
Usia kandunganku sudah delapan minggu. Setelah testpack sebulan yang lalu, Ridho mengajak periksa ke dokter kandungan, tapi aku belum menyetujuinya. Nantilah, tunggu sudah dua atau tiga bulan.
Kami belum sempat berkunjung ke rumah mertua karena kondisiku yang kurang memungkinkan. Tapi Ridho sudah memberi kabar pada Bunda dua minggu yang lalu. Gawainya diloudspeaker, jadi aku bisa mendengar percakapan mereka.
"Reva sekarang hamil, Bun."
"Iyakah? Selamat, ya ... semoga istrimu sehat, kehamilannya lancar."
"Makasih ya, Bun."
Hampir setiap hari aku mengalami mual. Bahkan kadang muntah hebat. Kepalaku terasa berat dan tubuh yang sering lemas. Bersyukur, kami masih tinggal bersama Ibu, jadi Ridho tak sendiri merawatku.
"Udah lama, Beb?" Silvi muncul, menyadarkanku dari lamunan.
Aku sedang duduk di teras rektorat menunggunya. Hari ini kami akan mengurus keperluan wisuda. Sebagian syarat sudah dilengkapi minggu lalu.
"Eh. Datang juga akhirnya. Lumayan. Tadi bareng Ridho pergi kerja. Dia ga ngizinin aku bawa motor sendiri. Kemaren aku sempat drop."
"Cie ... yang punya laki perhatian. Mau juga donk ...." Silvi memasang wajah iri. "Sehat-sehat ya, ponakan tante. Jadi anak baik, jan rese kek emaknya."
Aku terkekeh pelan. Tak berniat menanggapi sifat usilnya. "Udah, ah! Kita masuk, Yuk!"
Selesai mendaftar wisuda dan mengurus administrasinya, Silvi mengajakku ke kantin depan rektorat. Aku mengikuti permintaannya karena hanya makan sedikit sebelum ke kampus. Baru masuk ke kantin, terdengar suara orang menyapaku.
"Reva ... udah lama ga kelihatan?"
Aku berdiri kaku karena terkejut. Tak menyangka dia masih mau menyapa setelah lamarannya aku tolak. Silvi menyenggol lenganku, mungkin bertanya-tanya siapa pria tampan yang begitu ramah itu.
"Iya, Kak. Apa kabar?
Deva tersenyum hangat padaku. "Sehat. Ngurus wisuda, ya? Dari tadi kakak lihat rektorat rame."
"Hu'um. Lumayan antrinya."
Lagi-lagi Silvi menyenggol lenganku sebelum kami mendekat pada Deva. Aiih, ini cewe sadar aja ada yang bening. Pasti minta dikenalin.
"Kenalin, Kak. Ini temenku, Silvi," ucapku akhirnya.
Mereka pun bersalaman dan saling menyebut nama. Aku memesan dua porsi pangsit dan es jeruk. Silvi sudah duduk satu meja dengan Deva. Aku memilih duduk di kursi yang tak terlalu berhadapan dengan laki-laki yang namanya sempat mengisi hati.
Setelah pesanan datang, kami makan sambil berbincang sesekali. Silvi semangat sekali mengikuti obrolan. Beberapa kali dia bertanya tentang hubungan kami di masa lalu. Aku hanya menjawab seadanya, kalau kami dulu satu sekolah, Deva kakak kelas dan pembimbing eskul sains.
Silvi semakin kagum setelah tahu kemampuan Deva. Apalagi setelah Deva menjawab pertanyaannya sekarang sedang mengambil S2 di kampus kami. Matanya berbinar menatap pria di depannya.
Alamat bakal ditanya-tanya sebelum pulang nanti, ini!
__ADS_1
Aku sampai bertanya-tanya, apa hubungannya dengan anak hukum yang dia ceritakan tidak berjalan lancar? Sepertinya Silvi lupa pada sosok itu saat ini.
"Reva sehat? Kok ga semangat gitu makannya?"
Aku mendongak saat mendengar pertanyaan Deva. Kami saling bertatapan sekilas. Aku hanya menggeleng pelan karena bingung menjawab apa.
"Lagi hamil dia, Kak." Silvi menjawab antusias.
Aku mendelik sebal. Silvi kenapa jadi ember gini, sih?
Walau sudah berteman lama dan tahu sifatnya, tetap saja aku kurang nyaman saat dia menceritakan hal pribadi seperti itu. Apalagi pada Deva. Benar-benar tak menyangka dia bisa keceplosan pada orang yang baru ditemuinya.
Silvi memasang wajah bingung, lalu mengangkat bahu. Ah, ini anak ga ngerti apa pura-pura lugu? Ingin rasanya kucubit pinggangnya.
"Ooh. Selamat, ya ... semoga bayinya sehat," sahut Deva.
Aku berusaha tersenyum tulus. "Makasih ya, Kak."
Aku meletakkan sendok dan garpu, lalu menghabiskan sisa es jeruk. Mie ayam masih sisa setengah, tapi aku tak bersemangat lagi memakannya. Selain kurang selera, tak ingin berlama-lama melanjutkan obrolan kami. Tak bisa kuterka, hal apa lagi yang akan diceritakan Silvi pada Deva.
"Pulang yuk, Sil!" ajakku.
"Yah ... tanggung, nih! tinggal dikit punyaku." Silvi memasang wajah tak rela.
"Cepetan habisin ... atau aku pulang duluan, nih. Aku agak pusing."
Deva tersenyum melihat perdebatan kami. Dia sudah selesai makan, tapi tetap menemani kami mengobrol. Menjawab berbagai pertanyaan dari Silvi tepatnya.
Heran! Ini anak mendadak jadi ganjen begitu. Biasanya dia santai aja kalau ada laki-laki yang menyukainya.
"Duluan ya, Kak!" pamit Silvi pada Deva. Aku hanya mengangguk pada laki-laki berkemeja biru itu.
"Sip. Hati-hati di jalan, ya."
Aku dan Silvi kembali ke rektorat tempat motor Silvi diparkirkan.
"Kak Deva ganteng ya, Rev!" serunya saat kami di jalan.
"Jangan norak gitu napa, Non?"
"Hah? Apaan, sih!"
"Kok, berubah ganjen gitu kesannya."
"Masa? Habisnya Kak Deva keren gitu, cakep lagi. Hehe."
__ADS_1
"Eh, gimana hubungan kamu dengan siapa namanya, dulu?"
"Yang mana?" Dahi Silvi sedikit berkerut menatapku.
"Itu ... yang anak hukum."
"Fikri? Udah lama ga ketemu. Kami biasa aja, kok."
"Kirain teteem-an!" godaku.
"Ish! Apaan! Ga ada. Pernah, sih ... dia ngubungi sekali, tapi ga ada nunjukin dia suka atau gimana."
"Ooh."
"Hm ... kamu punya nomor Kak Deva?"
"Ada. Buat apa?" tanyaku heran. "Jangan bilang kamu mau chat dia!"
Silvi terbahak. "Ngga! Gengsi juga kali, ngubungi duluan. Maksud aku ... kamu yang comblangin!" Silvi mengedip-ngedipkan matanya, memasang wajah sok imut.
Haiish! Untung beneran imut dia.
"Males, ah! Aku ga ada bakat nyomblangin orang," tolakku.
Risih membayangkan harus kembali menghubungi Deva. Belum lagi kalau Ridho tahu. Bisa-bisa terjadi perang dunia ke tiga.
"Yah ... dicoba dulu, donk!"
Aku berpikir sejenak. Sepertinya menyenangkan juga kalau Silvi sampai menikah dengan Deva. Aku sudah kenal baik dengan keduanya. Deva lelaki bertanggung jawab, pasti bisa membahagiakan Silvi.
"Aku pikirin dulu, deh. Kamu belum tau, sih, Ridho cemburuan orangnya. Bisa habis aku kalau dia salah paham."
Silvi menatapku dengan pandangan penuh ingin tahu. "Serius? Kamu ga pernah cerita."
"Nantilah, kapan-kapan aku ceritain. Aku pulang duluan, ya."
"Kamu ga mau aku antar? Aku udah lumayan lihai bawa motor, kok."
Aku mengibaskan tangan. "Ga usah. Aku naik angkot aja. Bisa mabok di jalan aku kalau bareng kamu. Lelet!"
Silvi terkekeh pelan. "Segitunya, sih! Ya udah. Kamu hati-hati jalannya."
Aku hanya mengangguk. Silvi melambaikan tangan sebelum aku berlalu. Berjalan pelan, menuju gerbang, pikiranku belum juga bisa lepas dari bayangan tentang hubungan Silvi dan Deva.
Jangan lupa vote, like dan komen..❤❤
__ADS_1
Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisannya di kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺