Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Seduhan Teh Hangat


__ADS_3

Tepat jam delapan, Silvi mengucap salam. Aku beranjak ke depan untuk membuka pintu. Silvi dan Reni sudah siap dengan jaket di tubuh mereka.


"Ga nyasar tadi kalian?" sapaku.


"Ngga, Beb. Aku ada rumah saudara di sekitar sini," jelas Silvi.


"Oh ... syukurlah. Masuk dulu, sih." Kutarik lengan Silvi dan Reni.


"Loh, katanya mau titip kado?" tanya Silvi.


"Iya, Say. Kita buru-buru, nih. Yang lain udah pada otw ketemuan di simpang tiga itu," tambah Reni.


"Santai, sih ... duduk bentar aja. Belum pada sarapan, 'kan?"


Silvi nyengir. "Tau aja, Beb?"


"Tau, lah ... kamu kan dandannya lama."


Tawa kami berderai memenuhi ruang tamu. Aku mengajak mereka menikmati sarapan yang dibeli Ridho tadi. Sesekali canda dan tawa kami terdengar sembari aku menemani mereka makan.


"Wah, udah pada datang, nih!" ujar Ridho keluar dari kamar.


Ridho terlihat tampan dengan rambutnya yang masih basah. Wajahnya yang terlihat cerah semakin menambah pesona lelakiku. Kuhampiri Ridho, lalu menarik tangannya menuju meja makan.


"Ren, ini suamiku, Ridho." Aku memperkenalkan Ridho pada Reni.


Reni mengulas senyuman. "Tau, kok. Kan pas kamu sidang, dia datang. Tapi ga dikenalin!"


Aku tersenyum malu. "Oh iya, lupa. Maklum, waktu itu masih malu-malu kucing."


Reni dan Silvi terbahak. "Giliran urusan asmara aja malu-malu kucing. Biasanya cuek dan grasah grusuh aja."


"Ish! Ga usah buka kartu gitu, kali!" Aku menahan tawa.


Ridho hanya tersenyum melihat tingkah kami. Setelah Silvi dan Reni menghabiskan makanan, mereka pamit. Aku dan Ridho mengantar mereka sampai ke depan rumah.


"Hati-hati ya, Sil. Jangan ngebut bawa motor!" ingatku.


"Siip! Aku belum sengebut kamu dulu, kok," ucap Silvi setengah menggoda.


Aku mengerucutkan bibir. "Sudah, sudah. Kalian cepetan pergi! Hush hush!" Aku pura-pura mengusir mereka.


"Jangan gitu, Yang!" bisik Ridho.


Aku nyengir kuda. "Becanda doang, Mas!"


"Tau, tuh! Reva memang suka rese sama aku," sahut Silvi.


Aku mendelik sebal. "Apaan! Maksud aku, takut kalian telat. Kan tadi katanya buru-buru, udah janjian."


"Halah! Ngeles!" tukas Silvi.


Ridho dan Reni hanya tertawa melihat perdebatanku dan Silvi. Aku memberikan senyuman manis untuk wanita cantik itu. Silvi pura-pura melengos melihat aksi rayuanku.


"Ya udah. Hati-hati di jalan, Cinta. Jangan lupa baca doa."

__ADS_1


Silvi kembali tersenyum. "Makasih, Beb. Kamu juga sehat-sehat, ya. Jangan cape-cape, buar calon ponakan biar ga kenapa-kenapa."


"Siap!"


Kami masih berdiri di teras saat Silvi dan Reni berlalu dari halaman rumah. Ridho memeluk pinggangku mengajak masuk ke dalam rumah. Aku pun menuruti langkah panjangnya.


"Kita mau ke mana hari ini?"


"Maksud, Mas?" Aku kurang paham dengan pertanyaan Ridho.


"Kan ga jadi pergi ke luar kota. Gimana kalau kita jalan-jalan dekat sini aja?"


"Pagi ini? Males, ah!" sahutku.


"Sore juga ga papa. Pagi ini mau ngapain?"


"Rencananya mau duduk di teras aja, sambil minum teh."


"Boleh, deh. Biar mas yang buatin tehnya."


"Duh, ga usah, Mas. Kan mas udah bersihin rumah tadi," tolakku.


"Ngga papa, Sayang ... gampang juga!"


Lima belas menit kemudian, kami sudah duduk di teras rumah. Aku memegang cangkir teh yang terasa hangat dan sesekali menyesapnya. Ridho belum menyentuh cangkirnya, menatap ke sekeliling rumah yang sepi.


"Tetangga pada kemana, ya? Sunyi banget."


"Mungkin lagi jalan-jalan, Mas. Atau sedang istirahat di dalam mumpung libur."


"Loh, emangnya Mas udah mutusin pengen usaha apa?"


"Awalnya pengen buka copyan juga atau jual peralatan motor."


"Dicoba aja dulu, Mas. Kan belum tau pasti gimana keadaannya."


"Iya, sih. Nanti deh, mas survey lagi pas ada libur. Bangunannya aja belum jadi."


"Semangat!" tukasku sambil mengacungkan kepalan tangan ke udara.


Ridho tersenyum semringah. "Makasih, Sayangkuh."


Kami terdiam beberapa saat, larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba ada mobil berhenti di jalan depan rumah. Awalnya aku tak mengenali kendaraan itu, tapi langsung sadar saat melihat Ridho berdiri. Ternyata Ayah dan Bunda yang datang.


Ridho membuka gerbang pagar, lalu membantu Ayah memarkirkan mobil. Aku berjalan pelan menghampiri mereka. Saat kedua mertuaku turun, kami mencium tangan mereka.


"Sehat aja, Bun? Ayah?" tanyaku, lalu bergantian menatap kedua mertua.


"Alhamdulillah, Nak. Kalian sehat aja, 'kan?" sahut Ayah.


"Seperti yang Ayah lihat."


Ridho mengajak Ayah dan Bunda duduk di teras. Aku masuk ke dalam untuk menyeduh teh untuk kedua mertua. Lima menit kemudian, aku kembali dengan dua cangkir teh hangat di tangan.


"Silahkan diminum, Bun, Yah!"

__ADS_1


"Iya. Makasih," sahut Bunda.


Ayah dan Bunda mulai menyesap teh yang kubuat. Ridho memberi kode padaku untuk bicara pada orang tuanya. Aku mengangkat kedua bahu karena tak paham apa maksudnya.


"Oh iya, Bunda tadi bawa onde-onde." Bunda kembali ke mobil, keluar lagi dengan wadah plastik di tangannya.


"Masak sendiri, Bun?" tanyaku.


"Ngga, kok. Beli di pasar tadi. Kamu suka?"


"Suka. Hampir semua jajanan pasar aku suka, Bun."


"Syukurlah. Kirain kamu ga suka tadi."


"Ah, Reva sekarang mah, yang dia ga suka aja dimakan!" Ridho menyela pembicaraan kami.


"Kenapa?" tanya Bunda dengan dahi berkerut.


"Alhamdulillah, Reva isi lagi, Bun."


Mata Bunda terbuka lebar. Wajahnya yang saat datang terlihat datar berubah menjadi semringah. Beberapa detik dia terdiam, seperinya berusaha mencerna ucapan Ridho.


"Ha ... hamil? Maksud kamu Reva hamil?"


Ridho mengangguk mantap. Aku hanya tersenyum saat Bunda beralih menatapku. Ayah ikut bahagia dengan wajah yang lebih ceria.


"Alhamdulillah. Reva jangan banyak gerak dulu ya, Nak," nasihat Ayah.


"Iya, Yah. Ridho tadi bantuin kerjaan aku, kok."


"Bagus itu. Ayah dulu juga gitu pas Bunda hamil. Ayah doakan semoga Reva dan calon bayi kalian sehat."


"Aamiin," sahutku dan Ridho bersamaan. "Makasih, Yah," tambahku.


"Iya. Bila perlu kamu cari orang yang bisa nolongin di rumah kapan lagi sibuk kerja, Dho." Bunda ikut bicara.


Aku sedikit terkejut dengan permintaan Bunda. Tak menyangka kalau dia begitu memperhatikan kondisiku. Terakhir bertemu, sikapnya biasa saja.


"Sebenarnya aku udah niat nyari orang buat bantu-bantu di rumah, Bun. Dari sebelum Reva hamil malah. Kasihan juga dia sendiri di rumah."


"Ya udah. Nanti Bunda bantu carikan. Kali aja ada saudara atau tetangga di sana yang butuh kerjaan."


"Iya, Bun. Makasih."


Satu jam mengobrol di depan rumah, aku mengajak keluarga masuk. Udara sudah mulai panas. Kami beristirahat di ruang keluarga sambil menikmati kue yang Bunda bawa.


"Bunda dan Ayah sampai siang, 'kan?" tanya Ridho.


"Iya, Nak. Kenapa?" jawab Ayah.


"Hari ini kami ga masak. Tadi beli sarapan udah habis," sahut Ridho sambil terkekeh. "Gimana kalau kita makan di luar aja, habis shalat Zuhur?"


"Oh ... gitu. Boleh, deh. Ngga papa kan, Bun?"


"Bunda ikut aja."

__ADS_1


Saat adzan berkumandang, Ridho dan Ayah pamit ke masjid. Aku dan Bunda shalat di rumah. Kusampaikan segenap rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah Dia berikan pada keluarga kami.


__ADS_2