
Pukul satu siang, kami bersiap pergi keluar. Kugunakan gaun berwarna kuning dengan jilbab segiempat senada. Ridho terlihat tampan dengan kemeja flanel biru muda.
Ridho melajukan mobil Ayah dengan pelan. Ayah menanyakan kabar orang tuaku. Aku menjawabnya sambil sesekali aku menatap keramaian di jalan raya.
Mobil akhir dihentikan Ridho di halaman sebuah restoran. Ridho membantuku turun dari mobil. Kami berjalan beriringan masuk ke dalam resto yang tak jauh dari pinggiran pantai. Ayah memilih tempat duduk di bagian depan. Udara sejuk dari pohon cemara yang berjejer sampai ke tempat kami karena resto mengusung bangunan terbuka.
"Mau pesan apa?" Seorang pelayan datang dengan wajah ramah.
Kami menyebut pesanan bergantian. Ridho tersenyum mendengarku memyebut dua jenis makanan. Sebenarnya aku juga heran, porsi makanku menjadi dua kali lipat akhir-akhir ini.
Setengah jam kemudian, pesanan kami datang. Ayah dan Bunda terlihat menikmati ayam bakar pesanan mereka. Ridho terlihat santai dan ceria.
Saat makanan kami hampir habis, masuk seorang laki-laki ke restoran. Ridho menyipitkan mata melihat ke arah lelaki itu. Setelah mengenali sosok yang mendekat, Ridho menyapanya.
"Hoi, Bro! Sendiri aja?"
Laki-laki itu menoleh pada kami. Dia terkekeh pelan saat menyadari orang yang memanggilnya. "Iya, Bro! Lagi kumpul, ya?"
"Iya, nih. Sama orang tua. Gabung sini aja, Bro! Kelihatan banget jomblo, lu!" canda Ridho.
Teman Ridho nyengir kuda. "Boleh, deh, kalau ga ganggu."
"Ngga papa, Nak. Duduk sini, aja," sahut Ayah.
Bunda hanya tersenyum ramah. Aku mengangguk pelan tanda tak keberatan. Teman Ridho akhirnya membawa kursi pindah ke meja kami. Dia menyalami Ayah dan Bunda sebelum duduk.
"Tinggal di mana, Nak?" tanya Ayah.
"Di daerah Kampung, Om. Saya Tomi."
"Wah, jauh juga. Kirain deket rumah Ridho."
"Ga, Om. Kami dikenalin teman. Ridho nawarin kerja sama."
"Oh ... gitu. Mantap itu."
"Iya, Om. Doakan persiapan usaha kami lancar, Om."
"Pasti. Semoga kalian sukses, ya!"
"Makasih, Om."
Pelayan pun datang menanyakan pesanan Tomi. Ridho memesan kopi agar bisa bicara santai dengan temannya. Ayah menolak tawaran Ridho dengan alasan sudah kenyang. Aku masih semangat melahap makanan kedua pesanan tadi, setelah menghabiskan sepiring mie ayam.
Sudah satu jam setengah kami berada di Resti. Ridho dan temannya masih asik mengobrol. Aku memberi kode untuk pulang karena kasihan melihat Ayah dan Bunda yang mulai bosan.
"Aku duluan ya, Bro! Istri lagi hamil, takut kecapean."
__ADS_1
Deh ... Ridho malah mengira aku yang tak nyaman lagi.
"Ok, Bro. Aku juga udah mau pulang, nih."
"Ya udah. Bareng aja kita keluarnya."
Ridho membayar sejumlah uang pada kasir. Gak lupa memasukkan pesanan temannya pada bon yang disodorkan. Tomi sempat menolak, tapi kalah cepat dengan gerakan Ridho.
Kami berpisah di parkiran. Tomi melambaikan tangan pada kami saat berjalan menuju mobilnya. Saat akan membuka pintu mobil, serombongan anak muda dengan motor masuk ke halaman resto.
"Silvi!" teriakku saat melihat salah satu dari mereka membuka helm.
"Yups! Lagi makan-makan, Beb?"
"Iya, nih. Sama mertua."
Silvi mendekat dan menyalami Ayah dan Bunda. Teman-teman yang lain juga mendekat. Aku mengenalkan mereka pada Ridho dan mertua.
"Duluan, Dho!" tukas Tomi membuka jendela kaca mobil.
Kami semua menoleh pada pengendara mobil yang akan keluar. Tomi mengulas senyum sebelum berlalu. Aku dan teman-teman ikut tersenyum padanya.
"Siapa, Beb?" bisik Silvi.
"Temen Ridho."
"Ooh. Kalian udah mau pulang, ya?"
"Cepet apaan?" sahut Silvi. "Udah sore nih, Neng! Kamu aja yang ga ngerasa karena lagi sa suami tercinta!"
Aku hanya tersenyum malu mendengar candaan Silvi. Ridho menggaruk tengkuknya, terlihat sedikit grogi. Ayah dan Bunda ikut tertawa melihat tingkah kami.
"Bisa aja kamu! Kami duluan ya, teman-teman. Selamat beristirahat. Pasti cape plus haus, tuh!" ujarku.
"Ok, Rev."
"Siip!"
"Hati-hati di jalan, Beb!"
Bibirku melengkungkan senyuman mendengar suara mereka yang bersahut-sahutan. Kami pun naik ke mobil setelah Ayah dan Bunda sudah di dalam. Kulambaikan tangan pada teman-teman.
Setibanya di rumah, Ayah dan Bunda istirahat sejenak sebelum pulang. Kami mengobrol santai di teras depan. Ridho terlihat bahagia dengan kedatangan orang tuanya.
Setelah shalat Ashar, kedua mertuaku pamit pulang. Aku dan Ridho mencium tangan keduanya. Pelukan akrab dari Bunda membuatku terpana.
"Kamu jaga kandungan baik-baik, ya. Jangan sering keluar rumah dulu, apalagi kalau kurang penting."
__ADS_1
"Iya, Bun. Makasih."
"Kami pulang dulu, ya. Kalian pintar-pintar membawa diri di sini. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi Ayah atau Bunda." Ayah ikut memberi nasihat.
"Baik, Yah. Hati-hati jalannya," sahut Ridho.
Mobil Bunda berlalu dari halaman rumah. Aku dan Ridho masih berdiri di halaman rumah. Beberapa tetangga lewat sesekali menyapa. Kami pun membalas senyum mereka dengan semringah.
"Kita belum ada kenalan sama tetangga, Mas."
"Iya. Nanti pas selesai bangunan usaha, kita syukuran kecil-kecilan ngundang tetangga."
"Masih lama juga, donk!" Aku berpikir sejenak. "Gimana kalau aku buat makanan, terus antar ke rumah tetangga."
Ridho terlihat sedang menimbang usulanku. "Gimana kalau beli aja?"
"Yah, kok beli, sih?"
"Nanti kamu kecapean. Tetangga kita banyak, loh."
"Ga semuanya, Mas. Paling ngga, tetangga kiri dan kanan."
"Mas beli aja, deh. Bisa antar ke banyak tetangga. Kapan-kapan aja kamu masak dan bagi tetangga kiri kanan aja."
Aku menghela napas. "Ya udah. Terserah Mas aja."
Kuputuskan untuk mengalah saja. Percuma saja berdebat dengan Ridho kalau dia sudah memutuskan sesuatu untukku. Aku pun beranjak dari halaman kembali duduk di teras.
"Ye ... ga usah ngambek gitu, Sayang ... mas cuma pengen meringankan kerjaan kamu aja." Ridho menyusul duduk di sebelahku.
Aku berusaha menerbitkan senyuman. "Ok, Tuan. Dimengerti."
"Nah, gitu donk! Mas pengen kamu banyak istirahat di awal kehamilan ini. Apalagi kita belum punya seseorang yang bisa bantu ngurusin kerjaan rumah."
"Iya, Maskuh. Makasih ya ... udah perhatian aku terus." Aku berucap sungguh-sungguh agar Ridho kembali tenang.
"Sama-sama, istri shalehahku. Kita masuk aja, yuk! Mas mau siap-siap ke masjid."
Aku menjawab dengan anggukan. Ridho menggenggam jemariku saat masuk ke dalam rumah. Aku sedikit risih, berulang kali menoleh ke kiri dan kanan, takut ada tetangga yang melihat kami.
"Kenapa?" tanya Ridho saat aku berusaha melepaskan tangannya.
"Ga enak dilihat orang, Mas." Aku memberi tatapan memohon.
Ridho terkekeh pelan. "Biarin! Megangin tangan istri sendiri di rumah sendiri juga."
Arrrgggh! Sak karepmu, lah!
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen 😍
Vote juga kalau kamu ada kelebihan poin.😘