
"Kamu kenapa?"
Aku tak menjawab, hanya menggeleng pelan. Tubuhku terasa lemas. Ridho membantuku berdiri. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan.
"Reva kenapa, Nak?" Ibu mengetuk pintu. Nada suaranya terdengar cemas.
Ridho mengangkat tubuhku ke ranjang. Aku menatap galak.
"Turunin! Aku ga papa." Aku malu kalau Ibu sampai membuka pintu dan melihat kami.
"Ga usah bantah! Pucat gitu."
Setelah membaringkan tubuhku di ranjang, Ridho membuka pintu.
"Reva tadi hampir jatuh, Bu. Kurang sehat kayaknya," jelas Ridho.
Ibu segera mendekatiku, lalu meraba keningku. "Apa yang sakit, Nak?"
"Pusing aja, Bu," jawabku.
"Nah ... pasti karena belum makan. Ibu ambil nasi dulu ya."
"Kamu belum makan?!" sahut Ridho.
Aku tak merespon pertanyaan Ridho, lalu mengalihkan pandangan pada Ibu.
"Ga usah, Bu. Nanti aku makan sendiri ke belakang."
"Aku ambil minum dulu." Ridho berlalu dari kamar.
"Kalian ga bertengkar, 'kan? tanya Ibu.
Aku menggelengkan kepala. Tak ingin Ibu khawatir, kami baru seminggu menikah.
"Bu, tukang urut yang kemarin ada di rumah ga ya?"
"Biasanya ada. Kamu mau diurut lagi?"
"Iya, Bu. Kemarin dia pesan satu atau dua kali urut lagi biar lebih enakan."
"Ya udah, nanti Ibu panggil. Habis kamu makan nanti, ya."
"Iya, Bu."
Ridho masuk membawa segelas air. Aku berusaha bangkit dan duduk, lalu mengambil gelas dari tangan Ridho.
Setelah menghabiskan segelas air, pusingku sedikit berkurang. Aku berusaha turun dari ranjang.
"Nak Ridho temani Reva makan ya. Ibu belum sempat shalat Ashar, tadi pas adzan masih di jalan."
"Baik, Bu."
Ridho menuntunku ke ruang makan. Ibu kembali ke kamarnya.
"Kamu udah makan?" Kusempatkan bertanya walau hati masih dongkol.
"Udah. Mau aku ambilin nasinya?"
"Ga usah. Aku masih kuat kok."
__ADS_1
Rasa tak nyaman menerpa karena harus makan di bawah tatapan laki-laki berwajah dingin itu. Kuhabiskan sepiring nasi dengan cepat.
Setelah makan, kulangkahkan kaki ke kamar Ibu. Kulihat Ridho kembali ke kamar kami.
"Bu? Udah shalatnya?" tanyaku sambil mengetuk pintu.
"Iya, Nak." Ibu membuka pintu kamar. "Kamu udah makan?"
"Udah. Aku tunggu tukang urut di kamar Ibu aja," kataku.
"Loh, kenapa?" Dahi Ibu berkerut.
"Kali Ridho mau istirahat, Bu. Udah sore pulangnya."
Aku mengarang alasan. Rasa kesal membuatku masih enggan melihat Ridho.
"Ya udah, Ibu panggil dulu orangnya. Kamu belum shalat 'kan?"
"Iya. Bentar lagi, Bu."
***
Selesai diurut, kaki dan tanganku lumayan enakan. Aku kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Kudorong pintu perlahan, Ridho sedang berbaring di ranjang dengan headset di telinga.
Aku baru tahu, laki-laki cuek itu juga suka musik. Ternyata kami belum cukup mengenal satu sama lain.
Ridho bangkit dari ranjang dan melepas headset saat melihatku masuk. "Udah urutnya?"
Aku hanya menganggukkan kepala, mengambil baju ganti, lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah menghabiskan waktu lima belas menit di kamar mandi, aku keluar. Saat menyisir rambut di depan cermin, Ridho mendekat dan memelukku dari belakang.
Pandangan mata kami bertemu di cermin. Ridho membalikkan tubuhku agar menghadapnya. "Kita pulang sekarang ya?" tanyanya dengan lembut.
"Iya," jawabku.
"Motor kamu titip di sini dulu."
"Tapi-"
"Besok bareng aku ke kampus. Pulangnya aku jemput."
Aku sedikit mendengkus. Ridho belum percaya sepenuhnya padaku. Malas bertengkar lagi, aku tak merespon ucapannya.
Kami pun pamit pada Ibu. Kupeluk wanita yang paling berjasa dalam hidup ini. 'I love you so much, Mom'.
***
Setibanya di rumah mertua, Ayah dan Bunda sedang duduk di teras rumah. Kami pun mengucapkan salam.
"Kalian dari mana? Udah mau Magrib baru pulang," tanya ibu mertua setelah menjawab salam kami.
Nada suaranya terdengar tak enak di hati. Terutama saat mengucapkan kalimat ke dua. Aku menghela napas sebelum menjawab.
"Dari rumah Bapak, Bun. Tadi Reva ambil beberapa berkas untuk keperluan kuliah di sana."
"Ooh," jawab Bunda singkat.
"Sekalian urut lagi, biar lebih enakan bekas jatuh kemarin," tambah Ridho.
__ADS_1
"Udah baikan, Nak?" tanya Ayah.
"Alhamdulillah udah mendingan, Yah," jawabku.
"Ya udah. Kalian istirahat dulu, bentar lagi Adzan."
Aku terharu mendengar perhatian Ayah. Bersyukur sekali ayah mertua baik padaku. Selain Ayah dan Bapak teman lama, mungkin juga karena dia tak memiliki anak perempuan.
Kakak Ridho juga laki-laki. Dia bertugas sebagai TNI di Papua. Bapak pernah bercerita, Bang Rafi sudah berkeluarga tahun lalu, tapi belum dikaruniai seorang anak.
Ridho mengantarku sampai ke dalam kamar. Setelah mandi, dia pamit pergi ke masjid. Aku hanya menganggukkan kepala.
Kutatap punggung laki-laki yang telah seminggu mewarnai hari. Rasa kesalku mulai berkurang karena sikap lembutnya. Ah ...andai saja, sikapnya seperti ini setiap hari.
***
Setelah makan malam, kami berkumpul di ruang keluarga. Ridho menghidupkan TV. Di layar kaca, sedang tayang acara yang menampilkan tujuh bayi paling lucu versi acara tersebut.
Kulirik wajah Ridho yang tersenyum semringah melihat tingkah bayi yang lucu. Apa dia sedang memikirkan tentang calon anak?
Seketika ingat skripsiku yang belum diuji. Mengapa baru terpikir olehku sekarang? Bagaimana kalau aku hamil sebelum sebelum ujian skripsi?
Uuh! Memikirkannya saja aku pusing.
Kudengar cerita dari beberapa teman, banyak calon Ibu muntah-muntah saat hamil muda. Tanpa sadar aku menepuk kening dengan pelan.
"Kenapa?" bisik Ridho.
"Hah?" Aku terkejut dengan tindakan Ridho.
"Mikirin apa?"
"Ng-ga," jawabku sedikit gugup, berusaha mengelak pertanyaan Ridho.
"Kalian belum program punya anak?" tanya Bunda tiba-tiba.
Aku menelan ludah mendengarnya. Kulihat wajah Ridho sedikit merona.
"Bun, ngapain bahas masalah gitu?" tegur Ayah.
"Yah ... Bunda 'kan, cuma nanya. Wajarlah, Bunda juga pengen punya cucu."
"Mereka baru menikah. Biarin aja saling kenal dulu. Pacaran setelah menikah gitu istilahnya."
Aku tersenyum malu mendengar kata-kata Ayah. Beruntungnya Ridho memiliki ayah seperti Om Rahman. Bapak memang sesekali ikut bercanda denganku dan Ibu, tapi tak seluwes Ayah.
Tak lama adzan Isya berkumandang. Syukurlah, aku bisa bebas dari bahasan mengenai anak. Ridho dan Ayah pergi ke masjid dengan mengendarai motor. Aku pamit pada Bunda untuk shalat di kamar.
Usai berdoa untuk orang tua dan kebahagiaan rumah tangga kami, aku tertegun. Teringat kembali pembicaraan kami tadi. Apa yang Ridho pikirkan setelah mendengar kata-kata ibunya?
Hadeh! Kenapa juga aku jadi ikut-ikutan memikirkan tentang anak? Lebih baik aku fokus pada skripsi sekarang.
Eh, tapi anak bayi memang lucu ya? Gemesin gitu lihatnya. Menyenangkan kayaknya kalau punya satu di rumah.
Para pembaca yang kece, bantu aku mikir donk! Gimana kalau Ridho juga memikirkan hal yang sama dengan Bunda?
Jangan lupa vote, like dan komen..😘😘
Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺
__ADS_1