Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Saling Memaafkan


__ADS_3

Tak terasa bulan Ramadhan sudah hampir terlewati. Hari ini puasa terakhir, aku berusaha menguatkan diri. Selalu ada perasaan sedih saat bulan yang penuh berkah akan segera berlalu.


Ibu membuat kolak pisang untuk menu berbuka. Perjuanganku tadi terasa terbayarkan. Aku menikmati makanan manis itu dengan lahap.


"Pelan-pelan makannya, Yang," tegur Ridho.


Aku tersenyum malu, apalagi mendengar panggilan Ridho di depan Bapak dan Ibu. Sulit merubahnya lagi alasan suamiku. Ibu ikut mengulum senyum.


"Iya, tuh. Nanti tersedak." Bapak juga mengingatkan.


"Iya, Pak." Aku pun memperlambat suapan.


Alhamdulillah, walau dalam keadaan hamil, aku diberikan kekuatan untuk ikut puasa. Hanya dua hari batal karena aku sempat demam. Itu pun karena Ridho yang meminta aku tak berpuasa dulu.


Besok hari kemenangan akan tiba. Aku dan Ridho sengaja menginap di rumah Bapak. Setelah berbuka puasa dan shalat Magrib, kami langsung masuk ke kamar. Saling mengucap maaf, mengingat momen demi momen selama kami menikah.


Air mataku sempat menetes ketika kami mengingat calon bayi yang tak bisa dipeluk. Ridho membelai rambutku dengan lembut.


"Maaf ya, Mas ... kalau sikapku pernah menyakiti hati Mas. Terutama saat sedang hamil ini." Kucium tangan Ridho.


"Sama-sama, Sayang ... mas ga mikirin kalau sikap kamu pas hamil. Maafin mas kalau belum bisa membahagiakan kamu, ya." Ridho meraih tangan, lalu mengecup jari manis yang terpasang cincin pernikahan kami.


"Mas ga boleh ngomong gitu. Aku bahagia dengan pernikahan kita."


"Masa? Mas merasa belum bisa menjadi suami yang baik. Apalagi saat meninggalkan kamu sendiri di rumah."


"Iya. Kecuali pas awal nikah itu!" ujarku sambil tersenyum.


Aku terkekeh karena mengingat sikap Ridho yang menyebalkan saat awal menikah. Ridho ikut tertawa setelah tertegun sejenak. Mungkin dia juga sedang mengenang pertemuan kami di awal kenal.


"Kamu juga cuek banget waktu awal kita nikah. Apalagi pas tabrakan itu."


"Habisnya mas jutek banget."


Tawa kami berderai. Baru kali ini kami membahas awal pertemuan yang kurang menyenangkan itu. Ridho meraihku dalam pelukan, lalu mengecup keningku.


"Apapun yang udah terjadi, mas bersyukur dijodohkan Tuhan sama kamu."


"Iya, Mas. Aku juga merasa beruntung memiliki Mas sebagai suami."


Beberapa saat kami berpelukan dalam diam berusaha meresapi setiap kata yang telah terucap. Perasaan nyaman memenuhi hati. Pelukan kami terurai saat adzan Isya mulai berkumandang, Ridho pamit akan pergi ke masjid.

__ADS_1


***


Sepulang dari shalat idul fitri, aku dan Ridho memohon maaf pada Bapak dan Ibu yang sudah duduk di sofa. Ibu memelukku erat. Bapak mengelus puncak kepalaku. Kebahagian kami terasa lengkap.


"Sekarang kita makan, ya," sela Ibu.


"Iya, Bu."


Kami pun melangkah menuju ruang makan. Ibu membuat opor ayam dan beberapa jenis kue basah. Aku sudah mendinginkan sirup di kulkas sebelum shalat tadi.


"Udah ngubungin keluarga di rumah, Dho?" tanya Bapak.


"Udah, Pak. Lagi kumpul juga di sana."


Menikmati makanan sambil sesekali membuka obrolan tentang suasana lebaran. Rencananya kami akan ke rumah orang tua Ridho pagi ini. Bapak dan Ibu juga ikut tentunya. Sedang menikmati kebersamaan, beberapa tetangga datang.


"Maaf lahir batin ya, Mbak, Mas," ucap Tante Eva dan suaminya, tetangga sebelah.


"Sama-sama, ya. Kami juga minta maaf kalau selama ini pernah bersikap kurang berkenan di hati kalian," sahut Ibu.


Tante Eva juga membawa dua anaknya. Satu lagi masih balita. Kuusap pipinya dengan gemas saat dia meraih tangan untuk dicium. Ridho memberikan lembaran uang sebagai THR untuk anak-anak yang datang.


"Ayo, makan dulu!" ajak Ibu. "Kami lagi makan di belakang."


"Hati-hati di jalan kalau gitu," tambah Bapak.


"Iya, Mas. Makasih."


Sepeninggal Tante Eva dan suaminya, tetangga lain mulai berdatangan. Kami pun cepat menyelesaikan makan. Ridho menyimpan piringnya ke bawah tudung saji.


Rumah semakin ramai. Bapak termasuk orang yang tua di RT kami. Apalagi beliau pernah dipilih menjadi ketua RT dulu. Setelah tetangga mulai sepi, kami pun bersiap ke rumah orang tua Ridho. Ibu memasukkan beberapa jenis kue ke dalam wadah plastik untuk di bawa.


"Berangkat sekarang, Pak?" tanya Ridho.


"Boleh, Nak."


Kami pun naik ke mobil Bapak. Mobil Ridho disimpan di garasi karena kecil. Menurut Ridho kurang aman untuk kandunganku karena jauh.


Setibanya di rumah mertua, suasana cukup ramai. Kudengar kabar dari Ridho, Bang Rafli dan istrinya baru tiba kemaren sore. Ayah keluar dari rumah saat mobil kami memasuki halaman.


"Assalamualaikum!" ucap kami serentak.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Bunda pun ikut keluar.


"Masuk, masuk ... kalian sehat semua?" sapa Ayah dengan semringah.


"Alhamdulillah, Fik," sahut Bapak.


Kami masuk dan kembali larut dalam suasana lebaran. Bergiliran saling meraih tangan dan mengucapkan maaf. Bunda memelukku dan Ibu bergantian. Sedikit kaku saat aku bersalaman dengan Mas Rafli dan istrinya.


"Wah, udah besar kehamilan Reva, ya?" sapa Bang Rafli ramah.


"Iya, Bang. Alhamdulillah."


Kujawab dengan singkat pertanyaannya. Tak enak hati pada mereka yang belum dikaruniai buah hati. Apalagi saat Mbak Ratih melihat perutku. Aku mengerti sekali bagaimana rasanya menunggu kehamilan yang sangat diharapkan.


"Abang cuma bisa doakan semoga kamu dan calon bayi kalian sehat terus. Mungkin kami ga bisa cepat mudik lagi. Ga bisa ketemu ponakan pas baru lahir."


"Ngga papa, Bang. Makasih doanya."


Ridho memeluk abangnya dengan erat. Bang Rafli menepuk bahu adiknya berulang kali. Mereka sudah dua tahun tak bertemu karena terpisah jarak yang jauh. Bahkan Bang Rafli tak bisa datang saat kami menikah.


"Udah berapa bulan kandungannya?" tanya Mbak Ratih saat kami tinggal berdua.


Ridho dan Bang Rafli pindah ke sofa ruang keluarga untuk melepas rindu. Aku menoleh pada wajah ayu hitam manis itu. Bibirnya melengkungkan senyuman.


"Alhamdulillah mau masuk empat bulan, Mbak."


"Oh ... sehat-sehat kamu, ya."


"Makasih, Mbak. Semoga Mbak juga bisa merasakannya ga lama lagi."


"Aamiin. Makasih, ya."


Aku menjawab dengan anggukan. "Lama pulang ke sini, Mbak?"


"Kayaknya ngga. Minggu depan paling lama balik ke Papua lagi."


"Cepet banget ya, Mbak?"


"Iya ... maklumlah, abdi negara seperti kami ga bisa leluasa liburan."


Saat ingin kembali mengobrol, Bunda memanggil kami untuk berkumpul di ruang makan. Mbak Ratih menarik lenganku untuk beranjak bersama. Tak menyangka dia cepat akrab, kukira dia pendiam awalnya.

__ADS_1


Kami kembali menikmati suguhan yang Bunda siapkan. Lontong sayur dan aneka panganan tradisional. Seketika teringat peristiwa ngidam bulan lalu. Kulirik Ridho yang tersenyum menatap istrinya.


Awas saja kalau dia berani membuka mulut!


__ADS_2