Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Ibu ... aku mau pulang


__ADS_3

Hatiku sedikit nyeri mendengar perkataan ibu mertua. Bergegas kulangkahkan kaki ke kamar, tak ingin mendengar lanjutan pembicaraan mereka.


Ibu ... aku mau pulang ....


Ketika ingat baju kotor masih di tangan, aku mendadak bingung. Apa harus kembali ke belakang?


Astaga! Jilbab yang kupakai tadi malam sepertinya terjatuh di pintu dapur. Dengan langkah perlahan aku kembali ke tempat tadi. Ternyata pembicaraan Ridho dan Bunda masih berlanjut.


"Ayah sih, buru-buru jodohin kalian!"


"Bun, kok gitu ngomongnya?" Nada suara Ridho terdengar datar.


"Bunda takut kamu ga keurus, Nak. Anak semata wayang biasanya manja."


"Ga lah, Bun. Lagian, Reva 'kan kemarin jatuh dari motor. Bunda pergi ke dapur pas aku lagi cerita sama Ayah."


"Iyakah? Hm. Semoga dia tidak membuat kecewa."


"Iya, Bun. Tapi dia tetap mau bantu Bunda, 'kan?"


"Baiklah. Kita lihat aja nanti."


Perasaanku jadi tak menentu mendengar pembicaraan Ridho dan ibu mertua. Rasa takut dan khawatir menggelayut di hatiku. Di sisi lain, bersyukur suamiku tetap membela istrinya.


Kuberanikan diri melanjutkan langkah ke ruang tempat mencuci di belakang dapur. Kutarik napas panjang sebelum mendekati mereka.


"Bun, aku mau nyuci. Masih ada pakaian yang kotor?" tanyaku setelah dekat.


Bunda terlihat gelagapan, mungkin terkejut dengan kehadiranku. Ridho pun terlihat panik.


"Cuci yang di mesin aja," jawab wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Baik, Bun."


Aku memasukkan pakaian kotor, lalu mengisi air ke dalam mesin cuci tanpa bicara. Bunda telah beranjak ke kamar, mungkin tengah bersiap pergi. Ibu mertuaku bekerja di instansi pemerintah, Dinas Tenaga Kerja.


Ridho duduk di taman belakang, mungkin berniat menemaniku. Di sana terdapat kursi yang terbuat dari kayu. Empat kursi disusun melingkari kolam kecil yang berisi beberapa jenis ikan. Beberapa bunga di tanam dalam pot, ada juga tanaman yang dibiarkan merambat di tanah.


Kami hanya terpisah oleh tembok setinggi pinggang, sesekali aku melirik Ridho dengan ekor mata. Raut wajahnya terlihat tak biasa.


Setelah memutar mesin, aku kembali ke kamar. Suamiku pun menyusul. Kuhempaskan diri ditepi ranjang yang di pasang seprai berwarna biru langit. Laki-laki dengan raut wajah tegas itu duduk di sampingku.


"Kamu kenapa?" tanya Ridho.


"Ga papa." Aku berusaha menutupi rasa kecewa di hati.


Ridho berdehem sebelum bertanya, "Kamu dengar pembicaraan kami tadi?"


Aku mengalihkan pandangan pada jendela kamar yang telah dibuka. Hari ini sangat cerah, langit terlihat biru dengan semarak awan putih menghiasi, tapi tidak hatiku.


"Rev?" Ridho menarik lenganku agar menghadapnya.


Mata itu memandang iba padaku. Seketika rasa sedih menghampiriku. Ingin rasanya berlari kembali ke rumah detik ini juga.


"A-ku ... mau pulang."


Ridho tak menjawab, detik berikutnya meraihku dalam pelukan. Kutahan air mata agar tidak merebak.


"Maaf ya," ucapnya.

__ADS_1


Aku menghela napas, lalu berusaha melonggarkan pelukan.


"Kamu ga kerja?" tanyaku.


Ridho menatapku tajam, "Kenapa suka sekali mengalihkan pembicaraan?"


Bingung harus menjawab pertanyaan Ridho, aku hanya terdiam. Tak nyaman dengan tatapannya, aku mengalihkan pandangan pada lemari kayu yang dicat warna kuning gading. Hampir serupa dengan milikku di rumah.


Huwaah! Aku benar-benar rindu suasana kamar. Rindu Bapak dan Ibu juga.


"Nanti terlambat kerja," jawabku asal.


Laki-laki berkulit terang itu menghela napas. "Kamu ga papa aku tinggal sekarang?"


"Ga papa. Nanti juga mau ke kampus."


"Berangkatnya gimana? Apa aku minta temanku antar motornya?"


"Ga usah. Aku naik angkot aja, nanti pulangnya ambil motor. Aku mau ke rumah bentar ambil berkas untuk daftar seminar."


Jarak rumah Ridho dengan kampusku tak terlalu jauh. Tepatnya, kampus berada di tengah-tengah antara rumahku dan rumah mertua.


"Ya udah. Hati-hati nanti jalannya," ucap Ridho, sambil mengelus puncak kepalaku.


"Iya."


Ridho mengambil kunci rumah yang terletak di meja kamar dan menyerahkannya padaku.


"Nanti aku jemput kalau kerjaan ga banyak."


Aku tak menjawab, hanya mencium tangan yang dia ulurkan.


Kulangkahkan kaki ke lantai dua. Menunggu kedatangan Silvi, aku membaca papan informasi untuk mengetahui persiapan seminar hasil. Sebenarnya ada satu teman yang sudah seminar semester yang lalu, tapi kami tak terlalu dekat dengannya.


Setelah mencatat beberapa info penting, aku mengeluarkan gawai dari tas. Mengetik pesan untuk sahabatku.


[Sil, kok belum ke kampus?]


[Aku ga enak badan. Kamu udah nyampe ya?]


[Iya, nih. Baru udah nyatat persiapan buat seminar.]


[Forward, ya. Besok aja kita daftar dan ngurus persiapannya.]


[Ok. Berkasku juga masih di rumah.]


[Sip. Btw kamu udah baikan?]


[Masih pegel-pegel, sama kaki belum enakan. Nanti sekalian urut lagi pulang ke rumah.]


[Ya udah. Hati-hati ya, Beb.]


[Iya. Thanks.]


"Cie ... yang mau seminar ...." sapa teman sekelasku, Vera dan Stefi.


Sepertinya berita tentang persetujuan seminar kami sudah memyebar.


Aku tersenyum sekilas. "Kalian juga bentar lagi."

__ADS_1


"Iya, nih. Udah dapat jadwal barusan, habis kalian." Stefi tersenyum semringah.


Aku pernah dekat dengan Stefi saat semester dua. Walau hubungan kami tak sedekat dulu, aku dan Stefi tetap akur.


"Nah ... kalian tolong handle snacknya donk, tar gantian. Yang lain masih sibuk bimbingan kayaknya," pintaku.


"Boleh, boleh," jawab Vera.


"Ya udah, tar aku wa lagi ya. No kamu masih yang lama 'kan, Stef?"


"Yoha!"


"Sip. Aku duluan ya."


"Ok," jawab mereka.


Setelah memasukkan buku catatan dan gawai ke dalam tas, aku bergegas turun. Berjalan kembali ke gerbang, lalu menyetop angkot menuju bengkel.


Aku berdiri kaku di depan bengkel, Kak Deva terlihat duduk menunggu motornya yang sedang ditambal. Dengan langkah ragu, aku memasuki bengkel.


"Reva?" Raut terkejut tergambar di wajah Deva.


Kucoba untuk tersenyum. "Iya, Kak. Motornya pecah ban, ya?"


"Iya. Kamu kenapa ke sini?"


"Mau ambil motor. Kemarin jatuh dekat sini."


"Ya Allah, kamu ga papa?" Mata Kak Deva memancarkan kekhawatiran.


Mata teduh yang dulu pernah kukagumi. Selalu memancarkan ketulusan padaku. Kualihkan pandangan ke arah lain.


"Cuma lecet aja, Kak."


"Syukurlah. Duduk dulu, Abangnya masih sibuk tuh."


"Iya, Kak." Aku duduk di kursi yang menghadap ke dalam bengkel.


"Mau minum? Biar kakak beli lagi," tawarnya sambil menyodorkan sebotol minuman yang belum dibuka.


"Ga usah, Kak. Makasih."


Kak Deva berdehem pelan. "Kok pesan Kakak ga di balas?"


Aku menimbang sejenak jawaban yang tepat untuk pertanyaan Kak Deva. Rasa bersalah menghinggapi hatiku. Sepertinya ini saat yang tepat untuk aku bicara jujur mengenai pernikahan.


"Sebenarnya...." Kuatur napas sebelum melanjutkan kata-kata.


Kak Deva menunggu dan tersenyum. Raut penasaran terlihat di wajahnya.


Tuhan ... kuatkan aku.


"Sebenarnya aku-"


"Reva!" suara seseorang terdengar familiar


Jangan lupa vote, like dan komen..😘😘


Vote itu pake point yaa, ambil aja point online kita. Tulisan point ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya.☺☺

__ADS_1


__ADS_2