Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Ridho 8


__ADS_3

Aku terbangun begitu mendengar keributan di kamar mandi. Benar saja, Reva tak ada lagi di sampingku . Berusaha mengumpulkan kesadaran, aku membuka mata dan duduk di ranjang. Sesaat kemudian Reva keluar hanya menggunakan handuk. Dia berjalan pelan menuju lemari untuk mengambil pakaian.


"Udah mandi? Kok ga ngajak?" Aku iseng menggodanya.


Wajahku Reva terlihat memerah, tapi tak menghiraukan pertanyaanku. Wanita bertubuh semampai itu masuk lagi ke kamar mandi. Aku tertawa melihat tingkahnya yang berusaha menutupi malu.


Setelah kantuk mulai hilang, aku melangkah ke pintu kamar mandi, sengaja menunggu Reva keluar. Saat dia membuka pintu aku meraihnya dalam pelukan.


"Makasih, ya."


Reva hanya menganggukkan kepala. Rasanya tak rela melepasnya, tapi aku harus masuk ke kamar mandi. Sebentar lagi adzan Subuh berkumandang. Pasti tak nyaman rasanya bila Bapak sampai menungguku sebelum pergi ke masjid.


Saat keluar dari kamar mandi, kulihat Reva sedang melamun. "Lagi ngapain itu?"


Sepertinya dia tak menyadari Ridho kehadiranku. Reva menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Mendadak aku merasa canggung. Terpesonakah dia?


Reva terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaanku. "Eh, jadi hari ini acaranya?"


Ternyata dia sedang memikirkan acara nanti malam. "Oh ... iya. Insya Allah sore nanti kita ke sana. Jangan mampir-mampir lagi."


Reva mengerucutkan bibir mendengar kata-kataku. Aku menahan tawa yang akan tersembur. "Maksudku biar ga kecapean. Kan malam acaranya."


Reva tertegun sebentar. "Kirain nyindir," sahutnya.


Aku terkekeh pelan. "Dua-duanya."


Dia mendelik sebal. Aku tak menggubris ucapannya. Toh, aku memang berhak menasihati sebagai suami sekarang.


"Aku ke masjid dulu ya."


"Hm."


***


Selesai sarapan, aku bekerja seperti biasanya. Suasana canggung mulai berkurang ketika dia mengantarku berangkat kerja. Kukecup keningnya setelah dia mencium tanganku.


Hari ini aku hanya mengajar tiga jam pertama. Setelahnya, aku mengerjakan tugas administrasi di kantor. Beberapa saat perasaanku tak nyaman. Tiba-tiba saja ingat Reva.


Aku meraih gawai di meja dan menghubungi Reva. Untung saja waktu itu aku sempat menyimpan nomornya. Dering ke tiga baru diangkat oleh pemiliknya.


"Kamu jam berapa pulangnya?" tanyaku setelah menjawab salamnya.


Reva terdiam beberapa saat. Apa yang terjadi? Tiba-tiba aku merasa khawatir dengan keadaannya.


"Bentar lagi," jawabnya.


"Kok berisik? Lagi dimana?"


Terdengar suara lain bicara. "Ridho! Reva kecelakaan. Kamu jemput ke sini, ya!"


Astagfirullah! Ternyata ini penyebab hatiku tak tenang beberapa waktu ini.


"Kenapa ga bilang dari tadi? Kamu sekarang dimana?" Aku tak bisa menyembunyikan rasa panik.


"Daerah Tebeng, deket Masjid gede di pinggir jalan."


"Tunggu di sana, bentar lagi aku jemput."


"Iya."

__ADS_1


Aku memutuskan panggilan, lalu masuk ke ruaang kepala sekolah. "Maaf, Pak. Saya mau izin bentar. Istri saya kecelakaan."


"Innalillahi. Di mana, Dho? Parah?"


"Belum tau, Pak. Ini saya mau jemput dulu. Kalau ga parah, nanti saya balik lagi."


"Iya. Kabari kondisinya nanti, ya, kalau kamu ga balik lagi."


"Insya Allah, Pak.


Aku segera mengemas barang-barang dan menghidupkan mesin motor. Berusaha fokus melaju di jalan raya dengan kecepatan yang terbilang tinggi. Hatiku benar-benar tak tenang sebelum melihat sendiri kondisi Reva.


Sepuluh menit kemudian, aku tiba di lokasi yang Reva sebutkan. Aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan mereka. Silvi melambaikan tangan padaku.


"Kamu ga papa? tanyaku setelah berada di dekat Reva.


"Cuma lecet dikit," jawabnya.


"Lecet apaan! Luka gitu. Bandel anaknya. Tadi nekad mau pulang sendiri," Silvi menyela.


Aku menatap Reva dengan perasaan mesal. Wanitaku mengalihkan pandangannya pada Silvi. Apa yang sebenarnya Reva pikirkan?


"Makasih ya, Sil," ucapku.


"No problem. Aku duluan, ya. Titip Reva," sahutnya.


"Tenang aja. Teman kamu aman sama aku."


Silvi terkekeh pelan. "Percaya, kok!"


Wanita berkulit terang itu melangkah menuju motornya. Reva melambaikan tangan saat dia melaju ke jalan raya.


"Iya."


Setelah membawa motor Reva ke bengkel, aku kembali lagi dan menuntunnya menuju motornya. Kuraih jemarinya walau Reva terlihat canggung.


"Kita ke klinik dulu ya?" tawarku.


"Ga usah, kasi obat luka aja di rumah."


Aku menghela napas kasar. Reva mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku membantunya naik ke boncengan motor. Selama perjalanan, kami tak banyak bicara.


"Pegangan!" tegurku.


"Hah?"


Aku meraih tangannya, lalu meletakkan dipinggang. Untung Reva menurut. Kalau tidak, aku akan kesal dan menegurnya lagi.


Setibanya di rumah, kuraih pinggangnya lalu melangkah perlahan menuju teras.


"Assalamualaikum!" ucapku.


"Waalaikumsalam," jawab Ibu, lalu membuka pintu.


"Ridho? Kamu kenapa, Nak?" Ibu bergantian memandang kami.


Reva hanya meringis, terlihat bingung menjawab pertanyaan Ibu.


"Reva jatuh dari motor, Bu. Tadi temennya ngasi tau," jawabku.

__ADS_1


"Ya Allah ... parah lukanya?" tanya Ibu sambil menelisik tubuhnya.


"Ngga kok, Bu. Cuma lecet," jawab Reva.


"Ya udah, Ibu ambil obat luka dulu."


Ibu kembali dengan membawa kotak yang berisi obat-obatan.


"Nak Ridho tolong bersihin luka Reva ya." Aku mengambil kotak obat yang disodorkan Ibu.


"Baik, Bu."


Aku membawa Reva ke kamar, lalu memintanya duduk di kursi. Kemudian berjongkok untuk membersihkan lukaknya dengan kain kasa yang telah diberi cairan alkohol. Dengan cepat kuoleskan Betadin pada lukanya yang telah bersih.


"Kamu ga kerja?" tanyanya.


Aku menghela napas. Ternyata istriku masih sempat memperhatikan kondisi suaminya. "Ga usah mikirin orang lain, lagi luka gini!"


Reva mengerucutkan bibirnya. Sepertinya sedikit tersinggung dengan ucapanku. Aku tak berniat menanggapi tingkahnya.


"Kamu kenapa ga telpon aku tadi?"


"Aku ga mau bikin orang-orang khawatir."


"Ga boleh gitu lagi. Kalau terjadi apa-apa, tolong hubungi aku ya ...."


Wajah Reva terlihat semringah. Dia pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. Aku menjadi khawatir dengan kondisi Reva yang akan mengikuti acara di rumah Ayah nanti malam.


"Kamu ga papa nanti ikut ke rumah?"


"Ga papa, kok."


"Ya udah, sekarang kamu istirahat dulu, aku masih ada kerjaan di kantor."


"Iya, kamu jangan bolos kerja."


Aku tertegun mendengar kata-katanya. Sampai kapan Reva memanggilku seperti temannya?


"Mas!" tegasku.


"Iya, M-Mas," ucapnya.


Aku tersenyum senang mendengarnya. Kucium keningnya sebelum keluar dari kamar.


***


Usai mengerjakan sisa tugas hari ini, aku bergegas menyimpan peralatan kerja ke dalam tas. Tak sabar rasanya ingin mengetahu keadaan Reva. Semoga tak ada luka serius, tadi aku tak sempat memeriksa bagian tubuhnya yang lain.


Tiba di rumah, aku mengucapkan salam. Ibu menjawab dari kamar. Aku langsung masuk karena pintu terbuka. Bergegas melangka ke kamar untuk melihat Reva. Dia sedang berusaha turun dari ranjang.


"Kamu mau kemana?" tanyaku.


"Mau makan."


"Di sini aja. Biar aku ambilin."


Jangan lupa vote dan like-nya 😘😘


Vote itu pake point yaa, ga bayar, kok. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan pointku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. ❤❤

__ADS_1


__ADS_2