Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Luvly Husband 2


__ADS_3

Selesai shalat kami kembali bertemu di parkiran. Ridho kembali melajukan motor ke tempat penjual pangsit yang tak jauh dari rumah. Suamiku memesan empat porsi dan dua gelas jus buah.


"Banyak banget, Mas?" tanyaku. "Satu aja belum tentu habis aku."


"Dua lagi buat dibawa pulang, untuk Ibu dan Bapak."


Aku tersenyum hangat padanya. "Makasih ya, Mas. Lain kali kita beli makanan juga buat Ayah Bunda, ya."


"Iya, Sayang ...minggu depan kita main ke rumah Ayah."


Aku menganggukkan kepala. Kami pun duduk berhadapan. Tak lama pesanan sudah diletakkan di meja. Aku menelan saliva mencium aromanya. Ridho menuangkan air putih ke dalam gelas dan mengangsurkannya di depanku.


Dengan semangat aku menyantap mie ayam beserta jus mangga. Ridho sudah mulai hapal kesukaanku. Tak terasa piring dan gelas sudah bersih.


"Wah ... tumben habis makanannya?" Ridho menatap heran. "Cepet lagi."


Aku mendongakkan wajah, lalu terkekeh pelan. Entahlah. Aku juga baru menyadarinya. Kali ini selera makanku bagus.


Kulirik mangkuk Ridho yang baru berkurang setengah. "Mungkin bayinya happy habis jalan-jalan," sahutku asal.


"Kayaknya gitu. Besok-besok kita jalan lagi kalau gitu."


Bibirku melengkungkan senyuman. "Mas bisa aja. Aku becanda, kok."


"Kalau iya juga ga papa. Apa sih, yang ngga buat, istri shaleha?"


Aku terbahak mendengar celotehnya. "Ayo, dihabisin makanannya. Pinggangku udah pegal."

__ADS_1


"Siap!" Ridho mengacungkan jempolnya.


Ridho pun menyelesaikan makannya. Setelah mengambil bungkusan mie ayam untuk Bapak dan Ibu, Ridho membayar sejumlah uang. Kami bergegas pulang ke rumah karena hari sudah gelap.


Tiba di rumah, kami mengucapkan salam. Ibu yang menjawab dan membuka pintu. Aku pun mengambil alih bungkusan dari tangan Ridho.


"Bapak mana, Bu? tanyaku.


"Ada di dalam, baru mau makan."


"Ini Ridho belikan mie ayam untuk Bapak dan Ibu juga." Aku menyerahkan bungkusan pada Ibu.


"Makasih ya, Nak. Kalian udah makan?"


"Udah, Bu. Makanya kemalaman pulangnya." Ridho yang menjawab.


Kami menganggukkan kepala, lalu beranjak ke kamar. Aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Saat keluar Ridho sedang duduk di kursi.


"Mas juga mau ke kamar mandi?"


"Iya. Kan istri tercinta sedang hamil. Mas harus jaga kebersihan juga."


Aku pun membaringkan tubuh di ranjang. Ridho yang sudah keluar dari kamar mandi menyusul di sebelahku. Aku membelai pipinya dengan rasa sayang.


"Cape?" tanyanya.


"Iya. Tapi seneng." Aku mencium pipinya yang masih sedikit basah.

__ADS_1


Ridho tersenyum lembut. "Mas ikut senang lihat kamu senang."


"Iya, Mas. Makasih ya ... udah ajak aku jalan."


"Apaan! Pake bilang makasih segala. Cuma ke pantai dekat ini."


Bibirku melengkungkan senyuman. "Tetep aja aku bersyukur dengan perhatian Mas sekarang."


"Udah jadi kewajiban Mas membahagiakan kamu. Maaf ya ... mas belum sempat ajak kamu jalan-jalan kayak pasangan lain."


"Bulan madu?" tanyaku setengah menggodanya.


Wajah Ridho sedikit pias. "Gitulah. Kamu ga mau?"


"Pengen sih ... tapi belum sekarang, deh. Bukan salah Mas Ridho, kok. Kita nikahnya mendadak. Aku sibuk skripsi. Sekarang sedang hamil, mual-mual pula."


"Iya. Nanti kalau ada waktu luang, Mas bakal ajak kamu jalan ke luar kota. Yang deket aja, biar kamu ga terlalu cape."


Aku menganggukkan kepala. "Insya Allah ya, Mas."


"Ya udah, mas ke masjid dulu ya. Bentar lagi adzan Isya."


"Iya, Mas."


Ridho mengecup keningku sebelum turun dari ranjang. Tak henti-hentinya bersyukur pada Yang Kuasa. Telah memberikan jodoh yang baik, shaleh, juga pekerja keras untukku.


Jangan lupa votenya 😘😘

__ADS_1


Vote itu pake poin yaa, ga bayar, kok. Caranya ambil aja poin online kita pas baca novel. Tulisan poinku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. ❤❤


__ADS_2