Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Pengakuan Sinta


__ADS_3

Sudah lebih satu minggu berlalu dari Sinta tak jadi mampir ke rumah. Walau merasa tenang, aku sedikit penasaran mengapa dia tak menampakkan diri lagi. Apalagi sejak Ridho bercerita tentang masa lalu Sinta. Aku jadi ingin mengetahui cerita dari versi wanita itu.


Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Ridho sudah memberi kabar akan pulang sore hari ini. Setidaknya aku tiba di rumah duluan.


"Bu, aku pulang dulu, ya. Minggu depan main ke sini lagi." Aku pun mengambil tas dan memakai sepatu.


Aku sudah izin pada Ridho untuk berkunjung ke rumah Ibu tadi pagi. Niatnya dari dua hari yang lalu, sekalian mengambil motor, tapi Ridho selalu pulang cepat. Pasti tak puas rasanya hanya bisa mengobrol beberapa jam saja dengan Ibu.


Hampir seharian melewati waktu bersama Ibu, rinduku lumayan terobati. Untung saja kemaren Ridho meminta diantar temannya mengambil motorku. Jadi tak perlu lama menunggu angkot lewat, seperti rencana awalku.


"Iya, Nak. Ini lauknya, nanti ketinggalan." Ibu menyerahkan wadah yang sudah diisinya dengan lauk dan sayur.


"Siap!" ujarku, lalu mencium tangan Ibu.


Aku pun memeluk wanita kesayangan. Inginnya bertemu Bapak juga, tapi pasti kesorean pulangnya. Tak enak pada Ridho, walau dia tak akan keberatan. Tunggu Ridho libur baru ke rumah Ibu lagi.


Kulajukan motor ke jalan raya. Jalanan tak terlalu ramai, membuatku menaikkan kecepatan. Dua puluh menit kemudian, aku tiba di rumah. Baru akan membuka pintu pagar, sebuah motor berhenti di dekatku.


"Mbak Sinta?" Tak menyangka orang yang sempat kupikirkan sekarang benar-benar datang.


"Hai Rev! Baru pulang, ya?"


"Iya, Mbak. Habis main ke rumah Ibu."


"Oh. Boleh mampir? Aku pengen ngobrol. Atau kalau kamu cape, besok aja aku ke sini lagi."


"Boleh, kok. Santai aja, Mbak. Deket juga rumah orang tuaku."


"Ok."


Sinta menyusulku memasukkan motor ke halaman rumah. Aku pun mempersilakannya duduk di teras. Belum terlalu nyaman untuk berbicara di dalam rumah berdua saja.


"Tunggu bentar, Mbak. Aku ambil minum."


"Siip."


Lima menit kemudia, aku keluar lagi membawa seteko es sirup dan dua gelas kosong. Sinta tersenyum padaku. Aku pun mengisi gelas kosong di meja dengan air berwarna hijau itu.

__ADS_1


"Silahkan diminum, Mbak."


"Makasih, Rev." Sinta meraih gelas dan meminumnya sedikit.


Aku hanya mengangguk. Beberapa saat kami larut dalam keheningan. Aku ingin bertanya banyak hal, tapi tertahan melihat raut wajah Sinta yang gelisah.


"Mbak ada masalah?" tanyaku akhirnya.


Sinta menatap nanar ke arah jalan. "Mbak dipindahin ke luar kota. Mutasi gitu. Padahal mbak udah seneng bisa tetangga sama kalian di sini."


Pantas saja dia tak terlihat beberapa hari ini. Sepertinya sibuk mengurus kepindahannya. Tanpa sadar, aku menghembuskan napas lega.


Walau tak terlalu setuju dengan kata-katanya, aku berusaha tak menyela. Aku penasaran dengan perasaannya pada Ridho. Hanya menunggu dia bercerita, meski hatiku menjadi tak nyaman.


"Mungkin Ridho sudah pernah cerita kalau kami teman saat SMA. Ridho begitu peduli sama mbak dulu. Saat mbak ada masalah dan sempat drop, dia tetap mau berteman sama mbak."


Aku tetap diam, tak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Sinta. Tak dapat kupungkiri rasa cemburu itu tetap ada. Namun, kusabarkan hati untuk mendengar cerita Sinta.


"Kamu beruntung Rev, bisa mendapatkan lelaki seperti Ridho," ucapnya dengan nada sungguh-sungguh.


Aku tertegun beberapa saat. "Mbak juga bisa dapetin lelaki yang baik, kok," sahutku dengan tulus.


"Mbak!" Terlalu kaget dengan pengakuannya, membuatku sulit untuk berkata.


Aku spontan menutup mulut dengan tangan. Tak menyangka kalau feelingku selama ini tak salah. Andai tak ada orang lain di sekitar sini, rasanya ingin aku memaki.


"Kamu denger dulu penjelasan mbak." Sinta buru-buru menyambar omonganku. "Benar-benar tak menyangka, besoknya mbak dipanggil untuk mutasi. Mbak jadi banyak berpikir."


Sekuat hati aku menahan diri untuk tetap duduk di hadapan Sinta. Kalau saja tak ingat dia pernah depresi, mungkin aku akan tega mengusirnya dari tadi. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri.


"Mungkin ini terjadi karena niat mbak sudah buruk. Maaf ya ... kalau pernah membuat kamu tak nyaman."


"Aku memang kurang nyaman dengan sikap mbak kemaren," sahutku akhirnya. "Semoga mbak tak pernah mengulangi niat itu, bukan hanya pada kami, tapi pada rumah tangga orang lain."


Sinta terlihat kaget mendengar kata-kataku. Biar saja, aku sudah terlanjur kecewa dengan pengakuannya. Benar-benar tak menyangka dia tak berusaha dewasa setelah ujian yang menimpanya.


"Ng ... aku ... sekali lagi, minta maaf."

__ADS_1


"Tenang aja, mbak udah kumaafin," sahutku sedikit ketus. "Tapi aku tak bisa berbohong, aku tetap kecewa sama, Mbak."


Aku tak bisa lagi menyembunyikan rasa tak nyaman pada kehadiran Sinta. Tepatnya tak berniat lagi menyimpan rasa gelisah seorang diri. Semoga dia paham maksud ucapanku.


"Iya ... makasih. Aku pamit, ya."


Baru akan beranjak dari kursinya, Sinta menoleh ke depan rumah. Motor Ridho memasuki halaman. Terlihat Ridho terkejut dengan kehadiran Sinta.


Sinta kembali duduk. Aku tak memberi respon apa-apa. Hanya menunggu, dia ingin berkata apa lagi pada Ridho.


"Loh, Sin, ada apa?" tanya Ridho.


Bisa kulihat ada raut khawatir di wajah Ridho. Aku hanya diam, menanti drama apa yang akan terjadi di antara mereka. Terlihat Sinta menghela napas.


"Aku dimutasi, Dho. Aku mampir ke sini mau pamit. Biar ga kayak dulu lagi, ngilang tiba-tiba," jawab Sinta, lalu terkekeh pelan.


Ridho mengangguk paham. "Oh. Pindah ke mana, Sin?"


"Masih satu daerah sama rumah di kampung."


"Wah, senang donk, bisa dekat dengan keluarga kamu?"


Sinta tersenyum dan terlihat dipaksakan. "Iya. Semoga saja memang yang terbaik."


"Aamiin. Aku masuk dulu, Sin. Mau bersihin badan."


Aku spontan menoleh pada Ridho. Tak biasanya dia menghindar dari tamu. Apa karena berusaha menjaga perasaanku?


"Iya, Dho. Aku juga udah mau pulang, kok. Makasih atas kebaikan kalian. Maaf kalau sikapku kurang berkenan."


Ridho membatalkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Sinta beranjak dari kursi. Pamit pada kami sekali lagi, lalu berlalu dengan motornya. Aku memandang punggungnya yang menjauh. Apa aku tak terlalu keras pada Sinta?


"Masuk yuk, Yang!"


Aku tersenyum pada Ridho. "Iya. Udah gerah, Pak?"


Ridho mengangguk sebagai jawaban. Kami pun masuk ke dalam rumah. Menjadikan pertemuan dengan Sinta sebagai pelajaran. Perlunya bersyukur dengan kehidupan kami. Juga membuatku belajar untuk sabar dan menahan diri untuk mengeluarkan emosi.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen, yaa 😘😘


__ADS_2