
Dua hari setelah wisuda, aku hanya di rumah saja. Rasa bosan mulai menerpa. Ingin rasanya mencari kerja, tapi belum sempat membicarakannya dengan Ridho. Kondisi tubuh juga belum memungkinkan.
"Jalan-jalan, mau?"
Tiba-tiba saja suami tercinta sudah duduk di sebelahku. Sedikit terkejut karena tadi dia di kamar mandi. Aku tersenyum padanya.
"Cepet banget mandinya?"
"Kamu yang melamun," balasnya.
Aku mengernyitkan dahi. Pantas saja aku tak menyadari kehadirannya. Pikiranku jadi tak fokus karena memikirkan tentang lamaran pekerjaan.
"Memangnya mau jalan kemana?"
"Yang deket-deket aja. Gimana kalau nginap di cottage deket pantai itu?"
Aku menggeleng pelan. "Males, ah. Lagi mabok gini, tar malah ngerepotin Mas di sana."
__ADS_1
"Ya udah. Kita main ke pantai aja," sahutnya.
"Boleh ... sekarang?"
"Iya, Neng. Masa tar malam?" candanya.
Aku terkekeh pelan. "Ok. Aku siap-siap bentar."
Ridho memainkan gawainya selama menunggu bersiap. Lima belas menit kemudian, aku sudah memakai gamis berwarna maroon dengan jilbab putih untuk menutup kepala. Tak lupa menyapu bedak ke wajah dan memoles lipstik tipis ke bibir. Ridho hanya memakai jeans dan kaos oblong.
Kami pergi menaiki motor matic-ku. Tadinya dia ingin meminjam mobil Bapak, tapi aku larang. Alasanku ngin menikmati perjalanan dengan memeluk pinggangnya. Ridho akhirnya setuju, tapi ragu menggunakan motornya yang tinggi.
Lima belas menit kemudian, kami tiba di pantai. Ridho menghentikan motor di bawah pohon cemara. Kami berjalan pelan menuju tepi pantai dengan bergandengan tangan. Suasana belum begitu ramai.
Aku melepaskan alas kaki, lalu berjalan di pasir yang basah tersiram air laut. Ada sensasi tersendiri, membuat tubuh terasa nyaman. Aku sampai tak menyadari rasa mual yang biasanya menyerang. Ridho menyusul, lalu memelukku dari belakang.
"Malu, Mas!" protesku.
__ADS_1
"Bentar aja, pengen tau rasanya pelukan di pinggir laut."
Bibirku melengkungkan senyuman. Sebenarnya aku pun penasaran rasa berpacaran setelah menikah. Melihat orang mulai berdatangan, Ridho melepaskan pelukan. Kami hanya bergandengan tangan menyusuri pantai.
Melihat ombak yang berkejaran dan matahari yang mulai turun, membuat mata memandang takjub. Layaknya keajaiban yang membuat diri ini semakin menyadari arti kebesarn Tuhan. Merasa sangat kecil dan tak mempunyai daya apa-apa tanpa kuasa-Nya.
Setelah matahari sudah berubah warna menjadi potongan senja, kami beranjak dari tepi pantai. Melangkah pelan menuju motor. Saling melemparkan senyuman juga canda tawa.
"Kita langsung pulang?" tanya Ridho.
"Shalat di masjid aja, Mas. Aku mau makan pangsit dulu," jawabku.
"Baiklah, Nyonya Ridho!" Sahutnya sambil mengelus puncak kepalaku.
Ridho membawa motor dengan hati-hati menuju masjid terdekat. Adzan sudah mulai berkumandang. Kami berpisah di halaman masjid untuk mengambil wudhu. Sejuknya air yang membasuh membuat pikiran semakin tenang.
Usai shalat, senantiasa mengangkat tangan untuk bermunajat. Mendoakan calon bayi dan kebahagiaan rumah tangga kami. Tak lupa untuk berdoa untuk kesuksesan suami dan kesehatan orang tua.
__ADS_1
Jangan lupa vote yaa, biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat ❤❤
Vote itu pake point yaa, ga bayar, kok. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan pointku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis.