Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T

Suami Romantis (Jodoh Pasti Bertemu) Oleh Meisy T
Kejutan yang Tak Diharapkan


__ADS_3

Hari ini Ridho mengajakku melihat perkembangan rumah kami yang sedang direnovasi. Bagian depannya sudah selesai, ada tambahan teras mungil tempat bersantai. Ridho merubah bentuk ruang tamu dan menambah satu kamar untuk tamu. Tinggal menyelesaikan dapur yang ditambah luasnya.


Hampir satu minggu ini Ridho sibuk mengawasi para tukang yang merenovasi rumah kami. Terkadang dia pulang ke rumah hari sudah senja. Aku terenyuh melihat wajahnha yang lelah, sepulang kerja masih harus melakukan hal lain.


"Insya Allah minggu depan bisa selesai rumah kita," ucap Ridho.


"Iya, Mas. Lumayan cepat kerja tukangnya."


"Bener. Teman mas yang recommend. Ga ngecewain hasilnya, ya?"


"Mas ga bikin ruang khusus buat kerja? Katanya mau bikin usaha."


"Bikin, tapi udah pindah aja nanti. Di sebelah kanan yang masih kosong itu, sekalian bangun garasi."


"Kok ga sekarang aja?" tanyaku heran.


"Ng ... uang mas belum cukup. Lihat jumlah keuntungan usaha bulan depan. Takutnya ga sama dengan bulan ini."


"Oh gitu. Maaf ya, Mas ... aku ga bisa bantu apa-apa untuk meringankan beban Mas."


"Ngga papa, Sayang ... kan sudah kewajiban mas sebagai seorang suami untuk memenuhi kebutuhan kita."


Aku hanya mengangguk pelan. Terselip rasa nelangsa karen tak bisa membantu keuangan Ridho. Andai aku juga punya penghasilan yang lumayan.


Seketika teringat pembicaraanku dengan Ibu minggu lalu. Aku belum sempat membicarakannya dengan Ridho. Sebenarnya aku tak terlalu memikirkan masalah itu lagi. Apa aku ikut tes PNS saja tahun ini?


"Kita juga harus belanja barang-barang keperluan rumah deh, Mas."


"Oh, iya. Hampir lupa. Pas libur minggu depan ingatin mas, ya. Kita belanja sama-sama."


"Siap, Tuan Ridho!"


"Bisa aja Nyonya Ridho."


Kami tertawa bersama. Para tukang sempat melirik ke arah kami. Aku memberi kode pada Ridho untuk berhenti bercanda. Tak enak juga sibuk sendiri saat orang lain lelah bekerja.


"Kita lihat tanaman bentar yuk, Mas! Nanti balik ke sini lagi. Kata Mas ada yang jual dekat sini."


"Boleh ... sekalian mampir ke penjual bunga juga kalau kamu ga cape."


"Cape apaan? Mau banget!" sahutku antusias.

__ADS_1


Kami pun pamit pada tukang untuk pergi sebentar. Ridho berjanji akan memberi upah mingguan mereka saat kami kembali lagi. Mereka mengangguk paham.


Sekitar sepuluh menit mengendarai motor, kami tiba di tempat yang Ridho ceritakan. Terdapat beraneka ragam bibit pohon yang dijejerkan. Aku sampai bingung untuk memilihnya.


"Mas mau tanam pohon apa?" tanyaku pada Ridho akhirnya.


"Mas nurut aja. Kamu maunya yang mana?"


"Banyak banget. Aku sampe bingung," jawabku sambil meringis.


"Pohon Mangga bagus, tuh. Kelengkeng juga boleh."


"Iya, deh. Dua itu dulu, nanti kalau memungkinkan beli satu lagi."


"Oke." Ridho mengacungkan jempolnya.


Penjual yang tadi sibuk mengurus tanaman akhirnya mendekat. "Jadinya mau yang mana, Mas?"


"Mangga sama Kelengkeng, Mas. Tapi titip dulu, ya. Insya Allah minggu depan diambil. Nanti saya DP dulu."


"Boleh, Mas. Saya simpan dulu kalau gitu."


Ridho mengeluarkan sejumlah uang yang diminta penjual untuk tanda jadi. Aku melihat-lihat tanaman lain. Mataku terpaku pada penjual bunga di seberang jalan.


"Mas, habis ini, kita ke depan sana, yuk! Ada yang jual bunga."


"Hah?" Ridho menoleh ke arah yang aku tunjuk. "Oh iya, kebetulan sekali berdekatan tempatnya."


"Iya, Mas."


Kami pun mendatangi tempat penjual bunga. Seorang wanita yang kutaksir umurnya belum empat puluh tahun tersenyum pada kami saat mendekat. Dia pun menyapa kami dengan ramah.


"Silahkan, Mbak ... mau yang mana bunganya?"


"Mau lihat-lihat dulu, Mbak," sahutku sambil tersenyum.


"Penganten baru, ya?" tanyanya.


Aku berusaha tetap tersenyum walau sedikit risih dengan pertanyaannya. Salah satu alasan aku jarang berkumpul dengan ibu-ibu tetangga rumah karena mereka suka kepo. Aku pun berusaha fokus melihat aneka bunga yang di pajang di sana.


"Mirip Mas sama Mbaknya, jodoh biasanya. Makanya saya nebak," lanjutnya.

__ADS_1


"Eh. Iya, Mbak. Kami memang udah nikah," sahutku agar dia tak bertanya macam-macam lagi.


"Udah ada yang menarik, Yang?" tanya Ridho yang tadi sempat menjauh karena menerima panggilan.


"Asoka cantik ya, Mas? Aku mau mawar juga."


"Pilih aja mana yang kamu suka. Tar kita pinjam mobil Bapak pas ngambilnya."


"Dikit aja dulu, deh. Tar repot nagmbilnya. Belum angkut barang-barang lain. Nanti pas udah pindah baru ke sini lagi."


"Terserah mana baiknya."


Aku pun memilih lima pot bunga yang berukuran sedang. Sama seperti pohon cangkokan, Ridho membayar sejumlah uang untuk tanda jadi. Kami pun pamit setelah wanita itu menyimpan bunga yang aku pilih.


Keluar dari tempat penjual bunga, adzan Ashar berkumandang. Ridho mengajakku shalat di sebuah masjid yang tak jauh dari sana. Kami pun berpisah di halaman masjid untuk mengambil wudhu. Kupanjatkan beribu syukur usai melaksanakan shalat empat rakaat.


Sebelum kembali ke rumah kami, Ridho menghentikan motor di tempat penjual martabak. Dia membeli beberapa kotak dengan aneka rasa. Aku mengernyitkan dahi melihat banyaknya porsi yang dia pesan.


"Buat siapa aja, Mas?"


"Buat kita, Sayang. Buat tukang juga. Atau mau sekalian buat Bapak Ibu? Cuma takutnya dingin pas pulang nanti."


"Ooh. Mampir aja lagi pas pulang, Mas."


"Okesiip."


Setelah membayar sejumlah uang, Ridho melajukan motor dengan santai. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul empat sore saat kami tiba di rumah. Para tukang sedang beristirahat karena lelah.


"Ini, Pak. Buat nemenin istirahat," tawar Ridho.


"Wah, makasih, Mas," sahut salah satu tukang yang dekat posisinya dengan kami.


Ridho hanya mengangguk pelan. Dia menyerahkan tiga kotak martabak pada para tukang. Mereka menerima pemberian Ridho dengan wajah semringah.


Kami pun duduk di teras yang sudah teduh. Sesekali aku mendongak menatap langit yang terlihat cerah. Sama dengan suasana hatiku saat ini. Ketika Ridho membuka kotak martabak, aku membuka botol minum yang kami bawa dari rumah Ibu.


Sambil berbincang mengenai perkembangan renovasi dengan para tukang, Ridho menyiapkan uang untuk upah mereka. Kami pun pamit, setelah Ridho menitipkan uang pada salah satu tukang untuk dibagikan pada yang lain sebelum mereka pulang.


Saat Ridho menghidupkan mesin motor, terlihat seseorang mendekat memandang wajahnya lekat. Mataku sedikit memicing karena sinar matahari yang lumayan membuat silau. Tepat di depan kami, wanita muda itu berhenti.


"Ridho? Kamu Ridho, 'kan?" Wanita itu bertanya dengan wajah semringah.

__ADS_1


Ridho yang tadi menunduk mengangkat wajahnya. Kulirik rautnya yang sangat terkejut melihat wanita itu di depannya. Hatiku jadi bertanya-tanya, siapakah perempuan cantik yang saat ini tersenyum manis pada Ridho?


__ADS_2