
Aku melihat beberapa postingan online shop untuk mencari kado. Besok hari pernikahan Deva dan Sinta. Pilihanku jatuh pada batik couple untuk mereka.
Mataku tak bisa beralih dari pasangan kemeja bermotif batik berwarna biru itu. Cocok sekali untuk kulit Deva dan Sinta yang sama-sama putih. Mudah-mudahan barangnya masih ada.
Biarin, deh ... mirip sama hadiah Sinta untukku dan Ridho.
Aku pun mengirim pesan pada ownernya. Pemilik online shop menjelaskan, pesananku akan tiba tiga hari lagi. Tidak masalah. Toh, pengantin baru itu rasanya tak akan kemana-mana dalam tiga hari ini.
Gerakan tanganku terhenti karena gawaiku berdering. Nama Bunda terbaca di layar. Kuangkat panggilan dari ibu mertua yang semakin dekat denganku akhir-akhir ini.
"Assalamualaikum, Bun!"
"Waalaikumsalam. Kamu di rumah, Nak?"
"Iya, Bun."
"Bunda tadi kirim buah lewat ojek online. Mau langsung antar ke sana, Ayah lagi ada urusan. Bunda ga berani lagi bawa mobil jauh."
"Ngga papa, Bun. Makasih ya, Bun."
"Iya, Nak. Ridho belum pulang?"
"Belum, Bun. Ridho lagi sibuk sama bisnis baru sama temennya."
"Anak itu. Kalau udah kerja susah brentinya. Kamu sehat aja, 'kan? Ga ada kontraksi palsu lagi?"
Aku terkekeh mendengar keluhan Bunda. Bunda pernah cerita Ridho memang pekerja keras dari remaja. Dia jarang merepotkan orang tua saat menginginkan sesuatu.
"Ga kok, Bun. Alhamdulillah aku sehat. Bunda dan Ayah juga semoga sehat terus. Maaf kami jarang main ke sana."
"Ngga papa, Sayang. Bunda ngerti, kok. Udah dulu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kuputuskan panggilan dari Bunda. Mendadak rindu pada suami tersayang. Teringat percakapan kami tadi malam.
"Mas, aku ngga papa ngirim ucapan selamat buat Kak Deva dan Sinta, 'kan?"
Aku baru ingat lagi pada undangan yang dikirim Deva lewat pesan. Kami sedang menonton TV. Ridho menoleh padaku, lalu mengangguk. Senyumnya terukir di bibir, membuatku ingin menciumnya.
Deh ... pikiranku malah kemana-mana.
Sejak hamil besar, kami jarang bermesraan. Ridho khawatir dengan risiko yang akan terjadi pada kandunganku. Hampir tiap malam kami hanya berpelukan sebelum tidur.
"Asal jangan panjang-panjang pesannya. Seperlunya saja." Ridho berbicara sambil mengerucutkan bibirnya.
Hih! Mau sampai kapan dia cemburu pada Deva? Orangnya udah mau nikah juga.
"Iya, Mas. Ngapain juga aku berbalas pesan yang ga penting sama suami orang?"
__ADS_1
"Ok, deh. Mas percaya."
Aku juga membahas mengenai kado. Ridho menyerahkan urusan itu padaku. Kami pun memutuskan untuk memesan secara online saja.
"Mas tau alamatnya Sinta, ga?"
"Daerahnya tau, sih. Lokasi rumahnya kurang tau."
"Yah ... order online kan harus jelas alamatnya. Tar aku tanya Kak Deva sekalian, deh."
Ridho hanya mengangkat bahu. Tatapannya kembali pada acara yang sedang ditayangkan di TV. Aku memikirkan ucapan apa yang akan kukirimkan untuk Deva.
Sebenarnya aku meminta Ridho datang ke acara mereka. Akan tetapi, Ridho menolak dengan alasan sibuk. Aku berusaha mengerti kondisinya. Usaha baru Ridho dan Tomi memang sedang ramai. Mereka membuat konsep tempat makan serba ada di sebuah bangunan punya saudara Tomi.
Sempat terpikir ada alasan lain Ridho tak mau datang ke pernikahan Sinta. Hanya saja aku tak ingin membahasnya dengan Ridho. Kuanggap saja, Risho pasti tak mau meninggalkan istrinya sendiri saat hamil besar.
Aku mulai mengetik kata-kata yang sudah kupikirkan tadi malam. Semoga saja Sinta tak berpikiran macam-macam saat membaca pesanku. Mungkin saja mereka pernah membicarakanku setelah pertemuan kami waktu di mall.
[Happy Wedding ya, Kak. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah, warrohmah. Diberikan anak yang shaleh dan shaleha.]
[Aamiin. Makasih ya, Rev. Doa yang sama untuk kamu dan suami.]
[Iya, Kak. Aamiin.]
[Btw, minta alamat detil Mbak Sinta donk, Kak.]
Setelah mengirimkan alamat Sinta pada pemilik online shop tersebut, aku meletakkan gawai di meja. Tiba-tiba teringat pada Silvi. Sedikit khawatir dengan suasana hatinya sekarang.
Apa Silvi baik-baik aja?
Aku mengambil kembali benda pipih itu. Berpikir sejenak kata-kata apa yang bisa menghiburnya. Aku pun mulai mengetik pesan, lalu mengirimnya.
[Silvi .. lagi ngapain?]
[Lagi baringan aja, Beb. Tumben, nih?]
[Kamu ga kerja?]
[Aku kurang enak badan. Jadwal ngajar cuma sekelas, jadi aku minta izin libur.]
Ternyata tebakanku benar. Silvi sepertinya masih kepikiran dengan pernikahan Ridho. Andai ada yang bisa kulakukan untuknya sekarang.
[Kamu sakit? Udah minum obat?]
[Cuma meriang doank, kok. Dibawa istirahat juga sembuh.]
[Gitu, ya? Kalo ga lagi hamil gede gini, aku pasti ke rumah. Maaf ya ... ga bisa jenguk kamu.]
[Santai, Beb. Cuma masuk angin paling ini.]
__ADS_1
[Ya udah. Kamu istirahat lagi, deh. Moga cepet sembuh, Cinta.]
Kusematkan emot cium di akhir pesan. Berharap pesanku sedikit menghibur Silvi. Ah, dadaku ikut sesak membayangkan perasaan Silvi saat ini.
[Makasih ya, Beb. Kamu juga istirahat, gih! Biar banyak tenaga buat lahiran nanti.]
[Siap. Thank you.]
Usai berkirim pesan pada Silvi, aku berselancar di dunia maya. Membaca artikel tentang proses melahirkan. Ternyata perjuangan seorang ibu begitu berat. Rasanya ingin memeluk Ibu sekarang juga.
Aku hanya sanggup membaca dua tulisan. Tak ingin membayangkan sakitnya proses melahirkan. Perasaanku jadi sedikit gugup menanti hari lahir buah hati kami.
Tak lama kemudian terdengar ucapan salam dari Ridho. Aku pun bergegas membuka pintu. Wajah tampan itu terlihat lelah.
"Cape, Mas? Mau dibuatin teh hangat?"
"Ga, kok ... tapi tehnya boleh juga, tuh. Perut mas agak kembung."
"Ok. Aku buatin bentar."
Lima menit kemudian, aku kembali ke ruang keluarga. Ridho duduk di sofa dengan posisi setengah berbaring. Terbit rasa kasihan di hatiku. Ridho setiap hari berkerja keras. Apalagi sejak aku kembali hamil.
"Ini tehnya, Mas."
Ridho yang hampir terpejam kembali membuka mata. "Makasih ya, Yang."
Suamiku meminum teh dengan semangat. Kulirik cangkir yang diletakkannya di meja. Tinggal separuh isinya. Kuletakkan tangan di bahu Ridho dan memijitnya perlahan.
"Ga usah, Yang ... kamu kan lagi hamil." Ridho menghentikan gerakan tanganku.
"Ga papa, Mas. Aku kan cuma hamil, bukan lagi sakit."
Ridho tersenyum, lalu membelai pipiku. Hatiku terasa hangat merasakan sentuhan lembutnya. Kami saling menatap selama beberapa saat.
Wajah Ridho semakin mendekat. Aku sedikit kaget saat bibirnya menempel di bibirku. Ingin menolak ciumannya, tapi Ridho memelukku erat.
"Deh ... masih siang gini, Mas?" protesku setelah wajah Ridho menjauh.
Kulirik jam di dinding yang jarumnya menunjuk ke angka tiga. Aku takut ada tamu atau tetangga yang datang berkunjung. Gimana kalau keluarga yang datang?
Duh ... pasti malu banget!
"Emang ga boleh?" tanya Ridho sambil mengangkat alisnya.
"Bukan gitu, sih ... maksudku-"
Ucapanku terpotong karena bibir Ridho kembali menyapu bibirku. Akhirnya aku mengalah pada keinginan Ridho. Membalas sentuhannya dengan penuh cinta.
Jangan lupa like, vote dan komen ❤❤
__ADS_1