Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Bahagia Sesaat


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun tiba, dari pagi kami serumah sibuk mengemasi barang-barang yang akan di bawa ke rumah baru. Ridho tampak bersemangat. Ibu pun tak kalah antusias menyiapkan keperluan kami, terutama makanan untuk disantap di sana.


Sepulangnya Bapak dan Ridho shalat Zuhur, kami mulai memasukkan barang-barang ke mobil. Beberapa barang lain, seperti peralatan masak dan kursi teras sudah kami beli dan antar kemaren, sekalian membersihkan rumah. Sisanya akan kami beli lagi setelah di sana agar lebih tahu peralatan apalagi yang kami perlukan.


Selesai berkemas, Ibu mengajak kami makan siang terlebih dahulu. Tubuh yang lelah membuat selera makan bertambah. Kutatap wajah Bapak dan Ibu yang sudah berkeringat, rasa sayang pada mereka semakin bertambah.


Saat kami bersiap pergi, kedua mertuaku datang. Kami menjawab salam mereka serentak. Bunda terlihat cantik dengan gamis biru yang dipakainya. Dia membawa kue dan buah di tangannya.


"Mbak semakin seger wajahnya," puji Ibu.


"Ah, besan bisa aja."


"Beneran ... bagi-bagi donk, resepnya!" canda Ibu.


Bunda hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu. Aku ikut senang melihat keakraban mereka. Ridho pun tampak semringah melihat kedekatan orang tua kami.


Teringat kejadian saat kami berkunjung ke rumah Ayah kemaren. Aku ikut ke sana karena Ridho meminjam mobil Ayah. Walau belum sehangat dulu, sikap Bunda tak terlalu dingin lagi padaku. Mungkin dia sedang bahagia dengan pencapaian anaknya.


Bapak dan Ayah mengobrol sebentar di teras. Aku dan Ridho kembali memeriksa barang bawaan, takut ada yang tertinggal. Setengah jam kemudian, kami berangkat beriringan menuju rumah impian.


***


Sebelum waktu Ashar, semua barang sudah dimasukkan ke rumah. Bunda mengeluarkan camilan yang dibawanya. Kami duduk di teras sambil berbincang untuk melepas lelah.


Adzan Ashar berkumandang, Ridho, Bapak dan Ayah pamit untuk shalat di masjid. Aku mengistirahat tubuh sejenak saat Ibu dan Bunda shalat di ruang keluarga. Sore ini matahari bersinar cerah, udara cukup sejuk karena beberapa tetangga menanam pohon di depan rumah.


Setelah para laki-laki pulang dari masjid, kami mulai menata barang di rumah. Aku bersyukur mempunyai orang tua dan mertua yang begitu perhatian. Tak terbayang rasanya andai harus membereskan sendiri barang-barang yang berantakan.


Pukul setengah enam sore, kedua mertuaku pulang. Ibu menawari mereka makan terlebih dahulu, tapi Ayah menolak dengan sopan karena takut kemalaman. Butuh waktu hampir satu jam untuk menempuh perjalanan ke rumah mertua dari rumah kami.


"Kami duluan ya, Mat!" pamit Ayah pada Bapak.


"Iya, Fik. Hati-hati di jalan."


Bunda tersenyum, lalu memeluk Ibu. Aku dan Ridho mencium tangan mereka. Kami melambaikan tangan saat mobil mereka keluar dari halaman rumah.

__ADS_1


Bapak dan Ibu juga pulang sebelum Magrib. Tinggallah kami berdua dalam suasana sepi. Terlebih saat Ridho pamit ke masjid. Aku menatap foto pernikahan kami yang terpajang di dinding. Baru sejenak berpisah, sudah rindu dengan kedua orang tuaku.


***


Bangun pagi, aku menyiapkan sarapan untuk Ridho. Hanya nasi goreng dan segelas teh hangat. Kami belum sempat belanja kebutuhan pokok. Ridho menyantap sarapannya dengan lahap.


Aku akan belanja nanti siang saja, di jalan depan ada minimarket dan kedai yang menjual sayur. Jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Motorku belum sempat dibawa kemarin.


"Kamu baik-baik di rumah, ya ... kunci pintu kalau ngantuk. Takutnya ketiduran seperti waktu di rumah Bapak dulu."


"Iya. Mas hati-hati di jalan, ya."


Aku mencium tangan Ridho. Laki-laki bermata tajam itu memelukku erat, mungkin karena ini hari pertama dia meninggalkanku di rumah. Hatiku terharu dengan sikapnya.


"Udah ... nanti mas telat!" ujarku.


Ridho mengecup kening, juga pipi kiri dan kananku. Aku tersenyum berusaha menenangkannya. Ridho kembali memelukku sebelum melangkah menuju mobil. Aku melambaikan tangan saat Ridho tersenyum dari balik kemudi.


***


Tadi malam tubuh sudah lelah, aku dan Ridho tidur setelah Isya. Bahkan, kami tak sempat lagi bicara sebelum tidur seperti biasanya. Ridho hanya mencium keningku, lalu jatuh tertidur.


Hampir jam sepuluh, akhirnya pekerjaanku selesai. Aku pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya memakai pakaian rumah yang dilapisi sweater, aku akan belanja untuk keperluan beberapa hari.


Saat akan keluar dari rumah, terdengar salam dari depan. Seorang laki-laki yang bertugas mengantar kulkas. Aku sedikit terkejut karena tak merasa memesan.


"Ga salah alamat, Pak?" tanyaku.


"Ngga, Mbak. Ini rumah Bapak Ridho, 'kan?"


Aku tertegun sejenak. Tak menyangka Ridho yang memesan barang untuk kami. Mungkinkah saat aku sibuk memilih keperluan dapur kemarin?


"Eh. Iya. Silahkan dimasukkan, Pak."


Laki-laki itu dan teman kerjanya meletakkan kulkas di dekat pintu ruang tamu. Aku tak berani membiarkan mereka lama di dalam rumah. Apalagi suasana tengah sepi pagi hari begini.

__ADS_1


Aku menghubungi Ridho untuk mengkonfirmasi. "Mas, kok ga bilang-bilang beli kulkas?"


Ridho terkekeh. "Tadi mas ada keperluan ke luar, jadi sekalian mampir ke toko barang elektronik. Mikirnya kamu pasti butuh buat nyimpan makanan."


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama, Sayang."


***


Jarum jam di dinding menunjuk ke angka tiga, tapi Ridho belum pulang. Aku memutuskan untuk merapikan tanaman yang kami beli dulu. Tadi sudah kami ambil dari tempat penjualnya.


Ridho pulang hampir pukul empat sore. Aku sudah mandi dan berpakaian rapi. Kami memutuskan untuk duduk sejenak di teras rumah. Hari yang cerah dan udara yang sudah sejuk membuat kami betah duduk lebih lama.


"Kamu ngapain aja hari ini?" tanya Ridho.


"Pagi tadi beresin rumah, siangnya belanja sayur dan keperluan lain di minimarket depan, menjelang sore rapiin tanaman."


"Wah ... banyak banget yang dikerjain. Ga cape?"


"Ga juga. Habisnya sepi sendiri di rumah."


"Maaf ya ... kamu harus melewati waktu sendiri di rumah tiap hari sekarang."


"Ngga papa, Mas. Nanti kuminta Silvi sesekali main ke sini. Atau bisa main ke rumah Ibu kalau lagi suntuk."


"Boleh ... tapi ga bisa tiap hari juga, 'kan? Apa mas cari orang buat bantuin beresin rumah? Biar kamu ga terlalu cape, ada temen ngobrol juga."


"Kayaknya ga usah dulu, Mas. Mas kan harus nabung buat bikin usaha."


"Istri mas memang pengertian. Makasih ya, Sayang ... udah mau support mas selama ini."


Aku mengangguk sambil tersenyum. Ridho menatapkan dengan pandangan haru. Aku pun mengajak dia masuk karena sudah terlalu sore. Baru akan beranjak ke dalam rumah, terdengar salam dari luar pagar. Kami kembali membalikkan tubuh.


Sinta?

__ADS_1


__ADS_2