
Ridho membuka pintu dengan pelan, lalu masuk ke kamar. Perasaanku jadi tak menentu. Aku pura-pura tak melihatnya.
"Kapan seminar hasil?" tanyanya.
"Eh, tiga hari lagi," jawabku sambil berusaha menghilangkan rasa gugup.
"Ooh ... udah beres semua persiapannya?"
"Besok daftar dulu. Nanti minta temen-temen yang bantuin."
"Kami dulu juga gitu, gantian saling support."
"Iya." Aku melangkah menuju meja tempatku meletakkan tas dan map yang berisi berkas.
Kuperiksa sekali lagi agar tak ada yang ketinggalan besok. Saat membalikkan badan, Ridho tepat di depanku. Aku terperanjat dan sedikit mundur.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Ah ... ngga ...."
Shit! Apa begitu terlihat aku sedang gugup?
Ridho terlihat gelisah. Dia menghela napas lalu berlalu dari hadapanku.
"Duduk sini!" Dia menepuk ranjang di sebelahnya.
Dengan ragu aku mendekat ke arahnya. Ridho meraih tanganku agar duduk di sebelahnya.
"Any problem?"
"Aku ga papa," sahutku pelan.
"Ga usah dipikirin," ucapnya lembut.
"Hah?" Aku mendongakkan wajah untuk menatap Ridho.
"Kita jalani aja, mengalir seperti air." Ridho tersenyum.
Manis.
Oh ... My! Bisa goyah hatiku kalau sering-sering melihat senyumnya.
"Sekarang tidur, gih! Biar besok ga kesiangan," tambahnya.
"I-ya."
Sadar Reva! Jangan mikir macam-macam dulu. Ingat skripsi kamu.
Aku menarik napas pelan sebelum naik ke ranjang. Ridho menghidupkan AC, lalu menyelimutiku.
"Have a nice dream ... my wife." Lelaki berkulit terang itu mengecup keningku.
Mak! Meleleh hatiku. Gini ya, rasanya pacaran setelah menikah?
Kayak pernah pacaran aja, sebelum menikah. Haha. Eh, cinta monyet pernah sih, zaman SMP. Senyum-senyum gitu pas ketemu. Ga pernah jalan, soalnya tetanggaan. Malu.
Aku pun membalikkan badan sambil mengulum senyum. Sepertinya aku jatuh cinta.
Good nite my husband ....
***
Pukul empat subuh aku terbangun. Ridho masih lelap dalam tidurnya. Tadi malam aku sempat melihat dia membuka laptop sebelum memejamkan mata, mungkin dia begadang.
Aku membuka lemari untuk menyiapkan pakaian ke kampus hari ini. Kupilih rok katun dan kemeja berwarna merah muda.
__ADS_1
Saat meletakkan pakaian di kursi, mataku tertumbuk pada Ridho yang masih terlelap. Aku belum pernah menyiapkan baju kerjanya.
Kubuka pintu lemari sebelah kanan untuk memilih baju Ridho. Aku termangu, bingung memilih yang mana.
Huff! Aku harus belajar jadi istri yang baik.
Kulangkahkan kaki kembali menuju ranjang. Wajah laki-laki yang dulu sangat dingin terlihat damai. Kuulurkan tangan menyentuh pipinya. Ridho membuka mata.
"Kenapa?" tanyanya dengan mata yang masih menyipit.
"Hari ini pake baju yang mana?"
"Tumben! Mau siapin?"
Aku tersenyum, lalu menganggukkan kepala.
"Batik biru. Celananya kayak biasa. Jam berapa?"
"Masih jam empat. Tidur aja bentar lagi kalau masih ngantuk," saranku.
Ridho bangkit perlahan, lalu meraihku dalam pelukan. "Makasih, ya."
Aku hanya termangu. Begitu takjub dengan perubahan Ridho beberapa hari ini.
Laki-laki jangkung itu turun dari ranjang, berjalan menuju meja di mana laptop dan kertas sudah tersusun rapi.
"Banyak kerjaan, ya?" tanyaku sambil berjalan ke depan lemari untuk menyiapkan baju Ridho.
"Ga juga. Nyiapin bahan ngajar besok." Ridho memasukkan kertas dan laptop ke dalam tas.
Setelah semuanya siap, aku membawa pakaian kotor kami ke belakang. Ridho menyusul untuk mengambil wudhu dan bersiap ke Masjid. Selesai merendam cucian, aku bergegas ke kamar untuk menunaikan shalat Subuh.
Saat kembali ke dapur, ibu mertua tengah mengeluarkan bahan untuk memasak dari kulkas. Mau tak mau, aku menyapanya.
"Goreng Ayam aja, sama numis sayur." sahutnya pelan.
Kulihat wajahnya sedikit pucat. "Bunda sakit?"
"Lagi kurang sehat kayaknya."
"Biar aku aja yang kerjain, Bunda istirahat aja," ucapku tulus.
Bagaimanapun juga, mertua adalah ibu ke dua. Aku harus bisa menganggapnya seperti ibu sendiri, walaupun secara perlahan.
"Ya udah, bunda ke kamar dulu."
Sempat kulihat raut terimakasih di wajahnya. Semoga saja, hubungan kami bisa semakin membaik.
Pekerjaanku selesai pas jam enam. Bunda membayar orang untuk membersihkan rumah yang datang dua hari sekali, jadi aku hanya memasak dan mencuci.
Bergegas aku beranjak ke kamar mandi. Saat kembali ke kamar, Ridho sudah siap dengan pakaian kerja.
"Sarapannya udah siap," kataku.
"Iya," jawabnya singkat, lalu berlalu dari hadapanku.
Ridho kenapa? Subuh tadi kami baik-baik saja. Dia sedang buru-buru mungkin, aku berusaha tak berburuk sangka.
Setelah berpakaian dan mengambil tas, aku menyusul ke ruang makan. Ibu dan bapak mertua telah duduk dan mengobrol.
"Wah ... ini Reva yang masak? tanya Ayah saat membuka tudung saji melihat ayam goreng, sambal, dan tumis selada hasil masakanku.
"Iya, Yah. Maaf kalau ga enak. Di rumah biasanya masih dibantu Ibu," ucapku sambil melirik ibu mertua.
"Ga papa. Namanya juga belajar. Bunda awal nikah juga belum seenak sekarang masakannya. Kami juga nikah muda soalnya."
__ADS_1
Wajah ibu mertua sedikit pias tapi merona. Cantik. Kutebak, mungkin dia sedang teringat masa lalu.
"Justru Ayah salut. Reva yang anak semata wayang bisa masak dan mengerjakan pekerjaan rumah," tambah laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah.
Aku tersenyum mendengar pujiannya. "Bapak dan Ibu tetap ngajarin Reva tentang tanggung jawab, jadi dibiasakan bantu-bantu kerjaan rumah."
"Iya. Bapak kamu memang disiplin orangnya. Oh iya, skripsi kamu gimana?"
"Udah selesai, Yah. Lagi persiapan seminar hasil."
"Semoga dimudahkan, ya."
"Makasih, Yah."
Ridho dan Ibu mertua hanya menyimak obrolan kami. Ayah pun mulai menyendok nasi, selanjutnya kami makan dalam diam.
Selesai makan, kami semua bersiap pergi. Ayah dan Bunda berangkat terlebih dahulu. Ridho mengunci rumah, lalu menghidupkan motor.
Sepanjang perjalanan, kami tak saling bicara. Aku tak berani bertanya, tepatnya tak ingin merusak pagi ini dengan pertengkaran.
Setiba di depan dekanat, Ridho berhenti untuk menurunkanku.
"Aku pergi," katanya, sebelum berlalu meninggalkanku dengan berbagai tanya yang memenuhi kepala
Kulangkahkan kaki ke lantai dua, menunggu Silvi sambil melirik ke ruang dosen yang belum ada orangnya. Aku datang terlalu pagi.
"Wah ... pagi bener datangnya, Neng?" sapa Mbak Iin.
"Iya, Mbak. Mau daftar seminar."
"Bentar, ya. Mbak siap-siap dulu."
"Santai aja, Mbak. Nunggu Silvi biar bareng."
"Siip."
Kuhempaskan bokongku ke kursi tunggu, lalu mengeluarkan calon skripsi dan membacanya.
Setengah jam menunggu, Silvi belum muncul. Kukeluarkan gawai untuk menghubunginya. Belum sempat membuka layar, wanita bawel itu muncul.
"Udah lama, Beb?" tanyanya, lalu duduk di depanku.
"Iya. Tadi bareng Ridho perginya."
"Cie ... yang diantar laki."
Ah, anak ini! Andai dia tahu rumah tangga tak selalu menyenangkan seperti yang dia pikirkan. Aku tak menggubris godaan Silvi, lalu menyimpan skripsi dan gawai ke dalam tas.
"Yuk!" Kutarik tangannya menuju ruang dosen.
Kami pun mendaftarkan nama untuk seminar lusa. Mbak Iin memberi tahu hal lain yang perlu disiapkan. Selesai urusan di ruang prodi, kami menemui ketua kelas untuk meminta bantuan teknis saat hari seminar. Tak luoa kami ke kos Stefi untuk memintanya menghandle makan siang para dosen penguji.
Rasa lelah mulai menerpa. Aku mengajak Stefi istirahat sejenak di kantin belakang dekanat. Sejuknya angin yang bertiup dari beberapa pohon di sekitar kami cukup mengurangi penat.
Teringat belum menghubungi Ridho untuk menjemputku. Kukeluarkan gawai yang belum tersentuh dari pagi. Saat membuka layar, kulihat ada pesan dari Deva.
[Cowo kemarin pacar kamu, Rev? Sejujurnya Kakak ada perasaan padamu. Akhir-akhir ini terpikir untuk melamar kamu. Namun, kamu tak memberi waktu untuk kita bicara. Bila memang tak ada lagi kesempatan, Kakak berusaha untuk mundur.]
Astaga! Inikah yang membuat Ridho kembali bersikap dingin?
Hai teman-teman..☺
Gimana ceritanya?
Jangan lupa like, vote dan komen yaa ❤
__ADS_1