridho udah beli rumah. Insya Allah minggu depan kami pindah. Kamu main nanti ya, kalau kami udah di sana."


"Wah ... selamat ya! Insya Allah kapan-kapan aku main. Daerah mana?" Silvi menanggapi dengan semrimgah. "Tapi ... kok kamu kayak ga semangat gitu?"


"Ng ... kemaren kami ke sana lihat perkembangan renovasi. Pas mau pulang, tiba-tiba ada cewe yang nyamperin. Nyapa Ridho ramah banget. Mana cantik, lagi!"

__ADS_1


Akhirnya aku tak tahan lagi memendam sendiri kegelisahan yang bersemayam di hati. Silvi mungkin orang yang tepat untukku bertukar pikiran. Kami sudah lama bersahabat, jarang ada rahasia di antara aku dan Silvi.


Aku kurang nyaman kalau bercerita pada Ibu, takut Ibu kurang simpati lagi pada Ridho. Apalagi aku belum dengar cerita lengkapnya. Silvi sempat tertegun beberapa saat sebelum menanggapi ceritaku.


__ADS_2