Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Harapan Baru


__ADS_3

Setelah shalat Isya dan membaca beberapa halaman ayat Allah, aku mengambil gawai di meja. Membuka aplikasi novel online dan membaca beberapa cerita yang sempat kuabaikan. Cukup membuatku terhibur dengan beberapa adegan lucu yang diceritakan penulisnya.


Ridho yang baru pulang dari masjid, tersenyum sekilas padaku. Lelakiku mengambil tas dan mengeluarkan laptop. Beberapa waktu dia larut dengan pekerjaannya.


Puas membaca cerita yang menarik, aku berselancar sejenak di dunia maya. Ada undangan pernikahan dari temanku saat kuliah di luar kota. Aku membayangkan acara ini bisa menjadi ajang reunian bagi kami andai bisa hadir di sana. Semoga saja Ridho tak sibuk nanti.


Aku pindah pada aplikasi pesan, ada satu pesan dari Silvi. Aku tersenyum melihat profil barunya. Foto Silvi bersama beberapa siswanya di sekolah.


[Beb, kapan jadi kumpul?]


Seketika aku ingat janji kami untuk kumpul saat Silvi ke rumah. Ah, hampir saja aku lupa. Kejadian demi kejadian membuat pikiranku kurang fokus akhir-akhir ini.


[Atur aja, Sil. Aku ikut aja. Udah baca undangan dari Rani?]


[Aku belum dapat, ih.]


[Di Facebook, Neng. Mungkin dia ga sempat antar undangan ke kota.]


[Oh ... aku belum ada buka Facebook, sih. Kapan? Seru dunk, kalo kita bisa kumpul di sana.]


[Dua minggu lagi. Aku juga mikir gitu. Kalo ga sempat kumpul minggu ini, kita ketemu di sana aja nanti, insya Allah.]


[Ok, Beb. Aku lihat jadwal dulu.]


[Halah! Udah kek artis aja kamu!]


[Haha. Takutnya ada acara di sekolah yang aku belum tau, maksudnya.]


[Oh gitu. Nanti saling kabar lagi, ya. Kita ramean aja berangkatnya. Aku juga mau tanya Ridho dulu.]


[Iya, deh, yang sudah punya Mas Ridho.]


Emoticon bulat kuning yang menjulurkan lidah ditambahkan di ujung pesan Silvi membuatku terkekeh. Punya teman yang unik memang bisa mengubah suasana hati. Ah, jadi rindu pada wanita mungil yang cantik itu.


Aku meletakkan gawai kembali di meja, lalu naik ke ranjang. Ridho yang tadi sibuk bekerja di depan laptop terlihat mematikan layar datar itu. Tak lama kemudian, dia menyusul langkahku.


Kami pun berbaring di ranjang. Ridho meletakkan tangannya di pinggangku. Aku memiringkan tubuh agar posisi kami berhadapan.


"Ada undangan dari temen saat kuliah," ceritaku.


"Kapan? Hari apa?"


"Dua minggu lagi. Hari sabtu."

__ADS_1


"Lihat nanti, ya. Kalau mas ga ada kerjaan, insya Allah mas temenin ke sana."


"Iya, Mas."


Aku kembali berbaring ke posisi semula. Mataku nanar menatap plafon. Pikiranku kurang fokus saat Ridho bercerita.


Sekitar satu minggu, semua proses pembelian rumah baru selesai. Hal ini karena harus menunggu kedatangan pemilik rumah saat akhir minggu. Tinggal proses renovasi, kami akam keluar dari rumah ini meninggalkan Bapak dan Ibu.


"Kamu udah punya gambaran mau dibuat seperti apa rumah kita?" Pertanyaan Ridho membuyarkanku dari lamunan.


"Hah?" Aku tergagap sejenak. "Aku udah pernah searching. Bentuk minimalis cocok untuk rumah kita yang mungil."


"Benar juga. Bentuk depannya gimana?" Ridho bertanya penuh antusias.


"Terserah Mas aja. Aku cuma pengen punya taman kecil di halaman depan. Bisa untuk naruh pot-pot bunga."


"Oh ... siap! Mau dibikinin kolam juga?"


"Boleh ... tapi aku kurang telaten ngurus yang kayak gitu."


"Tenang aja, nanti mas yang urus."


"Kalau beli bibit pohon di mana ya, Mas?" Aku kembali teringat dengan rencana awal. "Di halaman belakang bisa ditanami pohon kayaknya. Hasil cangkokan juga ga papa, deh."


"Dekat sana ada kok yang jual. Mas sempat lihat pas datang lagi. Nanti kita ke sana pas rumah udah mulai direnovasi."


"Sama-sama, Sayang ... apa sih, yang ga buat Nyonya Ridho?"


"Huh! Gombal!"


Ridho tertawa melihatku mengerucutkan bibir. Hatiku menjadi hangat melihat wajah cerianya. Hampir seminggu sibuk mengurus semua hal tentang proses pembelian rumah sepulang kerja, cukup membuat Ridho pusing.


Tanganku bergerak membelai rambutnya. Sudah lama aku tak memperlakukan dia begini. Hampir satu bulan ini, hanya Ridho yang sibuk memanjakanku.


"Mas mau buat usaha apa di sana nanti?"


"Belum pasti, sih. Tapi udah ada beberapa pilihan. Lihat sikon di sana dulu, mana yang lebih cocok."


"Oh gitu ... suamiku memang pintar!" pujiku.


"Wah, tumben, nih?"


"Apanya?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Muji-muji gitu. Ada maunya, ya?"


"Ga ada, ah!" Aku mendelik sebal.


"Ada maunya juga ga papa, kok."


"Ish, apaan!"


Aku kembali mendelik karena milihat wajah usilnya. Ridho mengedipkan sebelah matanya. Sekejap mata, dia mencium bibirku sekilas.


Hadeh! Ini, mah ... dia yang ada maunya. Malah ngeyel nuduh orang.


Aku mencubit pinggangnya karena gemas. Ridho mengaduh, lalu menarik tanganku. Tersenyum sangat manis, lalu mencium jemariku.


"Kok jadi galak gini, sih?"


"Habisnya, Mas rese!"


Ridho terkekeh pelan. "Suka melamun, sih. Bikin Mas ga tenang aja."


Aku menatap matanya sejenak. Apa dia sempat menerka pikiranku? Terbuat dari apa hati suamiku ini?


Di saat dia antusias dengan rencana kepindahan kami, aku malah begitu berat meninggalkan Bapak dan Ibu. Tapi dia tetap berusaha menghiburku. Hatiku sedikit terenyuh dengan kelapangan hati Ridho.


"Maaf ya, Mas ... kalau aku kurang fokus sama pembicaraan kita."


"Ga papa. Mas ngerti kok, kamu pasti sedih ninggalin Bapak dan Ibu. Selama ini seringnya di rumah bercengkrama bersama mereka."


Mataku basah mendengar kata-katanya. Benar, aku memang jarang keluar rumah. Merasa cukup dengan kasih sayang orang tua, membuatku tak terlalu terobsesi dengan dunia luar. Hanya sesekali berkumpul dengan teman kuliah.


"Mas ga marah?"


"Ngga, Sayang ... walau kita udah pindah, kamu bebas kok, mau jenguk Bapak dan Ibu. Asal tau waktu dan bilang dulu sama aku."


"Iya, Mas. Makasih, ya udah ngertiin aku." Aku mengecup pipinya dengan penuh perasaan.


Ridho tertegun sejenak, lalu membelai pipiku dengan lembut. Mata kami bertatapan beberapa saat saling menyampaikan rasa yang tak bisa diuangkapkam dengan kata-kata. Bibirku melengkungkan senyuman melihat ketulusan yang terpancar dari matanya.


Wajah Ridho semakin mendekat ke wajahku. Dia mengecup kedua kelopak mataku yang terpejam. Menggesekkan hidung kami seperti adegan yang pernah kutonton di film. Tak lama, bibir Ridho kembali menyapu lembut bibirku.


Aku berusaha membalas ciuman Ridho dengan penuh perasaan. Napas kami mulai memburu dengan detak jantung yang mulai tak karuan. Ridho melepas bibirnya, lalu kembali tersenyum. Tangannya bergerak membelai rambutku. Aku memejamkan mata berusaha menikmati kemesraan yang Ridho ciptakan.


Ridho mulai menyatakan kebutuhan lelakinya lewat sentuhan di kulitku. Aku tersenyum tanda siap menerima keinginannya. Tak menunggu waktu lama, Ridho menarik gaun tidurku hingga terlepas. Kami pun hanyut dalam luapan kasih sayang yang begitu membahagiakan.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote-nya zheyenk 💕💕



__ADS_2