Suamiku Galak

Suamiku Galak
11. Pelukan Terakhir


__ADS_3

Arga mengambil undangan itu, memerhatikannya baik-baik. Alis kanannya terangkat. Undangan itu seperti keajaiban dunia ke delapan.


Galak akan menikah? Ada apa ini? Apa kiamat begitu dekat?


Arga tertawa dalam hati. Sedangkan di depan istrinya, ia tersenyum tipis.


“Apa kamu akan ke sana?” tanya Arga.


Senyum Kirana langsung turun. Ia mengerucut sedih sembari mengusap-usap perutnya lagi. “Sebenarnya aku ingin sekali. Tapi mau bagaimana lagi, dokter tidak membolehkanku pergi jauh-jauh,” katanya lesu.


Arga mengusap rambut istrinya. Kemudian memberikan kecupan di kening, lebih tepatnya memberikan dukungan semangat.


“Tidak apa. Kamu bisa mengunjungi adikku serta istrinya nanti, kalau pangeran kecil kita udah lahir,” tutur Arga.


“Apa kamu akan menemui mereka? Menghadiri acara pernikahan itu sendiri?” tanya Kirana.


“Aku akan menemui mereka, tapi aku tidak akan menghadiri acara pernikahan itu,” jawab Arga.


“Apa maksudmu?” Kirana tidak mengerti.


“Aku, kan, sedang sibuk sama pekerjaan. Jadi aku akan menemui mereka bulan depan aja,” jelas Arga.

__ADS_1


Lagi pula Arga tidak berniat menghancurkan kebahagiaan sejenak itu ….


… Ia lebih tertarik menghancurkan kehidupan yang berlangsung lebih lama ….


… Kehidupan Galak ….


Setelah Kirana keluar dari kamar, Arga mengambil ponselnya di atas ranjang. Kemudian menghubungi seseorang.


“Cari tahu tentang Meta Felicia ….”


-oOo-


Meski pernikahan Galak dan Meta terjadi secara mendadak, pesta pernikahan mereka tetap digelar dengan mewah. Seolah-olah sepuluh hari adalah sepuluh bulan. Sayang sekali Gana: ia tidak bisa menyamai Vera.


Aula pernikahan begitu ramai. Tamu yang berdatangan adalah orang-orang kalangan atas. Sedangkan untuk wartawan, hanya beberapa saja yang diundang.


Gana belum berhenti melihat Meta berdiri di samping laki-laki lain. Hatinya terluka, tetapi ia turut bahagia untuk Meta. Tiba-tiba Meta sudah berdiri di depannya.


“Gana …,” sapa Meta. Ia ikut berkaca-kaca.


Gana membersihkan air matanya dengan sapu tangan. “Selamat, ya, untuk pernikahanmu,” ucap Gana menggoreskan senyum.

__ADS_1


“Maafin Meta …,” tutur Meta.


“Sebenarnya hatiku terluka, Met. Tapi, ternyata, luka hatimu lebih dalam dariku selama ini. Selama bersamaku kamu enggak bahagia. Asal kamu bahagia dengan yang lain, aku turut bahagia,” sahut Gana.


Meta terharu. Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar. Memberikan lampu hijau kepada Gana untuk memeluknya untuk yang terakhir kali.


Gana sudah melangkah hendak memeluk Meta. Tiba-tiba seorang laki-laki tinggi sudah berdiri di depannya, menghadangnya, dan menghentikan langkahnya.


Laki-laki itu menghadap Gana. Melemparkan kilatan mata yang begitu tajam. Gana menjadi semakin lemas. Ia bahkan tidak memiliki keberanian lagi.


“Me-meta. Aku pergi dulu, ya. Aku baru ingat punya urusan lain,” pamit Gana. Kemudian pergi sembari menggaruk-garukkan kepala.


Meta melewati laki-laki tadi untuk melihat kepergian Gana. “Tapi kita belum pelukan, Gana!” protes Meta.


“Aku tahu kamu memang bukan orang yang punya malu. Tapi jaga sikapmu selama menjadi Nyonya Anggara.”


Meta menoleh. Galak sudah berada di depannya tanpa melepaskan kilatan tajam itu di matanya.


“Tapi Meta cuma mau kasih pelukan terakhir buat Gana,” tutur Meta.


“Gana atau siapa pun itu, kamu tidak bisa memeluk laki-laki sembarangan seperti perempuan yang tidak punya batasan. Kamu itu sudah menikah!” tegas Galak.

__ADS_1


Langsung saja Meta menghamburkan dirinya ke tubuh Galak. Memeluk Galak dengan sangat erat.


“Hei, apa yang kamu lakukan?” pekik Galak.


__ADS_2