
Reva menurut dan duduk di tepi ranjang. Aku meletakkan tasnya di meja, lalu keluar dari kamar. Pergi ke dapur untuk mengamil makanan untuk Reva. Aku menyendok nasi dan lauk, lalu mengangsurkannya ke mulutnya.
Ga usah. Aku bisa sendiri," protesnya
"Udah. Nurut aja, kenapa?"
Reva tak membantah lagi. Dengan hati-hati aku menyuapinya sampai piring bersih. Senang rasanya melihatnya makan dengan lahap.
"Kamu ikut rombongan Bapak aja perginya. Aku duluan. Nanti aku jelasin ke Ayah Bunda kondisi kamu," jelasku.
"Iya."
Sebenarnya aku tak tega meninggalkanya. Hanya saja, tak mungkin juga mendadak meminta orang tua membatalkan acara. Apalagi hanya beberapa jam lagi. Pasti keluarku sudah bersiap dan memasak.
***
Sebelum Magrib aku tiba di rumah. Suasana sudah ramai, beberapa tetangga dan keluarga dekat kami sudah datang. Aku berbincang sebentar, lalu pamit untuk bersiap.
Rombongan laki-laki berbondong menuju masjid. Bunda dan keluarga wanita shalat di rumah. Segenap asa kupanjatkan,semoga acara nanti berjalan lancar.
Selesai melaksanakan shalat Magrib, kami mulai bersiap. Aku menggunakan batik merah dan celana berwarna hitam. Tak lama mobil Bapak memasuki halaman rumah.
Kami pun menyambut keluarga Reva dengan semringah. Reva terlihat cantik dengan kebaya yang dipakainya. Acara pun berlangsung dengan khidmat. Hanya dua keluarga dan beberapa tetangga yang ikut hadir.
Selesai acara, kami mengantar kepergian Ibu dan Bapak. Wajah Reva terlihat sendu. Ingin rasanya memeluknya sekarang juga.
"Baik-baik di sini ya, Nak," ucap Bapak.
"Ingat pesan Ibu," tambah Ibu.
Reva hanya menganggukkan kepala. Sempat kulihat air mata menetes di pipinya. Padahal aku sudah bilang hanya menginap beberapa hari. Ah ... dia anak semata wayang, tentu saja terasa berat berpisah dengan orang tua.
***
Setelah sarapan bersama keluarga, Reva kembali ke kamar. Aku yang akan beranjak dipanggil oleh Bunda. Kembali duduk menanti apa yang ingin Bunda katakan.
"Istrimu kayaknya ga bisa masak. Cuci piring juga ada yang masih berminyak."
"Ga gitu kok, Bun. Mungkin dia kecapean, jadi kurang fokus."
"Halah! Kelihatan gitu kok, kurang gesit kerjanya."
Aku menghela napas. Omongan Bunda sesikit keterlaluan. Walau dari awal dia kurang setuju dengan perjodohanku dan Reva, aku tak menyangka Bunda masih bertahan dengan pikirannya
"Bapak sih, buru-buru jodohin kalian!" Kembali Bunda menunjukkan rasa keberatannya.
"Bun, kok gitu ngomongnya?"
"Bunda takut kamu ga keurus. Anak semata wayang biasanya manja."
"Ga lah, Bun. Lagian, Reva 'kan kemarin jatuh dari motor. Bunda pergi ke dapur pas aku lagi cerita sama Ayah."
"Iyakah? Hm. Semoga dia tidak membuat kecewa."
__ADS_1
"Iya, Bun. Tapi dia tetap mau bantu Bunda, 'kan?"
"Baiklah. Kita lihat aja nanti."
Perasaanku jadi tak menentu mendengar ucapan Bunda. Ingin rasanya kembali membantah, tapi takut Bunda tambah kesal. Kami juga harus pergi bekerja.
"Bun, aku mau nyuci. Masih ada pakaian yang kotor?" tanyaku setelah dekat.
Bunda terlihat gelagapan, terkejut dengan kehadiran Reva. Aku pun tak kalah panik, takut Reva mendengar pembicaraan kami. Kulirik Bunda yang berusaha menenangkan diri.
"Cuci yang di mesin aja," jawabnya.
"Baik, Bun."
Reva memasukkan pakaian dan mengisi air ke dalam mesin dalam diam. Bunda telah beranjak ke kamar, mungkin tengah bersiap pergi. Aku pun duduk di taman belakang, tak tega meninggalnya sendiri.
Setelah memutar mesin, Reva kembali ke kamar. Aku pun menyusul. Reva menghempaskan diri ditepi ranjang yang di pasang seprai berwarna biru langit. Aku ikut duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa?"
"Ga papa," jawabnya.
Aku berdehem sebelum bertanya, "Kamu dengar pembicaraan kami tadi?"
Reva mengalihkan pandangan pada jendela kamar yang telah dibuka. Hari ini sangat cerah, tapi wajahnya mendung.
"Rev?" Kutarik lengannya agar menghadapku.
Aku benar-benar merasa tak enak hati dengan kejadian ini. Ingin rasanya meminta maaf, tapi lidahku kelu. Kutatap wajahnya, berharap dia tahu kalau aku mengerti perasaannya.
Kata-katanya membuat hatiku serasa diiris. Aku tak sanggup menjawab, lalu meraihnya dalam pelukan. Aku menarik napas panjang agar perasaanku kembali tenang.
"Maaf ya," ucapku.
Terdengar Reva menghela napas. Kubiarkan dia melepaskan diri dari pelukan. Entah apa yang dia pikirkan.
"Kamu ga kerja?" tanyanya.
Aku menatapnya tajam. "Kenapa suka sekali mengalihkan pembicaraan?"
"Nanti terlambat kerja," sahutnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.
Aku kembali menghela napas. Rasanya berat meninggalkan Reva sendiri di rumah. Apa aku antar ke rumah Bapak saja.
"Kamu ga papa aku tinggal sekarang?"
"Ga papa. Nanti juga mau ke kampus."
"Berangkatnya gimana? Apa aku minta temanku antar motornya?"
"Ga usah. Aku naik angkot aja, nanti pulangnya ambil motor. Mau ke rumah bentar ambil berkas."
Ya udah. Hati-hati nanti jalannya."
__ADS_1
"Iya."
Aku mengambil kunci rumah yang terletak di meja kamar dan menyerahkannya padanya. "Nanti aku jemput kalau kerjaan ga banyak."
***
Saat jam istirahat, aku pergi ke bengkel tempat motor Reva diperbaiki. Betapa terkejutnya aku, melihat dia sedang mengobrol dengan seorang laki-laki. Ternyata itu pria yang sama dengan yang kulihat di kantin kampus.
Rasa tak senang melanda hatiku seketika. Apalagi melihat Laki-laki itu tersenyum pada istriku. Raut penasaran terlihat di wajahnya.
"Sebenarnya aku-"
"Reva!" potongku.
Reva memutar badan menghadapku. Wajahnya terlihat panik. Apa dia merasa bersalah telah membohongiku?
Sempat kulihat Reva menundukkan kepala. Benar saja, pasti dia merasa bersalah. Aku pun mengabaikannya, mencari keberadaan teman yang mempunyai bengkel.
"Udah datang aja, Lu!"
"Udah selesai motornya, Bro?" tanyaku.
"Udah, Bro. Mau diambil sekarang ya?"
"Iya. Itu yang punya udah datang."
"Berapa, Bro?"
"Ke dalam dulu, Bro. Baru gue catat, belum sempat hitung."
Aku pun menyusul langkah Robi ke dalam. Setelah membayar biaya perbaikan motor Reva, aku keluar dan menyerahkan kunci pdanya. "Ayo pulang!"
"I-ya."
Hatiku terasa ditusuk saat mendengar Reva menyempatkan diri berpamitan pada laki-laki itu. Aku mendengkus menahan amarah yang siap meledak. Kukepalkan tangan agar tak nekad menghardik Deva.
Reva menghidupkan motornya, lalu melaju ke jalan raya. Aku menyusul di belakangnya. Sepanjang perjalanan, aku berusaha menetralkan jantung yang berdetak kasar.
Tiba di rumah mertua, terlihat Ibu di teras. Kami pun mengucapkan salam. Aku berusaha bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa.
"Mau kemana, Bu?" tanya Reva.
"Ke tempat Bapak. Tadi Bapak telpon, karyawan kita ada yang sakit, toko lagi rame."
"Ooh ... Kirain kenapa buru-buru gitu. Aku mau ambil berkas. Ibu jam berapa pulangnya?"
"Mungkin sebelum ashar." Ibu menyerahkan kunci rumah padaku.
"Ya udah, aku tunggu kalau gitu."
"Aku antar aja, Bu," tawarku.
"Ga usah, Nak Ridho 'kan mau kerja lagi. Ibu naik angkot aja. Ibu pergi dulu, ya."
__ADS_1
Aku dan Reva mencium tangan Ibu. Setelah Ibu menyetop angkot, kami pun membuka pintu dan masuk k dalam rumah. Sebelum Reva mencapai pintu kamar, aku menyambar lengannya hingga berbalik menghadapnya.
Jangan lupa vote yaa 💕💕