
Isi Hati Deva
"Apa yang kamu rasain, Nak? Pusing?" Sita memandang iba pada anaknya yang baru bangun.
"Udah ngga kok, Ma. Mama jangan sedih gitu wajahnya. Aku baik-baik aja, gini." Deva tersenyum berusaha menenangkan sang ibu.
Sebenarnya kepalanya memang pusing. Pandangannya sedikit buram karena lelah. Namun, Deva tak ingin membuat ibunya berpikiran buruk.
"Gimana mama ga sedih? Kamu sempat ga sadarkan diri. Mama dan Papa panik sekali tadi."
"Maaf ya, Ma ... aku udah buat kalian khawatir ... tapi Mama ga ngasi tau Kak Nilam, 'kan?"
"Jangan ngomong gitu, Sayang ... makin sedih mama dengernya." Sita mengelus puncak kepala putranya. "Ga, kok. Karena panik, kami ga kepikiran ngubungi Kakak kamu."
"Syukurlah. Aku takut Kak Nilam kepikiran. Kasihan ... Apalagi dia sedang hamil."
"Iya, Nak. Kamu tenang aja ya ... jangan mikirin yang lain dulu. Yang penting anak mama cepat sehat."
"Ok, Ma." Deva mengacungkan jempolnya pada sang ibu.
Sita tersenyum melihat tingkah anaknya. "Oh iya. Tadi ada temen kamu datang jenguk."
"Temen? Siapa, Ma?"
"Iya. Dua orang. Silvi, sama satu lagi, Reva kalau ga salah namanya. Kata Silvi temen kamu juga."
"Reva?" tanya Deva dengan antusias.
Deva benar-benar tak menyangka kalau Reva mau datang menjenguknya. Apalagi mengingat wajah suaminya yang begitu tak ramah saat mereka bertemu. Tanpa Deva sadari, bibirnya melengkungkan senyuman.
"Semangat banget nanyanya ... pacar kamu, ya?"
"Eh. Ga kok, Ma." Wajah Deva sedikit merona mendengar ucapan sang ibu.
Sita tersenyum menangkap raut malu di wajah anaknya. "Masa? Ga usah malu sama mama!" Sita bertanya dengan nada usil.
"Beneran. Dia udah nikah malah," sahut Deva dengan wajah lesu.
Tanpa sadar, Deva memperlihatkan rasa kecewanya pada sang ibu. Sita tertegun sejenak. Merasa ada yang tak beres dengan pengakuan sang anak.
__ADS_1
"Tunggu, tunggu ... kok mama seperti merasakan ada yang patah hati gitu. Kalian punya hubungan dulu, ya?"
"Ah, Mama! Jangan aneh-aneh ngomongnya. Siapa juga yang patah hati?" Deva berusaha ceria lagi.
"Kirain!" Sita menghembuskan napas lega, walau hatinya tetap belum tenang. "Jadi Reva itu siapa?"
"Adik kelas aku pas SMA, Ma. Dulu kita satu eskul. Kami ketemu lagi di kampusnya pas aku mau daftar S2."
"Oh ... cuma teman aja dari dulu?" Sita kembali menggoda anaknya. "Dia nikah muda berarti, ya?"
"Iya, Mama ... kok Mama jadi kepo gitu, sih?" Deva mulai tak nyaman dengan pertanyaan ibunya.
Sita terkekeh. "Wajar aja, donk! Anak mama ini udah dewasa, udah waktunya berumah tangga. Anak tetangga kita yang umurnya di bawah kamu aja udah punya anak."
Deva hanya tersenyum masam. "Udah, ah! Jodoh aku belum datang, Ma. Kalau udah saatnya, pasti aku nikah, kok."
Sita jadi tak semangat lagi menggoda anaknya. "Ya, deh ... kalau Silvi gimana?"
"Maksud Mama?" Deva mengernyitkan dahi.
"Dia dari kemaren ke sini, tapi kamu sedang tidur. Bahkan, dia juga sempat nanya keadaan kamu sebelum ke sini lagi tadi. Kalian beneran ga punya hubungan apa-apa?" ujar Sita dengan penuh semangat.
"Kami cuma temen kok, Ma. Reva yang ngenalin waktu kami pernah ketemu lagi di kantin kampus." Deva terlihat berpikir sejenak. "Anaknya baik. Padahal baru kenal, tapi mau bantu aku pas ada tugas penelitian ke sekolah kemaren."
"Oh ya? Jangan-jangan dia suka sama kamu. Jarang-jarang loh, ada wanita yang perhatian gitu."
"Mama apaan! Belum tentu, Ma. Mungkin memang orangnya baik sama siapa aja."
"Hm ... mungkin aja. Tapi, mama ga keberatan kalau kalian punya hubungan lebih, kok. Mama suka sama Silvi."
"Ma ... kok ngomongnya jadi kemana-mana?"
Sita hanya tersenyum menanggapi protes putra kesayangannya. "Emang salah? Mama kan cuma lagi usaha cari calon menantu. Kamu suka dingin sih, sama cewe. Termasuk sama Shiren."
Deva menghela napas. Dia tak berniat menanggapi lagi ucapan sang ibu. Takut pembicaraan mereka jadi kemana-mana. Terlebih mendengar nama Shiren.
Wanita berkulit kuning langsat itu sempat mengisi hatinya. Rumah mereka masih dalam satu komplek. Saat kuliah, mereka mendaftar di kampus yang sama. Deva sangat kecewa pernah melihat Shiren berciuman dengan laki-laki lain. Padahal Deva mulai membuka hati untuk Shiren, setelah dua tahun mereka sering bertemu.
Sejak melihat kejadian itu, Deva mulai menghindar dari Shiren. Puncaknya saat mereka liburan semester. Deva pulang duluan tanpa mengajak Shiren seperti sebelumnya.
__ADS_1
Terdengar langkah kaki masuk ke dalam ruangan. Ibu Deva mengalihkan pandangan ke arah pintu. Sosok pria paruh baya yang sama tegapnya dengan Deva datang.
"Tuh, papa udah kembali. Mama mau shalat Ashar dulu."
Deva hanya mengangguk, lalu memejamkan mata. Tak dihiraukannya sang ayah yang duduk di samping ranjang. Pikiran Deva mengembara tak tentu arah. Teringat kembali cerita Ibunya tentang Reva yang datang menjenguk.
'Apa dia baik-baik saja?' batinnya. 'Masa iya dia lagi ada masalah dengan suaminya?'
Tanpa sadar, Deva menggelengkan kepalanya. 'Jangan GR, Dev! Mungkin dia kebetulan bertemu Silvi di jalan, lalu ikut ke sini.'
"Kenapa, Nak?" tanya ayah Deva yang heran melihat tingkah putranya.
Deva membuka mata. Terlihat ayahnya mengernyitkan dahi menatapnya. Deva sempat bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan sang ayah. "Ngga papa, Pa. Lagi pusing aja."
"Oh ... nanti habis makan minum lagi obatnya."
"Iya, Pa."
Deva menghembuskan napas lega karena ayahnya tak bertanya lagi. Laki-laki berkulit cerah itu kembali memejamkan mata. Berharap bisa tertidur agar hatinya kembali tenang.
Beberapa saat memejamkan mata, Deva tetap tak bisa tidur. Tiba-tiba wajah Silvi terbayang di benaknya. Wanita mungil itu cukup menyenangkan.
Deva mencoba meraba hatinya. Entah mengapa, dia tak bisa menyukainya seperti seorang wanita. Deva hanya menganggapnya sebagai sahabat atau adik perempuan.
Deva membuka mata. Tak terlihat lagi sosok sang Ayah di depannya lagi. Deva sampai tak menyadari karena larut dalam pikirannya sendiri.
'Mungkin Papa ke kamar mandi.'
Pandangan Deva beralih keluar jendela. Langit mulai mendung, tak kalah suram dari perasaannya saat ini. Deva menarik napas panjang mencoba menenangkan diri.
'Mengapa bayangan Reva begitu susah dihapus dari benakku?'
"Loh, Papa kamu mana, Dev?" tanya Sita yang membuyarkan lamunan anaknya.
"Ng ... ke kamar mandi kayaknya, Ma."
"Oh ... gimana rasanya badan kamu sekarang, Nak?"
"Udah enakan kok, Ma."
__ADS_1
Deva berusaha menyembunyikan perasaannya yang gelisah. Bibirnya melengkungkan senyuman untuk sang ibu. Sinta memijit kepala anaknya dengan penuh kasih.