
Setibanya di rumah sakit, aku membantu membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. Bunda tetap tak banyak bicara padaku. Aku mencoba bersabar demi Ridho.
"Kalian nginap di rumah?" tanya Ayah saat sudah di mobil.
"Iya, Yah," jawab Ridho.
Aku duduk di samping Ridho di depan. Sementara Ayah menemani Bunda di belakang. Kami kembali hanyut dalam keheningan. Entah mengapa aku tak begitu semangat bicara saat berada di dekat Bunda.
"Reva ga jadi ngurus skripsi?" Ayah kembali membuka obrolan.
"Lagi persiapan, Yah. Tinggal nunggu jadwal dari dosen."
"Iya. Jangan ditunda-tunda. Reva ngga papa kalau besok mau ke kampus."
"Insya Allah lusa ke sana, Yah."
"Semoga dimudahkan prosesnya, ya."
"Makasih, Yah."
Bunda tak terdengar suaranya. Ridho tetap fokus menatap ke depan. Sempat kulihat senyum di bibirnya. Aku juga merasa bersyukur dengan perhatian dari ayah mertua.
Sesampainya di rumah, Ridho membantu Ayah mengangkut barang-barang yang ada di mobil ke dalam rumah. Aku menyiapkan makan siang. Ibu sudah menyiapkan rantang yang berisi lauk untuk dibawa ke sini. Aku tinggal memasak nasi dan membuat minum untuk Ridho dan Bapak.
Makanan sudah siap di meja, aku pun meminta Ridho mengajak Ayah dan Bunda untuk makan. Kami makan dalam diam. Sesekali Ridho melirikku dan Bunda.
"Kamu udah izin tadi, Dho?" tanya Ayah.
"Udah, Yah."
"Syukurlah. Beberapa hari ini kamu sibuk ke rumah sakit, padahal baru kerja di sana."
"Tenang aja, Yah. Atasan Ridho pengertian, kok. Ridho juga janji akan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu nanti."
Ayah menganggukkan kepala, lalu melanjutkan suapannya. Bunda menatap Ridho penuh kasih. Aku hanya diam, tak berniat ikut bicara.
Setelah makan dan membereskan bekasnya, aku masuk ke kamar. Ridho masih mengobrol dengan Ayah di teras rumah. Kuraih tas untuk mengambil gawai di dalamnya. Aku pun mengetik pesan untuk Silvi.
[Kamu lagi di mana, Sil? Kapan ke kampus?]
[Lagi di rumah, Beb. Bareng kamu aja. Males ke kampus sendiri.]
[Ok. Kalau ga besok, lusa kita ke dekanat, ya.]
[Siap. Kamu WA aja kapan pastinya.]
Aku meletakkan gawai ke meja, lalu membaringkan tubuh di ranjang. Tak lama kemudian, Ridho masuk ke kamar. Aku berusaha menerbitkan senyuman walau hatiku gelisah.
"Makasih, ya, udah bantu aku urus Ayah dan Bunda."
Aku menganggukkan kepala. "Merekakan orang tuaku juga sekarang.
Ridho mencium keningku. "Aku ke masjid dulu, ya."
__ADS_1
"Iya."
Sepeninggal Ridho, aku memejamkan mata. Ah, hari ini masih panjang. Lebih baik aku tidur, siapa tau bangunnya hati menjadi tenang.
Baru akan terlelap, Ridho membuka pintu kamar. "Aku bangunin kamu, ya?"
"Ga papa. Baru mau tidur tadi."
"Aku kerja dulu, ya. Mungkin udah lewat Ashar pulangnya. Ga enak, tadi pagi udah izin."
"Iya. No problem."
Ridho mencium keningku sebelum berlalu dari kamar. Rumah terasa sepi tak ada suara orang. Aku pun mengunci pintu, melanjutkan niat untuk tidur.
Aku terbangun hampir pukul empat sore. Rumah masih sepi. Sepertinya Ayah juga pergi ke kantor. Aku pun keluar dari kamar untuk mencuci muka. Bergegas kuambil sapu dan alat pel untuk membersihkan rumah.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Bunda saat aku hampir selesai.
"Ga perlu. Besok orang yang bersihkan rumah datang lagi."
"Ga papa, Bun. Aku biasa, kok."
"Ya udah." Bunda kembali ke kamar.
Aku menghela napas. Menatap punggung Bunda yang menjauh. Sampai kapan Bunda akan bersikap dingin padaku?
Setelah menyimpan perlengkapan bersih-bersih, aku kembali ke kamar. Mengambil handuk dan baju ganti, lalu masuk ke kamar mandi. Sejuknya air membuat pikiranku menjadi lebih tenang.
Terdengar Ridho mengucapkan salam. Bergegas memakai pakain, lalu keluar dari kamar mandi. Ridho tersenyum melihatku, lalu mendekat.
"Ish! Malu tau!" Aku melirik ke kamar Bunda, takut kepergok sedang bermesraan di ruang keluarga.
Ridho tertawa. "Sayang ga bisa disentuh!"
Aku mendelik sebal. Bergegas melangkah ke kamar. Punya suami kok, suka rese!
Ridho menyusulku ke kamar, memelukku dari belakang. "Gitu aja ngambek...."
"Ga. Biasa aja!"
"Itu mukanya ditekuk. Minta dicium?"
Aku pura-pura ingin melepaskan diri, padahal dalam hati senang dengan perlakuan Ridho. "Udah. Mandi sana!"
"Males!"
"Bau gitu!"
"Masa, sih?" Ridho pun mencium aroma tubuhnya.
Aku segera melepaskan diri dan menjauh sambil tertawa.
"Dasar! Udah berani ngerjain sekarang, ya?" Ridho meraih pinggangku dan menggelitiknya.
__ADS_1
"Haha. Udah. Malu didengar orang!"
Ridho pun menghentikan ulahnya, lalu mencium pipiku dengan gemas. "Kita lanjutin nanti malam," bisiknya.
"Aku masih mens," bisikku di wajahnya.
"Arrghh!" Ridho menyugar rambutku sedikit frustasi.
***
Usai makan malam, kami menonton TV. Bunda cuma bergabung sebentar, lalu kembali ke kamar. Ridho memencet remote untuk mencari acara yang menarik.
"Kalian belum mutusin untuk cari rumah?" tanya Ayah.
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan ayah mertua. Sedikit pun tak berpikir tentang rumah sekarang. Apalagi, aku belum mempunyai pekerjaan.
"Tabungan Ridho belum cukup, Yah. Sempat kepikiran cari kontrakan, tapi Reva masih sibuk dengan skripsi. Tunggu udah ada waktu longgar aja nanti."
"Kan bisa pake duit ayah dulu, Dho. Ga usah kalau ngontrak sekarang. Repot lagi nanti mindahin barang kalau udah punya rumah."
Selain mengajar di sekolah, Ridho juga mempunyai usaha percetakan dan fotokopi bersama temannya. Aku baru tahu belakangan ini. Kami memang jarang bercerita tentang pekerjaannya.
"Nantilah, Yah. Ridho pikirin dulu. Tunggu Reva selesai skripsi baru mikirin rumah."
"Iya. Kamu jangan sungkan kalau butuh bantuan ayah."
Ridho mengangguk pelan. Aku hanya diam menyimak obrolan mereka. Tak lama adzan Isya berkumandang. Ridho dan Ayah pamit ke masjid.
Aku memutuskan tetap menonton TV. Acara komedi di salah satu stasiun swasta membuatku lumayan terhibur. Aku berusaha menahan tawa agar tak mengganggu Bunda yang sedang istirahat.
Tak terasa, hampir setengah jam berlalu. Ridho dan Ayah sudah kembali dari masjid. Kami pun masuk ke kamar untuk beristirahat.
"Kamu ngapain aja tadi?" tanyanya saat kami sudah berbaring.
"Ga ada. Bangun tidur, terus bersih-bersih rumah."
"Ngapain repot gitu? Kan ada yang bantu bersih-bersih."
"Ga papa, Mas. Aku lihat rumah udah debuan, berapa hari kosong selama Bunda di rumah sakit."
"Besok-besok ga usah lagi, ya. Aku ga mau kamu cape dan jatuh sakit. Nanti tertunda lagi ngurus skripsinya."
"Iya, Mas bawel!" sahutku.
Ridho mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibirku. Aku membelalakkan mata karena terkejut. Melihat aku kesulitan bernapas, Ridho menghentikan aksinya.
"Apaan sih, Mas? Kan udah dibilang aku lagi mens."
Ridho terbahak. "Ingat, kok. Tapikan ciuman dan lainnya ga dilarang." Ridho mengedipkan sebelah matanya.
"Ganjen!"
Ridho tak memperdulikan kata-kataku, lalu kembali melanjutkan aksinya. Aku tak membantah lagi. Membuat diri senyaman mungkin dan membalas ciuman Ridho.
__ADS_1
Huaaah! Skripsiku gimana ini?