
Rasanya baru saja tertidur lelap, kesadaran mulai muncul. Terasa sesuatu yang lembab dan lembut membelai pipiku, tapi mata enggan terbuka. Beberapa saat kemudian, benda itu menyentuh bibirku. Mau tak mau, aku pun membuka mata. Ternyata Ridho yang melakukannya.
"Mas ... ga jadi tidur?" tanyaku dalam keadaan masih mengantuk.
"Udah bangun, Sayang ... udah sore ini."
"Jam berapa?"
"Hampir setengah empat."
"Hah? Belum adzan, 'kan?"
Ridho menggelengkan kepalanya. "Sebelum adzan kita bersenang-senang dulu."
"Maksud, Mas?" Aku mengernyitkan dahi melihat senyumnya yang sedikit misterius.
Ridho mengedipkan sebelah matanya. "Masa ga ngerti?"
Aku pura-pura melengos saat menyadari maksud perkataannya. Tetap saja jantungku berdebar karena godaannya. Badan yang sudah lumayan segar dan dinginnya suhu ruangan karena AC membuat tubuh sedikit menggigil mendapat tatapan mesra dari Ridho.
Ridho kembali mendekatkan wajahnya, mencium leherku. Aku mulai terpengaruh, tapi masih sadar. Berpikir cepat bagaimana cara untuk lepas dari godaannya.
"Masih terang gini? Bentar lagi adzan, Mas ...."
"Ronde pertama bentar aja. Nanti malam lanjut lagi saat ronde ke dua," bisiknya di telingaku.
Tubuhku sedikit gemetar mendapat perlakuan seperti itu dari Ridho. Napasku semakin berat saat bibirnya kembali bergerak di sekitar bahu. Ridho tak memberi kesempatan lagi untukku bicara.
Huaah! Alamat kalah telak ini.
Teringat kejadian minggu lalu. Ridho benar-benar membuktikan ucapannya. Malam itu kami tidur hampir larut malam. Dua ronde penuh keringat setelah hampir dua bulan, malam kami terlewati dengan suasana yang dingin.
Ridho berubah menjadi seseorang yang sangat bersemangat. Aku hampir kewalahan dibuatnya. Namun, aku berusaha mengerti bagaimana dia mencoba memahami aku selama masa pemulihan dan sempat depresi.
Lamunanku buyar saat Ridho kembali menempelkan bibir kami. Perlahan aku mulai membalas ciumannya. Napas kami saling memburu seakan mengejar sesuatu yang sudah lama tak didapatkan.
Tangan Ridho mulai bergerak liar di area tubuhku yang lain. Setelah melihat aku siap, perlahan dia membuka kancing gaunku. Menggenggam jemariku saat mulai menyatukan tubuh kami. Bibir Ridho kembali membungkam bibirku saat tau erangan karena rasa sakit keluar.
Aku berusaha relaks, menikmati suasana kamar yang cukup romantis. Warna hijau muda dengan sentuhan interior minimalis di beberapa sudut ruangan. Memikirkan nyamannya di pelukan suami yang begitu memperhatikan kondisiku.
Kami pun mulai larut dalam suasana memadu kasih. Dinginnya AC tak mampu menghilangkan rasa hangat yang menjalar hingga ke hati. Aku mengecup pipi Ridho saat dia terjatuh tak berdaya di pelukan.
Ridho membalasnya dengan mencium keningku. "Terima kasih, Sayang," ucapnya dengan suara yang lemah.
Napas Ridho hangat menyapu wajahku. Bibirku melengkungkan senyuman sebagai jawaban. Aku pun memeluk tubuhnya erat sebelum kami saling melepaskan diri.
__ADS_1
Tak lama terdengar adzan Ashar berkumandang. Kami pun segera beranjak untuk membersihkan diri. Aku sedikit tersipu saat kami berdua di kamar mandi. Ini pertama kalinya kami mandi bersama.
Kami bergegas menyudahi mandi untuk melaksanakan shalat berjamaah. Ridho memutuskan akan shalat di kamar hotel saja selama di sini. Dia tak tega meninggalkan aku sendirian.
Usai berpakaian, kami pun membentangkan sajadah. Ridho mengangkat kedua tangan dan mengumandangkan takbir. Kami pun larut dalam suasana mengingat Yang Kuasa.
Setelah memanjatkan beberapa harapan, Ridho mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menciumnya lebih lama dari biasanya. Tak terasa, mataku sedikit basah.
"Kenapa?" tanyanya saat menyadari ada air yang menetes di tangannya.
"Ga papa. Aku bahagia. Makasih ya, Mas."
Ridho meraihku dalam pelukan. Beberapa saat kami hanya terdiam dengan posisi saling memeluk. Menikmati kondisi hati yang mulai membaik.
***
Aku menggunakan gamis berwarna merah muda dan jilbab putih sore ini. Ridho terlihat gagah dengan jeans biru dan kemeja navy. Setelah bersiap, kami berjalan bersisian keluar dari kamar hotel. Ridho memeluk pinggangku saat menuju mobil.
Ridho melajukan mobil ke jalan raya dengan santai. Aku membuka jendela sejenak untuk menikmati sejuknya udara pegunungan. Kulirik Ridho yang tersenyum saat menoleh.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kelihatan banget jarang keluar rumah."
Ridho terbahak. "Ga gitu juga, sih. Setidaknya aku udah sering ke sini. Tapi bagus, deh. Jadinya kita bisa menikmati jalan-jalan berdua karena kamu belum pernah ke sekitar sini."
Aku tersenyum malu. "Pernah, kok ke pemandian air panas itu."
Ridho tersenyum lembut. "Iya. Udah lama dan masih kecil perginya."
Aku tak menyahut lagi. Kembali menikmati pemandangan di sekitar jalan. Rumah-rumah yang berderet masih terlihat asri dengan beberapa pohon yang ditanam di halamannya.
Ridho mengentikan mobilnya di sebuah kedai kecil yang menjual aneka gorengan dan pempek. "Mau coba?" tanyanya.
"Boleh!"
Kami pun turun dan memasuki kedai kecil itu. Ridho memesan dua porsi pempek kapal selam dan pisang goreng. Tak lama pesanannya datang dengan dua gelas teh manis.
"Mau jus?" tawar Ridho.
"Ga, ah! Enakan minum teh aja. Udaranya sejuk."
Kami mulai menikmati sajian di atas meja dalam diam. Setelah menghabiskan pempek, Ridho menyuapiku pisang goreng. Aku menolaknya dengan bicara sedikit berbisik.
"Malu tau! Ada orang lain juga."
__ADS_1
Ridho terkekeh pelan. "Ngga papa kali. Ini ... aaak!" Ridho memintaku membuka mulut.
Aku cepat-cepat menggigit makanan yang disodorkannya. Sudah lumayan hapal dengan tingkah lelakiku. Bila sudah menginginkan sesuatu, harus dituruti kalau tak ingin menambah masalah.
Aku menghabiskan sisa teh manis hangat. Tak terasa keluar sendawa kecil dari mulutku. Ridho tersenyum sekilas mendengarnya.
"Kenyang, Neng?"
"Ish! Pake ditanyain!" bisikku.
"Tumben-tumben soalnya."
"Ye ... pernah kali. Mas aja yang ga dengar."
"Masa?" tanyanya dengan dahi sedikit mengernyit.
"Iya. Ish! Ga perhatian. Udah mau tujuh bulan juga nikah."
Ridho menatapku dengan intens. "Ya, deh. Lain kali Mas perhatiin."
Kali ini aku yang dibuat salah tingkah. "Ga gitu juga maksudnya."
Ridho kembali tersenyum. "Terus?"
"Tau, ah!"
"Artinya Mas terpesona selama ini sama istri yang cantik, sampai ga nyadarin tingkahnya waktu makan."
Lagi-lagi aku dibuat salah tingkah. "Udah, ah! Ngapain bahas sendawa panjang banget," sahutku.
Lelakiku kembali terkekeh. Ingin rasanya kucium pipi Ridho karena gemas. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat hatiku jadi berbunga.
"Mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang?"
"Terserah Mas aja. Kalo cape, kita balik hotel."
"Hm ... iya, juga. Nanti malam kita mau lanjutin ronde ke dua," sahutnya sedikit berbisik dengan wajah condong ke arahku.
Wajahku sedikit memanas mendengar celoteh Ridho. Tak tahu seperti apa warna pipiku jadinya. Sempat-sempatnya dia kembali menggoda di keramaian seperti ini.
Dasar!
Kenapa Ridho semakin nakal sekarang?
Eh. Tapi kok aku ga bisa marah, ya?
__ADS_1