
Walau masih ada rasa tak nyaman dengan pertemuan dengan wanita itu, kali ini aku mencoba percaya pada Ridho. Aku pun berusaha melupakan kejadian tadi. Biarlah, toh Ridho sudah jadi suamiku.
Setelah aku menganggukkan kepala, laki-laki yang namanya perlahan mengisi hatiku itu melepaskan pelukan. Ridho meraih handuk, lalu beranjak ke kamar mandi.
Setengah jam berkemas, aku dan Ridho keluar dari kamar. Kami menemui Ayah dan Bunda untuk berpamitan.
"Salam sama Bapak, ya," kata Ayah, setelah kami mencium tangan orang tua Ridho.
"Iya, Yah," sahutku.
Bunda hanya diam. Aku berusaha menerbitkan senyuman sebelum berlalu.
Empat puluh menit di atas motor, kami tiba di rumah Ibu. Bapak sedang duduk di teras, telah menggunakan baju koko dan peci. Kami pun mengucapkan salam.
Ridho duduk sebentar bercakap dengan Bapak. Tak lama dia menyusulku ke kamar mengganti pakaian dan meraih peci di atas meja.
Usai shalat Magrib, kami berkumpul di ruang makan.
"Sehat aja Ayah Bunda, Nak?" tanya Ibu pada Ridho setelah kami membereskan meja makan.
"Iya, Bu. Mereka titip salam tadi."
Ridho melirikku saat mengatakan hal itu. Aku hanya diam, tak ingin membenarkan atau mengingkari.
"Masih sibuk, Ayah, Dho?" Bapak pun ikut bicara.
"Ga terlalu, Pak. Udah mau pensiun juga."
"Iya ya ... ga terasa udah tua kami." Bapak terkekeh pelan.
Kami tersenyum mendengar kata-kata Bapak. Setelah beberapa lama berbincang, adzan Isya berkumandang. Bapak dan Ridho bergegas ke masjid, aku pun kembali ke kamar.
***
Hari seminar pun tiba. Aku bersiap sejak subuh, hanya sempat membantu Ibu memasak. Membaca ulang skripsi, menerka pertanyaan dosen, juga mempelajari rangkuman materi Biologi yang sudah kubuat.
Ridho bertugas menjadi dosen saat aku mencoba presentasi. Kedua lengannya terlipat di dada. Sesekali dia tersenyum melihatku bicara.
Ah, buat grogi saja!
Saat aku mengakhiri presentasi, Ridho bertepuk tangan. Wajahku mungkin memerah karena malu.
"Mana ada dosen tepuk tangan gitu?" protesku.
Ridho terkekeh pelan. "Kan, udah ganti peran ...."
"Huh!" Aku mendelik sebal.
Laki-laki bertubuh jangkung itu mendekat, lalu meraihku dalam pelukan.
"Good luck ya, Sayang!"
Hah? Aku ga salah dengar?
Ridho tersenyum saat menyadari perubahan wajahku.
"Mulai hari ini, kamu panggil aku, Mas!"
"Aneh ngucapinnya," Aku berusaha jujur.
"Belum terbiasa aja. Masa manggil nama terus?" Ridho mengerucutkan bibirnya.
"Iya, iya, Mas Ridho."
"Mas Ridho sayang," sahutnya.
Aku tak menggubris kata-kata Ridho, melepaskan diri dan mulai membereskan barang-barang yang masih bertebaran di meja.
"Bisa-bisa ga jadi pergi!" ucapku galak.
__ADS_1
Ridho menaikkan alisnya, tapi tak membantah lagi. Dasar jahil!
Kami pun beranjak menuju ruang makan untuk sarapan.
"Aku antar ya," tawarnya sedikit memaksa.
"Ga usah. Nanti repot. Lagian, takut butuh motor di kampus nanti."
"Ya udah, hati-hati."
Aku menganggukkan kepala. Kami pun pamit pada Ibu dan Bapak.
"Doain aku ya, Pak, Bu."
"Pasti!" Bapak mengelus kepalaku.
"Santai aja, banyak-banyak doa ya, Nak!" tambah Ibu.
"Iya, Bu."
Ada rasa hangat mengalir ke hati merasakan kasih sayang yang melimpah dari Bapak dan Ibu.
Ya Allah ... berilah kesehatan selalu pada orang tuaku.
***
Tiba di kampus, Silvi sudah duduk di ruang seminar. Budi sedang menyiapkan perlengkapan untuk presentasi, lalu menyambungkannya kabel ke laptop-ku.
Setengah jam berlalu, teman-teman mulai berdatangan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku.
"Tangan kamu dingin banget!" ucap Silvi saat tangan kami bersenggolan.
"Gugup, nih!"
"Sama." Wanita berkulit putih itu menggosokkan kedua telapak tangannya.
Para dosen pun tiba. Bu Reni yang berhalangan hadir, tapi tak mengurangi rasa gugupku.
Awalnya suaraku gemetar. Untunglah kekuatan itu datang di saat yang tepat. Dua jam presentasi dan tanya jawab kami lewatkan dengan baik. Seminar hasil ditutup dengan arahan dari dosen pembimbing.
Kami menghembus napas lega saat seminar hasil berjalan dengan lancar. Aku dan Silvi memutuskan untuk mentraktir teman-teman yang membantu persiapan seminar hasil kami.
"Makan di mana?" tanya Silvi.
"Terserah!"
"Depan rektorat ya!" tukasnya.
Aku menganggukkan kepala. Seketika ingatanku melayang saat bertemu dengan Deva di sana. Semoga kami tak bertemu, setidaknya hari ini. Rasanya pasti tidak nyaman.
Setelah makan, kami memutuskan ke dekanat untuk mencari informasi jadwal dosen dalam waktu dekat ini.
"Dua minggu lagi kayaknya mereka ga terlalu sibuk." Mbak Iin menerangkan.
"Makasih ya, Mbak."
"Oke."
"Lusa aja kita urus lagi ya, Sil?" Kepalaku mulai terasa berat.
"Iya. Aku juga udah pusing."
***
Aku mengucapkan salam saat melihat Ibu duduk di teras. Ibu menjawab dengan pelan.
"Tumben, Ibu duduk di sini?" tanyaku setelah duduk di sebelahnya.
"Pengap di dalam."
__ADS_1
"Iya. Di jalan tadi panas banget," sahutku.
"Lancar tadi seminarnya?"
"Alhamdulillah, Bu. Dua minggu lagi insya Allah bisa ujian."
"Alhamdulillah. Yang semangat ya, Nak!" Ibu mengacungkan kepalan tangannya ke arahku.
Aku terkekeh melihat semangat Ibu. "Siap! Aku masuk dulu ya, Bu. Cape."
"Siip. Istirahat sana!"
Aku pun beranjak ke kamar, mengambil wudhu dan shalat Zuhur. Setelah melipat mukena, aku membaringkan tubuh ke ranjang.
Nyamannya ....
Tak lama mataku mulai terpejam.
Entah berapa lama aku tertidur. Kecupan di kening membuatku membuka mata.
"Ridho?"
Ups!
Aku mengatupkan bibir saat melihat wajah Ridho ditekuk. "Mas?"
Laki-laki tampan itu tersenyum. "Gimana seminarnya tadi?"
"Alhamdulillah lancar." Aku beranjak untuk duduk.
"Syukurlah. Aku yakin kamu pasti bisa."
"Gugup, tau!"
"Biasa itu. Namanya berhadapan sama orang banyak."
Ridho menatapku lembut. Senyum di bibir tipisnya selalu membuatku terpesona.
Jadi makin cinta. Hehe.
Tak lama adzan berkumandang. Ridho bersiap shalat Ashar ke masjid. Aku pun bergegas membersihkan diri dan mengambil wudhu.
***
Setelah makan malam, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Sebenarnya ingin berbincang bersama Ibu, tapi kepalaku terasa berat.
Kubaringkan tubuh ke ranjang usai melaksanakan shalat Isya. Memijit kepala yang semakin berdenyut, membuatku tak semangat melakukan apapun.
"Kamu kenapa?" tanya Ridho sepulangnya dari masjid.
"Pusing. Tadi siang ga seberapa sakitnya."
"Mau ke dokter?" tawarnya dengan nada khawatir.
Ridho mendekat, duduk di tepi ranjang membelai rambutku.
"Ga usah. Paling kecapean."
Ridho tampak berpikir sejenak. "Mungkin kamu ...."
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
Laki-laki dengan manik mata sehitam malam itu tersenyum semringah. Aku benar-benar merasa aneh dengan sikapnya.
"Kamu, eh, Mas kenapa senyum-senyum gitu?"
Ridho tetap tersenyum tak menjawab pertanyaanku. Aku tiba-tiba menyadari sesuatu.
Astaga! Refleks kututup mulut dengan tangan.
__ADS_1
Jangan-jangan Ridho mengira aku hamil.