Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Deva dan Sinta


__ADS_3

PoV Deva


Pertemuanku dan Sinta tahun lalu tak disengaja. Kami bertemu di acara pernikahan teman. Aku sempat terpesona dengan kecantikannya yang tampak alami. Ditambah dengan tutur katanya yang lembut.


Salah satu teman saat kuliah melihatku menatap Sinta. Kebetulan mereka satu tempat kerja. Doni pun menyemangatiku untuk memdekati Sinta.


"Cantik dia, ya?"


"Siapa?"


"Yah, pura-pura ga tau dia!"


Aku tersenyum masam. "Sialan!"


"Aku kenalin mau?"


"Masih jomblo dia? Tar aku diserang pacarnya."


"Setau aku setahun ini dia ga pernah bawa pasangan. Gimana?"


"Boleh, deh"


Doni mendekati Sinta dan membisikkan sesuatu padanya. Aku sedikit bergidik. Jangan-jangan dia bicara yang tidak-tidak pada wanita itu.


Tak lama kemudian, mereka berjalan mendekatiku. Aku sempat merasa gugup. Sejak patah hati karena penolakan Reva, aku tak pernah mendekati wanita lagi.


"Kenalin, Sin! Ini Deva, teman aku."


"Sinta." Diulurkannya tangan.


Aku hanya menjabat tangan Sinta sekilas. Sempat ada debar terasa di dada. Apalagi saat dia tersenyum manis padaku.


"Deva ini bentar lagi selesai S2. Lagi cari jodoh dia."


Aku mendelik pada Doni. Bisa-bisanya dia berkata tentang jodoh semudah itu. Membuat aku malu saja, seakan sedang kesepian.


"Eh." Sinta terlihat tak nyaman dengan ucapan Doni.


"Ga usah didengerin, Mbak. Eh, Sin. Dia mah, suka asal ngomongnya."


"Iya, Dev. Santai aja."


Aku semakin kagum pada sosok wanita elegan di depanku. Selain cantik dan sopan, dia sepertinya juga cerdas. Aku jadi penasaran mengapa dia belum mempunyai pasangan.


Awalnya aku tak terlalu antusias. Menganggap perkenalan kami biasa saja. Namun, Sinta begitu ramah dan nyambung saat kami mengobrol.


Terselip tanya dalam benakku. Bagaimana kalau kami berjodoh? Apakah ini jawaban dari doaku selama ini?


"Kamu udah lama satu tempat kerja sama Doni?" tanyaku.


Laki-laki itu sedang menemui temannya yang lain. Tepatnya sengaja meninggalkan kami berdua. Doni sempat mengedipkan mata padaku sebelum berlalu.

__ADS_1


Anak itu! Dari dulu tetap belum berubah.


"Baru satu tahun, Dev. Sekarang malah udah ga sekantor lagi."


"Oh ... kamu pindah?"


"Dimutasi tepatnya. Baru beberapa bulan. Kamu sendiri kerja di mana?"


"Untuk sekarang, aku masih bantu ngurus usaha orang tua. Rencananya aku mau melamar jadi dosen setelah lulus S2 nanti."


"O ya? Hebat, donk!"


"Ah, ngga juga. Banyak yang lebih hebat. Aku baru mau mulai."


"Sambil kerja juga gitu kuliahnya."


Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya. Sebenarnya Papa memang memintaku untuk melanjutkan usaha keluarga kami. Namun, aku tetap mempunyai cita-cita sendiri.


Untungnya kedua orang tuaku tak memaksakan kehendak. Mereka tetap mendukung keinginanku. Dengan catatan, aki tetap mengawasi kinerja usaha Papa setelah dia pensiun nanti.


"Sekarang kamu ditempatkan di mana?"


"Di Bengkulu utara."


Sinta kembali tersenyum sambil membetulkan anak rambutnya yang sedikit berantakan diterpa angin. Wajahnya makin terlihat manis dengan sikapnya yang polos. Aku mengalihkan pandangan saat mata kami bertemu tatap.


Kulihat Sinta sempat salah tingkah. Aku juga bingung mau bicara apalagi. Kami pun terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya Doni kembali.


Atas saran dari Doni, kami bertukar nomor. Setelah mengobrol beberapa saat, Sinta kembali duduk dengan teman-temannya.


"Lumayan."


"Lumayan atau lumayan?" goda laki-laki berkulit sawo matang itu. "Buruan dilamar. Nanti keduluan cowok lain."


"Alah! Kayak lu udah laku aja!"


"Ye ... gue mah minggu depan lamaran. Makanya Desti ga bisa ikut. Lagi sibuk nyiapin acara buat lamaran."


"Wah ga bilang-bilang, lu! Diam-diam aja mau merid."


"Pas nikahan nanti pasti diundang, Bro! Ini baru acara keluarga."


"Oh ... selamat, deh!"


Doni terkekeh pelan. "Thank you, Bro! Makanya lu cepetan cari pasangan. Sinta OK juga, tuh!"


"Ah, elu! Baru juga kenal. Belum tentu juga dia mau sama gue."


"Bisa aja ngerendah, lu! Siapa juga yang ga terpesona sama Deva Mahendra. Cakep, tajir, pintar lagi."


"Bisa banget, lu! Ortu gue yang kaya. Gue mah belum punya apa-apa."

__ADS_1


"Tetap aja punya lu juga. Anak mereka cuma, elu. Lagian lu juga udah mulai kerja sekarang, 'kan?"


"Iya. Gue ga terlalu minat sebenarnya. Lebih tertarik pada dunia pendidikan. Tapi kasihan juga bokap udah tua. Mau istirahat katanya."


"Iya, tuh. Gampanglah, buat lu. Tinggal adaptasi bentar juga bakal ngerti."


"Sembarangan, lu. Dikira gampang mimpin sebuah perusahaan? Walau belum besar, tetap aja ada karyawan yang harus dipikirkan."


Obrolan kami pun berlanjut dengan topik pekerjaan dan masalah lainnya. Tak terasa sudah setengah jam waktu berlalu. Kami pun pamit pada Arsya dan keluarganya. Berpisah di parkiran, Doni kembali menyemangatiku untuk mendekati Sinta.


Seminggu kemudian, dengan ragu, aku memghubungi nomor Sinta. Tak menyangka Sinta merespon pesan dariku. Kami pun berbalas pesan malam itu.


Hampir satu bulan, kami berkomunikasi jarak jauh. Akhirnya aku mengajak Sinta bertemu saat dia ada keperluan ke kota. Kami hanya mengobrol sebentar dan makan siang di sebuah kafe yang tak terlalu ramai.


"Hm ... Sin, kamu ... belum punya pacar?"


"Hah?" Tampak raut terkejut di wajah Sinta.


Wanita berkulit putih itu sempat tertegun beberapa saat. Aku tersenyum canggung karena melihat Sinta terdiam. Rasanya ingin menarik kata-kata yang sudah terlanjur terucap.


"Belum kok, Dev." Sinta menjawab dengan mengulas senyum.


Aku menghela napas karena lega. Sempat malu sendiri andai Sinta tak mau menjawab pertanyaan dariku. Sinta menatapku dengan dahi berkerut.


"Eng ... aku bukannya mau ngajak pacaran. Aku mau langsung mempunyai hubungan yang serius. Maksud aku ... kamu ngerti, 'kan?" Mendadak rasa gugup menyerangku.


Sinta tertawa pelan. Aku menjadi salah tingkah. Berusaha menerka apa yang salah dengan kata-kataku.


"Kenapa?" tanyaku akhirnya.


"Ngga papa." Sinta berusaha menghentikan tawanya. "Kamu kok jadi serius banget ngomongnya. Aku jadi ingat ucapan Doni pas ngenalin kita."


Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Sinta benar, bahasaku jadi terlalu resmi rasanya. Ini pertama kaliny aku meminta seorang wanita menjadi pasanganku. Saat SMA aku memang pernah pacaran, tapi tak serius.


"Iya. Aku ngerti kok, maksud kamu. Aku juga ga niat pacaran yang ag serius. Bukan saatnya lagi." Sinta menghela napas. "Tapi ... apa kamu yakin mau punya hubungan denganku? Kita baru aja kenal."


Aku menjawab dengan senyuman. Pilihan ini sudah kupikirkan matang-matang satu minggu belakangan. Aku akan memberi Sinta kesempatan untuk memilih juga.


"Jadi ... kamu mau jadi calon istriku?" tanyaku to thd point.


Sinta terlihat menimbang sejenak. Aku menunggu dengan dada yang bergemuruh. Tak bisa kubayangkan kalau aku kembali ditolak. Namun, aku harus mencoba mengetahui takdir. Siapa yang tahu kalau kami memang berjodoh.


Jangan lupa vote, like dan komen 😍😍


***


Hai pembaca Ridho-Reva.❤❤


Menurut kalian gimana cerita ini? Membosankan atau gimana?


Rencananya mau aku tamatin kalau kalian mulai bosan. Tapi kalau masih banyak yang tertarik aku lanjut ke season 2 bulan depan. ☺☺

__ADS_1


Maafkaan, ternyata bulan ini tetap ga bisa up banyak. Kesibukan di dunia nyata menyita waktu akhir-akhir ini.😔😔


Boleh kasih kritik dan saran tentang cerita yaa 😘😘


__ADS_2