
"Sinta?" Akhirnya Ridho membuka suara setelah menatap wanita itu beberapa detik.
"Kirain kamu udah lupa sama aku. Kamu apa kabar, Dho?"
Tergambar jelas ada kerinduan di mata Sinta untuk. Kulirik wajah Ridho sejenak, walau samar, tergurat juga hal yang sama di sana. Rasa cemburu tiba-tiba menyerang hatiku.
"Alhamdulillah, sehat, Sin. Kamu sekarang di sini?"
"Iya. Aku kerja di bank deket jalan depan. Motorku pecah ban, titip di bengkel dulu karena yang biasa nambal ban lagi pergi."
Aku hanya terdiam menyimak pembicaraan Ridho dan wanita itu. Berusaha meredam berbagai rasa yang bergejolak di dada. Tak biasanya Ridho begitu perhatian dengan seorang wanita. Bahkan, sikapnya sangat berbeda dengan Nisa saat kami sudah menikah.
"Oh. Kamu tinggal di sini? Sama siapa? Ayah kamu?" Ridho kembali bertanya pada wanita itu membuat dadaku sedikit sesak.
"Ayah masih di kampung. Habis kuliah, aku cari kerja di sini. Aku ngekos sama temen, masuk gang kecil itu."
Mataku mengikuti arah telunjuknya. Ternyata dia tinggal di gang sebelah kanan. Sangat dekat dari rumah kami. Perasaanku tiba-tiba menjadi tak enak.
Ridho mengangguk paham. Setelahnya melihat ke arahku, seperti baru tersadar kalau dia sedang bersama istrinya sekarang. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Berusaha mengurangi perasaan gelisah dengan melihat kendaraan yang lalu lalang di jalan depan.
"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya wanita itu lagi.
"Aku baru beli rumah ini, kami akan tinggal di sini kalau udah selesai direnovasi." Ridho menunjuk rumah kami dengan dagunya. "Oh iya. Kenalin, ini istriku."
"Kamu udah nikah?" Wanita itu bertanya dengan nada yang begitu terkejut.
Ridho tersenyum sedikit kikuk, lalu kembali menoleh padaku. "Iya, Sin. Alhamdulillah udah hampir setahun."
"Ga ngundang!" protesnya setengah bercanda.
Ridho terkekeh pelan. "Gimana mau ngundang, kamunya di mana. Waktu itu kamu pergi tiba-tiba, ga bilang mau pulang ke kampung, aku tau dari Reno. HP aku rusak habis itu, nomor teman-teman hilang semua."
"Iya. Maaf. Waktu itu Ayah buru-buru ngurus semuanya. Aku ga dikasi kesempatan untuk pamit lagi sama kalian."
"Ngga papa. Aku ngerti, kok."
Sempat terdiam beberapa saat, aku bingung harus bersikap bagaimana saat situasi seperti ini. Ridho mengerjapkan mata seperti memintaku mengenalkan diri. Aku menarik napas pelan sebelum mengabulkan keinginan Ridho.
"Reva." Kukuatkan diri untuk mengeluarkan tangan dan berusaha menerbitkan senyuman.
Wanita itu beralih menatapku dan tersenyum sekilas sebelum meraih uluran tanganku. "Sinta."
__ADS_1
Kutarik lagi tangan saat menyadari wanita itu tak terlalu antusias berkenalan denganku. Mati-matian aku berusaha meredam rasa cemburu. Rasanya ingin secepatnya pergi dari sini. Namun, Ridho belum menunjukkan tamda akan segera mengajakku pulang.
"Kita jadi pulang, Mas?" Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Ridho.
Biasanya aku tak terlalu menunjukkan kegelisahan pada orang lain. Entah mengapa kali ini aku merasa harus belajar tegas. Kulirik wajah Ridho yang sedikit terkejut karena disindir. Aku tetap bergeming menunggu keputusannya.
"Iya, jadi," sahut Ridho, lalu menoleh pada wanita itu. "Maaf, Sin, kami udah mau pulang tadi," pamit Ridho.
"Memangnya kalian tinggal di mana sekarang?"
"Di rumah orang tua Reva."
"Oh gitu. Oke, deh. Aku juga mau pulang. Kita bakal tetanggaan nanti," ucapnya, lalu tersenyum pada Ridho.
"Duluan, Sin." Aku berusaha berbasa-basi.
"He'em." Sinta mengangguk, lalu bergantian menatap kami.
Aku pun naik ke boncengan motor dan tak menoleh lagi pada wanita yang bernama Sinta itu. Selama perjalanan pulang ke rumah Bapak, aku hanya diam. Hatiku benar-benar tak nyaman dengan kehadiran Sinta di antara kami. Ridho juga tak membuka suara.
"Kok diam aja, Yang?" tanya Ridho setelah beberapa waktu terlewat dalam hening.
"Eh. Iya. Hampir lupa." Ridho pun menghentikan motor di tempat penjual martabak.
Hadeh! Yang habis ketemu wanita cantik, sampai lupa niat beli makanan buat mertua.
Aku sedikit bersungut mendengar pengakuan Ridho. Rasa kesal menyeruak membuatku enggan menanggapi ucapannya. Sebegitu berpengaruhnya pertemuan mereka tadi. Sebenarnya seperti apa hubungan mereka dulu?
Setibanya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Wajah Ibu terlihat bertanya-tanya melihat kelakuanku yang langsung berlalu setelah mengucapkan salam. Aku merasa bersalah, tapi sedang enggan berbicara.
Maafkan aku ... Bu.
Sebelum Ridho menyusulku, bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Guyuran air membuat kepalaku yang sempat panas kembali dingin. Segarnya tubuh ikut menenangkan suasana hati yang sempat risau. Aku sengaja berlama-lama di kamar mandi, belum mood untuk membicarakan masalah tadi pada Ridho.
Setelah merasa cukup, aku keluar dari kamar mandi. Ridho tengah duduk di kursi menatapku dengan pandangan yang sulit dibaca. Aku bergegas mengambil pakaian, lalu masuk lagi ke kamar mandi.
Saat membuka pintu, tubuh menjulang Ridho sudah berdiri di depanku. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Ridho memegang kedua bahuku membuatku menatapnya lagi.
"Kamu kenapa?"
"Ngga papa."
__ADS_1
"Dari tadi judes gitu wajahnya."
"Mas ga mandi? Bentar lagi adzan Magrib."
"Kenapa suka sekali mengalihkan pembicaraan? Protesnya. "Aku punya salah?"
"Masih nanya?" jawabku sedikit emosi.
Ridho tersentak mendengar nada bicaraku. Aku berusaha melepaskan diri darinya. Namun, Ridho malah meraihku dalam pelukan.
"Kamu marah sama aku?"
Aku hanya terdiam. Ridho menghela napas, lalu menunduk menatap mataku. Sempat kulihat raut gelisah di wajahnya, tapi tetap tak bisa membaca hatinya sekarang.
"Maaf," ucapnya.
"Mas salah apa?" tanyaku tanpa sadar memancing pembicaraan mengenai wanita itu.
Ridho kembali menghela napas. "Nanti malam mas cerita. Mas mandi dulu, ya."
Aku tak menanggapi ucapan Ridho. Menarik napas lega saat dia melepaskanku, lalu masuk ke kamar mandi. Sejujurnya, aku belum siap mendengar ceritanya mengenai masa lalu atau apapun mengenai wanita itu.
***
Usai shalat Isya, aku membaringkan tubuh di ranjang. Pikiranku mengembara tak tentu arah. Kembali teringat dengan kejadian sore tadi. Aku beristigfar dalam hati untuk mengurangi kegelisahan.
Tak lama kemudian, Ridho pulang dari masjid. Aku menatapnya sekilas, lalu memejamkan mata. Terdengar langkah Ridho semakin mendekat.
"Tumben?"
Aku pura-pura tak mendengar pertanyaannya. Ridho ikut berbaring di sebelahku, masih menggunakan koko dan peci hitamnya. Rasa gelisah kembali menyerang membuatku kesulitan bernapas. Meraih tanganku dan menggenggam jemariku erat. Aku membuka mata, tatapan kami bertemu beberapa saat.
"Biasanya belum tidur jam segini?"
"Cape," jawabku asal.
"Kamu belum mau maafin mas?"
Aku kembali memejamkan mata. Ridho membelai rambutku. Apa kami memang harus bicara malam ini?
Ah ... rasanya aku benar-benar belum sanggup mendengar kisah mereka.
__ADS_1