
Jangan-jangan Ridho mengira aku hamil?
Pernikahan kami baru berjalan dua minggu. Tanpa sadar aku menyentuh perut, lalu menggeleng pelan. Rasanya tak mungkin aku hamil secepat itu.
Aku berusaha memikirkan cara untuk menjelaskan pada Ridho supaya dia tidak kecewa. Walau jantungku juga berdegup kencang, bagaimana kalau aku benar-benar hamil?
Astaga! Terbayang bagaimana repotnya kalau aku hamil sekarang.
Seketika ingatanku kembali saat ibu Ridho membicarakan soal anak. Aku pun menghela napas sebelum bicara.
"Kayaknya bukan itu, Mas. Aku kadang ga enak badan karena mau dapet. Besok jadwal mensku."
Tetap saja aku sedikit kaku dan malu menjelaskan kondisi saat menstruasi. Namun, kuberanikan diri menatap wajah Ridho. Penasaran bagaimana reaksinya dengan pengakuanku. Dia tersenyum, sepertinya menghargai penjelasanku.
"Gitu ya? Ya udah. Sekarang kamu tidur aja, kalau gitu."
Ridho menarik selimut sampai ke pinggangku. Setelah menatapku sejenak, dia mengecup keningku.
"Semoga besok baikan," katanya.
Mak! Terasa nyes di hati. Ingin kupeluk tubuh kokoh itu dan memberinya kecupan manis di bibir. Namun, aku malu. Hihi.
Hanya senyuman manis yang akhirnya kuberikan. Aku belum terbiasa bersikap agresif padanya. Rasanya sedikit aneh saat aku membayangkannya.
Saat Ridho membalikkan tubuh, senyumku berubah menjadi seringai. Dia mungkin belum tahu, wanita yang sedang menstruasi sedikit menyebalkan. Haha
Laki-laki berkemeja biru itu beranjak menuju meja di sudut kamar. Berhenti di depan fotoku saat remaja, dengan bingkai berwarna merah muda. Sebenarnya kurang pas di pajang di dinding dengan warna yang sama. Bingkai itu hadiah dari sahabatku saat SMP.
"Ga banyak berubah wajahnya, manis." Ridho berbicara terdengar seperti gumaman.
Bibirku melengkungkan senyuman mendengar kata-katanya. Setelah puas melihat foto itu, dia mengambil laptop dan meletakkan di meja. Lagu 'Paint My Love' dari MLTR mengalun lembut. Ridho mulai sibuk dengan pekerjaannya. Perlahan aku pun memejamkan mata.
***
Suara alunan ayat suci dari masjid membangunkanku. Benar saja, tamu bulananku datang.
Alhamdulillah.
Aku sedikit gugup menunggu sang tamu bulan ini. Belum siap rasanya mengalami mual-mual saat ujian skripsi. Aku pun mengambil pembalut dari laci meja.
Ridho masih terlelap. Kukecup pipinya sekilas. Mata laki-laki berambut lurus itu membuka.
"Tumben?" ucapnya.
Aku tak menjawab, lalu kembali berbaring di ranjang. Ridho menatap heran.
"Ga shalat? Apa mau ...." Ridho berdehem tanpa melanjutkan kata-katanya.
"Apaan! Aku lagi mens." Aku tersenyum penuh kemenangan.
"Yah ... cuti, donk?" Ridho pura-pura merajuk.
Aku terkekeh pelan. Pura-pura mengusirnya dengan lambaian tangan. Laki-laki jangkung itu beranjak ke kamar mandi, lalu bersiap ke masjid.
Usai kumandang adzan, aku bergegas ke dapur, memasak dan mencuci pakaian. Jam enam aku mandi, lalu menemani Ridho sarapan.
Setelah mengantar Ridho ke depan, aku pun mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
__ADS_1
"Ga cape?" tanya Ibu saat aku tengah mengepel lantai.
"Ga papa, Bu. Kemarin kan, aku ga sempat bantuin Ibu."
"Pucat gitu mukanya, Nak."
"Lagi mens, Bu."
"Ya udah, nanti Ibu aja yang cuci piringnya."
"Ok, Bu. Bapak kemana?" Aku belum melihat Bapak dari tadi.
"Di kamar. Habis shalat subuh tadi kurang enak badan."
"Udah minum obat, Bu?"
"Ibu kerokin aja tadi."
Kasihan Bapak. Setiap hari ke toko, pernah hampir Magrib baru pulang. Semoga aku bisa membahagiakan beliau suatu hari nanti.
***
Sepanjang hari aku bersantai di rumah. Ibu ada acara arisan di rumah tetangga. Bapak tetap pergi ke toko walau tak sepagi biasanya.
Perutku mulai berbunyi, tapi sedang tak berselera makan nasi. Pesan mie ayam sama Ridho aja kali, ya.
Aku pun mengirim pesan melalui WA. Terkirim.
Lima belas menit tak ada balasan, aku pun merebahkan diri di sofa ruang tamu. Rasa kantuk mulai menyerang.
Derit pintu membangunkanku. Perlahan aku bangkit untuk duduk. Aku mengerjapkan mata yang terasa lelah.
"Nunggu orang penting. Mana pesananku?" jawabku sedikit ketus karena ingat pesanku tadi lama tak dibaca.
"Pesanan?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Pasti ga dibaca. Jangan-jangan sibuk sama cewe lain!" Aku sedikit terpancing emosi.
"Kamu kenapa, sih?"
"Ga papa." Aku pun beranjak ke kamar dengan menghentakkan kaki.
"Tadi habis ngajar HP-ku mati." Ridho mengekor di belakangku.
"Masa?" tanyaku tak percaya.
"Iya, Sayang...." Ridho menarik lenganku hingga jarak kami hanya selangkah.
Aku hanya diam, sedikit mengerucutkan bibir.
"Itu bibir minta dicium, ya?" ucapnya usil.
"Hah?" Aku menutup mulut dengan tangan.
"Kenapa uring-uringan, gitu?"
"Ga papa." Aku berusaha melepaskan tangannya.
__ADS_1
Ridho meraihku dalam pelukan. "Benar-benar lagi dapet kayaknya."
Aku sedikit terkejut, laki-laki itu tahu tentang sifat wanita saat menstruasi. "Tau darimana? Pasti dari mantan!"
"Ya, ampun! Kamu lucu." Ridho mengeratkan pelukannya.
"Ga. Ayah pernah bilang kayak gitu ke Bunda."
Aku tersenyum malu. Memang kadang sulit mengendalikan emosi saat tamu bulanan datang.
"Pesan apa tadi?" tanyanya, menatap lembut.
"Mie ayam."
"Jadi, belum makan?" Nada suaranya terdengar khawatir.
Aku menggeleng pelan. "Lagi ga selera makan nasi."
"Aku keluar bentar, ya." Ridho meletakkan tasnya dan beranjak keluar kamar.
Aku hanya menganggukkan kepala. Lima belas menit kemudian, dia kembali dengan kantong plastik yang berisi mie ayam.
"Makan sekarang!" titahnya.
"Iya." Aku meraih plastik dari tangannya. "Kamu mau?"
"Aku udah makan." Ridho membuka lemari mengambil baju ganti.
Aku pun beranjak ke ruang makan. "Tuh orang serem kalau lagi kesal," gumamku.
Usai menghabiskan semangkuk mie ayam, aku kembali ke kamar. Ridho sedang menerima panggilan melalui gawainya.
"Iya, Yah. Kenapa?"
"...."
"Hah? Ya, bantar lagi aku ke sana, Yah."
Aku mendekati Ridho dengan kepala penuh tanda tanya. Raut wajahnya terlihat panik.
"Ada apa, Mas?" tanyaku.
"Bunda masuk rumah sakit barusan."
"Ya, Allah!"
"Aku ke rumah sakit dulu, ya."
"Aku ikut, Mas!"
Riho menganggukkan kepala. Kami pun bersiap pergi ke rumah sakit. Tak lupa, aku mengabari Bapak dan Ibu tentang kabar ibu mertua. Mereka berjanji akan menyusul setelah Ashar.
Selama perjalanan kami tak bicara. Aku berusaha mengerti Ridho sedang khawatir dengan kondisi ibunya. Aku hanya memeluk pinggang Ridho sejenak, berusaha menenangkan perasaannya. Ridho menggenggam jemariku.
Sepuluh menit kemudian, kami tiba di rumah sakit. Ridho kembali menghubungi ayah mertua untuk mengetahui kabar terbaru dari Bunda. Ternyata Bunda sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kami pun bergegas mencari kamar tempat Bunda dirawat.
Tiba di depan ruangan, Ridho mengetuk pintu. Setelah membuka pintu, dia meraih tanganku agar masuk.
__ADS_1
Jujur, aku masih kurang nyaman bertemu dengan Bunda. Ridho sepertinya mengerti perasaanku. Aku berusaha santai mengikuti langkah Ridho.
Jangan lupa like, vote dan komen..❤❤