
Laki-laki menyebalkan itu mendekat. Aku mundur perlahan, kakiku sudah menempel ke tepi ranjang. Ridho mendekatkan wajahnya. Jantungku bertalu-talu menahan debar yang mendadak muncul kembali.
Kuremas seprai dengan tangan gemetar. Wajahku memanas, mungkin terlihat seperti kepiting rebus.
Ridho semakin mendekatkan wajahnya. Refleks kupejamkan mata. Tak tahu perasaan mana yang lebih dominan, gugup atau takut.
"Kalau sudah nikah ... harus bisa jaga perasaan suami."
Napas Ridho menerpa Wajahku. Aku membuka mata, lalu mendorong pelan tubuhnya. Perasaan malu dan gugup menyatu membuatku salah tingkah.
"Minggir! Aku mau lanjut ngedit." Aku berusaha menutupi perasaan yang tak menentu
Ridho mundur perlahan. Sempat kulihat dia menahan senyum. Kutarik napas pelan untuk menenangkan diri.
Shit! Kenapa juga tubuhku tak bisa diajak kompromi?
Debar jantung yang lebih cepat dari biasanya membuatku susah bernapas. Aku berbalik membelakangi Ridho, lalu menghirup Oksigen dengan rakus. Perlahan kutarik kursi untuk duduk sejenak sebelum membuka file skripsi.
"Kenapa?"
"Ng-ga papa," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
"Pasti tadi mikir macam-macam."
"Apaan? Ngga ada!" Aku menoleh sekilas dengan memasang wajah kesal.
"Itu wajahnya kenapa?"
Aaarg! Ridho benar-benar menyebalkan!
Aku memilih mengabaikan kata-kata Ridho. Rasanya lebih kebal dengan sikap cueknya dibandingkan sifat usilnya.
Kubuka kembali file skripsi dan mengecek kesalahan yang mungkin masih ada. Ridho terlihat membuka laptopnya.
Syukur, deh.
Setidaknya aku bebas dari ejekannya. Kami pun sibuk dengan aktivitas masing-masing. Suasana kamar terasa hening. Aku memutar lagu di aplikasi musik. Lagu 'Paint My Love' dari MLTR mengalun lembut.
Hampir satu jam berlalu, kuregangkan tubuh untuk menghilangkan kebas. Ridho terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku beranjak keluar kamar untuk mengambil minum. Laki-laki itu seperti tak menyadari keberadaanku, mungkin juga pura-pura tak tahu.
Di ruang keluarga Ibu terlihat menjahit sarung bantal yang sedikit terbuka jahitannya. Sesekali matanya melirik ke arah TV. Jadi ingat artikel yang pernah kubaca, wanita kalau sudah jadi Ibu, bisa melakukan beberapa hal dalam satu waktu.
"Nonton apa, Bu? Bapak udah tidur?" Aku duduk sebentar di sebelah Ibu.
"Iya. Itu, sinetron yang ceritanya tentang pelakor. Tau pelakor?"
"Tau dong. Aku ada baca cerita kayak gitu di grup menulis yang aku ikuti. Ibu ada-ada aja tontonannya. Nanti jadi baper, baru mewek!"
"Baper apa, Nak?"
"Suka terbawa suasana gitu. Bahkan pengen jambak rambut yang jadi pelakor."
Ibu terbahak. "Kamu bisa aja. Memangnya kamu ngga baper pas baca cerita gitu?"
"Nggaklah. Aku ga terlalu dipikirin. Buat hiburan aja, syukur-syukur ada pelajaran yang bisa diambil."
"Wah ... anak Ibu udah dewasa ternyata."
Aku tersenyum mendengar pujian Ibu. "Aku mau ke dapur dulu ambil minum. Haus."
"Ridho ngga dibuatin minum?" tanya Ibu.
"Ga minta dia. Lagian cuma mau ambil air putih ini."
__ADS_1
"Kamu nih ... bawain buat Ridho juga. Mungkin dia masih segan di rumah kita."
Sempat tertegun mendengar kata-kata Ibu. Benar juga, Ridho pasti masih malu ngambil makan atau minum sendiri. Aduh, gimana aku di rumahnya nanti ya?
"Malah bengong!" Ibu menepuk lenganku.
"Baik, Nyonya. Siap laksanakan!"
"Kerja yang rajin ya, Mbak ...."
Aku terkekeh pelan. Ibu memang orang tua yang mengagumkan, bisa jadi orang tua sekaligus sahabat buatku. Walau sudah tua, tapi Ibu masih asik diajak bercanda.
Kulangkahkan kaki menuju dapur. Niatnya mau membuat minum buat Ridho.
Tanyain dulu kali ya, dia mau minum apa. Aku mengambil segelas air, lalu kembali ke kamar.
Ridho terlihat berbaring di ranjang. Aku mendekat, ingin memastikan dia sudah tidur atau hanya istirahat. Ternyata matanya sudah terpejam. Alis tebal, hidung mancung, dengan rahang kokoh dan rambut yang lebat. Wajah Ridho terlihat benar-benar jantan. Tanganku bergerak ingin menyentuh rambutnya.
Sadar Reva! Ingat kejadian kemarin. Bisa-bisa kamu jantungan nanti.
Kuurungkan niatku, beralih melangkah menuju laptop yang masih menyala. Menyimpan file, lalu mematikan laptop.
Setelah membereskan laptop dan kertas-kertas calon skripsi, aku meraih gawai di meja. Mengecek pesan masuk di aplikasi WhatsApp. Di grup kelas, terdapat pengumuman mengenai jadwal dosen dan seminar hasil terdekat.
[Rev. Besok ke kampus?] Pesan dari Silvi masuk.
[Belum, kayaknya lusa.]
[Yah, ga seru, aku sendiri di kampus.]
[Lebay! Teman-teman lain kan banyak. Lagian mau ngapain ke sana?]
[Mau lihat seminar hasil Kakak tingkat. Itung-itung buat pemanasan.]
[Ok. Besok kita wa lagi yoh.]
Aku tak membalas lagi pesan Silvi. Berpindah pada aplikasi Facebook. Sudah lama aku tak berkunjung ke grup literasi. Setelah membaca beberapa cerpen dan puisi, mataku mulai mengantuk.
Beranjak naik ke ranjang, kuletakkan guling di tengah kami. Setelah membaca ayat kursi dan beberapa surat pendek, aku jatuh tertidur.
***
Hawa panas membuatku gelisah dan terbangun. Saat membuka mata, Ridho sedang memandang wajahku. Kami sempat saling menatap beberapa detik, lalu laki-laki itu mengalihkan pandangannya, beranjak ke kamar mandi.
Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi. Lebih baik shalat malam beberapa rakaat. Aku duduk di tepi ranjang menunggu Ridho keluar.
"Kamu mau shalat juga?" tanyanya setelah selesai berwudhu.
Aku hanya menganggukkan kepala. Perlahan melangkah menuju kamar mandi.
"Kita shalat jamaah aja," ucapnya saat aku mengambil mukena.
Aku berdiri dengan canggung di belakangnya. Beberapa saat, kami larut dalam suasana mengingat Tuhan.
Setelah selesai berdoa, Ridho mengulurkan tangannya padaku.
"Hah?"
"Salim!" ucapnya dengan nada ketus.
Aku pun segera mencium tangannya. Tak ingin menambah masalah dengan laki-laki menyebalkan itu.
Kuputuskan untuk tidur kembali setelah melipat mukena. Ridho kembali berkutat dengan pekerjaannya.
__ADS_1
***
Terbangun saat adzan subuh berkumandang, bergegas turun dari ranjang, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Ridho sudah tak terlihat di kamar.
Selesai melaksanakan shalat subuh, aku beranjak menuju dapur. Ibu sudah sedang menanak nasi. Aku memanaskan air untuk membuat kopi Bapak dan Ridho.
"Hari ini ke kampus, Nak?"
"Belum tau, Bu. Kalau pergi mungkin udah siang."
"Ya udah, itu ikannya digoreng. Ibu ambil sayur dulu di kulkas." Ibu beranjak ke sudut dapur.
Aku memanaskan minyak di wajan, lalu menggoreng ikan nila yang sudah Ibu bersihkan. Menunggu ikan matang, aku menyiapkan bahan untuk sambal.
"Sayurnya direbus aja, Bu?" tanyaku
"Terserah. Ditumis juga boleh."
"Siip. Ibu istirahat aja. Biar aku yang kerjain."
"Ya udah. Ibu ambil pakaian kotor di kamar dulu. Baju Ridho ambilin juga tuh. Kemarin Ibu nyuci ngga ada bajunya."
"Oke. Ibu tenang aja, nanti aku yang nyuci."
"Baiklah, Mbak shaleha...."
Aku terbahak, "Ibu bisa aja."
***
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, aku kembali ke kamar untuk beristirahat sebentar. Rumah terasa sepi, Ibu pergi ke rumah saudaranya yang sakit. Bapak pergi ke toko kami yang terletak di daerah pasar.
Teringat saat Ridho pamit kerja tadi. Dengan canggung aku mencium tangannya. Laki-laki itu kembali memasang wajah dingin.
Hadeh! Kenapa aku jadi sering memikirkan laki-laki itu sekarang?
Kuraih gawai di meja, lalu mengecek pesan yang masuk.
[Rev! Jangan lupa ke kampus.] Pesan dari Silvi.
[Ok.]
[Dek, kalau ke kampus, kabari Kakak, ya.]
Tertegun saat kubaca pesan dari Kak Deva. Apa dia tertarik padaku?
Aku menggeleng pelan. Kok aku jadi GR begini?
Kuhidupkan aplikasi musik untuk mengusir rasa sepi. Lagu 'You're beautiful' dari James Blunt mulai mengalun membuatku tenang. Entah mengapa aku begitu menyukai lagu-lagu lama.
Setelah rasa lelah berkurang, aku beranjak ke kamar mandi. Kupilih rok bahan dan kemeja untuk berangkat ke kampus. Tak lupa jilbab berwarna biru senada dengan kemeja.
Lima belas menit berlalu, aku mengunci pintu, lalu menghidupkan mesin motor. Jalanan tak terlalu ramai, mungkin karena hari sudah siang.
Setibanya di kampus, kuparkirkan motor di depan gedung bersama. Saat akan menaiki anak tangga, pandanganku terpaku pada laki-laki yang pakaiannya mirip Ridho.
Benar, itu memang Ridho. Laki-laki itu sedang mengobrol dengan seorang wanita. Cantik. Seketika dadaku terasa panas.
Hai teman-teman pembaca Ridho dan Reva ....☺
Gimana ceritanya?
Jangan lupa vote yaa..❤❤
__ADS_1