
Aku pun menutup pintu kembali. Sepertinya wanita itu masih malu memperlihatkan auratnya. Tak mengapa, biar saja dia menerima kehadiranku dengan perlahan.
Aku meninggalkan kamar dan kembali mencari mertua. Bapak tengah menikmati kopi di ruang makan. Aku berjalan mendekat walau sedikit canggung.
"Sini, Dho!"
"Iya, Pak." Aku duduk di sebelah Bapak.
"Itu kopi satu lagi buat kamu. Reva yang buat," jelasnya.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Kuteguk sedikit kopi yang masih hangat.
Manis. Seperti Reva. Hatiku ikut menghangat.
Kami pun mengobrol tentang pekerjaanku dan kesibukan Bapak. Terselip juga satu dua nasihat dari Bapak tentang cara menjalankan rumah tangga.
Saat sedang serius mendengar petuah Bapak, si wajah manis muncul. Aku tetap fokus pada Bapak.
"Ibu mana, Pak?" tanyanya.
"Sedang mencuci pakaian," jawab Bapak.
Reva menghilang ke ruang belakang yang seingatku adalah dapur. Aku tak begitu memperhatikannya, masih antusias mendengar cerita Bapak. Lagi pula, aku masih bingung untuk memulai percakapan setelah kejadian di kamar tadi.
Samar-samar kudengar dia bercakap dengan ibu mertua. Kutangkap mereka sedikit membahas kejadian heboh saat Reva mengusirku dari kamar. Sepertinya Reva malu dengan tingkahnya.
Bapak sibuk bercerita jadi tak begitu mendengar percakapan Reva dan ibunya. Bapak juga tak paham karena sedang keluar saat aku kembali ke kamar. Tak lama kemudian, Reva kembali ke ruang makan. Wanita itu mengambil piring dan sendok dari tempatnya.
"Reva, suaminya disiapin juga tuh," tegur Bapak.
"Eh, iya, Pak." Dia tersenyum canggung, lalu meletakkan tas ke kursi di sebelahku.
Bisa kutebak, Reva belum terbiasa dengan status barunya. Aku hanya diam melihatnya menyiapkan sarapan. Ada perasaan aneh yang sulit dilukiskan menerpa hatiku.
"Bapak belum makan?" tanyanya setelah mengisi piring kami berdua.
"Nanti aja, bareng Ibu."
"Cie ...." Dia menutup mulut saat sadar aku melirik ke arahnya.
Aku sedikit terkejut melihatnya menggoda Bapak. Kukira Reva tipe wanita tertutup dan berpikir serius. Ternyata dia juga suka bercanda.
Hm. Mengapa wanita itu begitu jutek saat bicara denganku?
"Udah, habisin makanannya! Nanti telat," sahut Bapak, lalu beranjak ke belakang rumah.
Kami makan dalam diam. Sesekali saling lirik saat menyuapi sendok ke mulut. Duduk berhadapan membuatku bebas menatap wajahnya. Reva cantik.
Saat kami sudah terbiasa dengan pernikahan ini, aku akan mengucapnya langsung di depan Reva. Kudengar wanita paling senang dipuji suami.
"Mau diantar?" tawarku, setelah nasi dipiring tandas.
"Ga usah. Jauh nanti pas balik lagi." Reva terlihat kaget.
Aneh! Bukannya wanita senang diperhatikan?
"Ya udah," tanggapku singkat.
Reva terlihat kecewa dengan jawabanku. Apa ada yang salah dengan kata-kataku?
__ADS_1
Wanita kadang sulit dimengerti. Kukira dia bukan tipe wanita yang ingin selalu diperhatikan.
"Hati-hati jalannya," tambahku.
"Eh, i-ya." Dia agak tergagap menjawabku.
"Udah mau pergi?" Ibu datang dari pintu dapur.
"Iya, Bu. Reva ke kampus ya." Kami pun mencium tangan Ibu.
"Iya. Langsung pulang kalau selesai di kampus. Kan udah punya suami!" ujar ibu mertua.
Kulihat wajah Reva sedikit merona. Kelurga yang menyenangkan. Bunda tak begitu suka bercanda dengan anak-anaknya.
"Ih ... Ibu apaan, sih?" protesnya.
Ibu terbahak melihat wajah Reva. Aku mengulum senyum karena menahan tawa.
"Pak! Reva berangkat." Wanita itu pamit pada bapak mertua.
"Iya!" sahut Bapak.
Dia meraih tas, lalu mengambil kunci motor di meja TV. Kami berjalan berdampingan menuju pintu.
Begini rasanya menikah dengan orang yang belum dikenal? Ada debar-debar halus di dada saat berdekatan.
Aku membuka garasi yang berisi motorku, motor Reva dan mobil bapak mertua. Reva melangkah menuju motor matic-nya.
"Duluan yah," ucapnya.
"Iya," sahutku.
Begitu tiba di kantor, aku diminta mendaftarkan anak-anak untuk mengikuti lomba sains. Aku pun meninggalkan tugas untuk siswa sebelum berangkat.
"Kemana, Dho?" tanya Nisa saat berpapasan di depan kelas.
Kami seangkatan saat SMA. Saat kuliah dia mengambil jurusan Matematika. Sebelum perjodohanku dengan Reva, kami sempat dekat. Aku agak menjauh darinya setelah menikah
"Disuru kepsek daftarin anak-anak lomba."
"Di universitas kita dulu bukan? Aku diminta jadi guru pendamping soalnya."
"Iya. Udah latihan? Besok lombanya."
"Baru satu kali. Nanti latihan lagi. Kamu ikut juga besok?" tanyanya dengan wajah penuh harap.
"Belum tau. Lihat besok kalau ga sibuk."
"Oh, gitu." Wajahnya terlihat sedikit kecewa.
Aku pun berlalu menuju kantor. Semoga dia bisa mengerti kalau kami tak bisa sedekat dulu lagi.
Setelah membereskan meja, aku keluar menuju parkir dan menghidupkan mesin motor. Hampir satu tahun kendaraan ini menemani perjalananku. Aku membelinya tahun lalu, hasil mengajar di sekolah dan bimbel, kekurangannya ditambah Ayah.
20 menit kemudian, aku tiba di kampus tempat menimba ilmu dulu. Kampus Reva juga.
Kuparkirkan motor, lalu mencari tempat panitia yang diberitahu kepsek di samping dekanat. Setelah mendaftarkan nama peserta, aku berniat langsung ke sekolah lagi.
Saat menuju parkiran, kulihat Reva berjalan dengan raut bingung.
__ADS_1
Apa yang dia pikirkan? Pandangannya tak fokus, seperti orang sedang melamun.
Aku sengaja tak menyapanya. Menikmati sisi lain dari seorang Reva.
Brug!
Lagi-lagi dia menabrakku. Ingatanku kembali ke masa saat kami bertemu di koridor gedung bersama. Sifat cerobohnya belum hilang. Perlahan dia mengangkat wajah untuk melihat orang yang ditabraknya.
"Ridho?" Reva terlihat kaget
"Kamu ngapain kayak orang bingung gitu?" tanyaku.
"Hah?"
"Mandang ga fokus, nunduk, geleng kepala."
Reva tersenyum malu, lalu mulai fokus menatapku.
"Kamu ngapain di sini?" tanyanya.
Reva tak menjawab pertanyaanku, malah balik bertanya. Aku pun tak membahasnya lagi.
"Aku habis daftarin anak-anak lomba," jawabku.
"Mana anak-anaknya?" Dia melihat ke sekeliling.
"Ga ikut. Pas lomba nanti baru ke sini."
Reva kembali menatap wajahku. "Ooh ... sekarang mau pulang?"
"Iya. Mau bareng?" tawarku.
"Aku 'kan, bawa motor," jawabnya.
"Eh, iya." Aku menggaruk kepala yang tak gatal.
Kami tersenyum canggung. Tak kutemukan kata yang tepat untuk melanjutkan percakapan.
"Lagian, kamu harus balik lagi ke tempat kerja,' kan?" tanyanya.
"Iya. Kamu udah bimbingannya?"
"Udah, tapi masih ada perbaikan. Ini mau ke perpus mau lihat contoh skripsi."
"Ooh." Aku bingung ingin bicara apalagi.
Kami benar-benar terlihat seperti pasangan yang aneh. Sudah menikah tapi masih canggung saat bicara. Untung saja tak ada temanku yang melihat.
"Ya udah, aku duluan. Emm ... kamu nanti langsung pulang ya."
Aku agak kaku dan malu saat mengucapkannya. Reva sedikit melotot mendengar kata-kataku, lalu tersenyum tipis. Entah apa yang dipikirkannya. Aku tak ambil pusing.
"Ok," jawabnya.
Aku melangkah menuju tempat parkir. Kulajukan motor meninggalkan Reva yang masih berdiri di depan kampus.
Terasa ada yang hilang di hatiku.
Next
__ADS_1