
Langkahku terhenti karena tubuh mendadak kaku. Ridho yang sedang memeluk pinggangku juga ikut berhenti. Pandangannya menyiratkan kecemasan.
"Kamu kenapa?" tanya Ridho.
"Kayaknya aku berdarah, Mas," sahutku dengan suara lirih.
Tubuhku sedikit gemetar karena ketakutan yang tiba-tiba menyerang. Perasaanku tak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata. Ridho berpindah posisi sehingga kami berhadapan agar bisa melihat wajahku.
"Bedarah? Gimana maksudnya?"
"Aku ga tau, Mas. Aku ... takut." Kututup wajah dengan kedua telapak tangan.
Perlahan benda cair terasa mengalir di pahaku. Air mata mulai membanjiri pipi. Ridho meraihku dalam pelukan.
Ya Allah ...aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.
"Kamu tenang dulu, Sayang ... tarik napas dulu, cerita yang jelas sama aku."
Aku beristigfar lalu menjatuhkan tangan ke samping tubuh. "Gimana kalau bayinya udah ga ada, Mas?"
Ridho sepertinya mulai paham dengan maksudku. Wajahnya berubah dari panik menjadi mendung. Hatiku sangat sakit melihat kekecewaan yang sempat tergambar di sana.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Aku kasih tau Bunda dulu ya, biar siap-siap."
Aku hanya mengangguk pasrah. Ridho bergegas keluar memanggil Ibunya. Aku tak berani duduk atau berbaring, hanya berdiri di dekat ranjang. Tak lama kemudian, Ridho datang bersama Bunda.
"Kamu tenang dulu, ya. Jangan panik agar janinnya selamat," ucap Bunda. "Ridho cepat bawa Reva ke rumah sakit. Nanti Bunda nyusul bawa tas kalian, Bunda mau cari kain dan perlengkapan lain dulu."
"Iya, Bun," jawab Ridho sambil membantuku berjalan.
Ridho segera menuntunku menuju mobil. Aku berusaha menguatkan diri walau tubuh terasa lemah. Saat duduk di mobil, pandanganku mulai samar, kepala terasa berputar. Perlahan kesadaranku hilang.
"Reva?"
Ridho menoleh ke arahku. Tangannya menepuk bahuku pelan. Aku tak bisa lagi mendengar kata yang lain karena semuanya berubah menjadi gelap.
***
Saat terbangun, aku sudah berbaring di ranjang beralas seprai putih. Jarum infus sudah menancap di lengan kiriku. Sepertinya aku berada di sebuah ruangan rumah sakit.
Aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya. Rasa khawatir kembali menyerang. Kulihat Ridho berdiri tak jauh dari ranjang, sedang menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Iya, Pak. Kami di rumah sakit Raflesya sekarang."
"...."
"Reva belum sadar, Pak. Tapi udah ditangani dokter tadi."
Jantungku berdetak kencang. Sepertinya Ridho menghubungi Bapak. Pikiranku mendadak gusar. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tanganku bergerak pelan menyentuh perut. Sakit. Ngilu. Entah rasa apa yang cocok untuk menggambarkannya. Pikiran buruk kembali memenuhi kepalaku.
Ya Allah ... apa aku sudah kehilangan bayiku?
Isak tangisku mulai keluar. Ridho yang mendengarnya terlihat terkejut dan langsung menghampiriku. Tangannya menggenggam jemariku erat.
"Kamu yang sabar ya ... harus kuat!"
"Jujur sama aku, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Ridho menarik napas pelan sebelum menjawab pertanyaanku. Aku mulai percaya dengan keyakinan yang sebelumnya menghampiri. Calon bayi kami tak bisa diselamatkan?
"Bayi kita udah ga ada ... kamu harus tabah. Ini ujian untuk kita. Allah lebih menginginkannya untuk kembali."
"Ga mungkin. Mas ... aku mau bayiku. Mana bayiku?" Aku mulai histeris setelah mendengar kata-kata Ridho.
"Mas! Kamu tega! Kamu ga ngerti perasaan aku."
Ridho membungkukkan badan untuk memelukku. "Sabar, Sayang ... istigfar ... Jangan gini! Mas sedih jadinya. Mas juga sangat mengharapkan dia lahir dengan selamat. Tapi takdir Allah berkata lain."
Bahuku berguncang menahan tangis. Rasanya seperti nyawa tercabut dari badan. Mengapa sesakit ini ya, Tuhan?
"Kenapa, Mas? Kenapa ga bisa bertahan?" Ucapanku mulai tak bisa dikendalikan.
Ridho membelai kepalaku yang masih terbungkus jilbab. Aku hanya terdiam dengan pikiran yang kosong. Sampai tak perduli saat dia mencium pipi juga keningku.
Tak lama Ayah dan Bunda masuk ke ruangan. Raut wajah Ayah terlihat panik. Sedangkan Bunda terlihat kecewa, mungkin dia sudah tahu dari Ridho, kami sudah kehilangan calon bayi.
Aku berusaha mengerti kekecewaan Bunda. Ini cucu pertamanya. Belum ada kabar kehamilan dari istri kakak laki-laki Ridho.
Aku memilih tak bicara apa-apa. Rasa kecewa Bunda tak sebanding dengan yang kupunya. Aku yang paling berharap bayi kami akan selamat.
"Gimana keadaan Reva, Nak?" tanya Ayah.
__ADS_1
"Udah diperiksa tadi, Yah. Tak perlu dikuret kata dokter, saat tiba di rumah sakit, Reva mengalami pendarahan. Nanti akan di USG saat kunjungan dokter yang ke dua"
"Ya Allah ... kalian yang sabar, ya. Ini ujian untuk rumah tangga kalian," sahut Ayah.
Bunda hanya terdiam. Sempat kulirik rautnya yang terlihat gundah. Air mataku kembali merebak. Apa Bunda akan berubah lagi seperti dulu karena kecewa?
Aku baru menyadari kalau Bunda mulai berubah sejak tahu aku hamil. Perasaan sedih karena kehilangan calon bayi menyatu dengan kekhawatiran tentang sikap Bunda selanjutnya. Aku benar-benar merasa putus asa.
"Aku mau lapor ke perawat dulu ya, Yah. Reva baru aja sadar. Supaya ada tindakan lebih lanjut."
"Iya, Nak. Biar kami yang jaga Reva. Kamu udah hubungi besan?"
"Udah, Yah. Bapak dan Ibu mungkin sedang di jalan sekarang."
"Ya udah. Kamu cepat laporan."
Ridho mengangguk sebagai jawaban. Setelah Ridho keluar dari ruangan, Ayah juga beranjak. Sepertinya dia memilih duduk di depan ruangan menunggu kedatangan Bapak.
Bunda duduk di kursi dekat ranjang. Aku melirik wajahnya sekilas, lalu memejamkan mata. Sempat berharap kejadian ini hanya mimpi buruk.
"Kamu mau minum?" tawar Bunda.
Aku membuka mata. "Ga, Bun. Nanti aja."
Bunda hanya mengangguk, lalu duduk terpekur. Aku kembali memejamkan mata. Suasana hening membuatku semakin sedih.
Beberapa menit berlalu dalam hening. Tak lama kemudian, terdengar suara Bapak berbicara dengan Ayah. Aku pun membuka mata. Bunda juga terlihat menyimak pembicaraan di depan ruangan.
Ibu masuk, lalu berjalan cepat menghampiriku. "Kamu gimana, Sayang?"
Isak tangisku kembali keluar. "Bayiku udah ga ada, Bu."
"Ya Allah ... yang sabar ya, Nak. Ini cobaan dari Allah. Kamu ga boleh putus asa, apalagi berprasangka buruk."
"Aku ... sakit, Bu."
"Iya, Nak. Ibu ngerti apa yang kamu rasakan. Banyak-banyak beritigfar, minta dikuatkan sama Allah."
Aku kembali memejamkan mata. Mencoba berucap dalam hati. Memohon ampunan dari Tuhan karena sempat berburuk sangka. Ada perasaan tak rela dengan takdir Tuhan yang begitu menyakitkan.
Ya Allah ... tolong bantu aku untuk kuat menghadapi semua ini.
__ADS_1
Jangan lupa vote zheyenk 💕💕
Vote itu pake point yaa, ga bayar, kok. Caranya ambil aja point online kita pas baca novel. Tulisan pointku ada di sudut kanan atas. Nanti pas buka cerita ini, pilih vote. Tinggal kasih point yang kamu punya untuk penulis. Biar rangkingnya naik dan penulis tambah semangat. ❤❤