
Meta berjalan mengendap-endap keluar dari rumah menggunakan pintu gerbang belakang. Di depan pintu itu, sudah berdiri bersandar seorang laki-laki yang sudah beberapa hari ini tidak ia temui. Siapa lagi kalau bukan Kasman?
Vila ini, kan, krisis laki-laki.
Ah, sial! Kepergian Kasman membuat penyedap mata Meta hilang. Kini variasi laki-laki di vila ini berkurang. Semoga saja, Meta tidak merasa hambar karena terus-terusan melihat Galak saja.
Kasman yang mengenakan kaus oblong berwarna biru tua bangun. Ia berjalan mendekati Meta. “Apa kabar, Nyonya?” sapa Kasman dengan senyuman.
Meta mengernyitkan dahinya. “Kasman beneran dipecat?” tanya Meta. Ia keheranan melihat tingkah Kasman yang tak biasa. Apa wajar seseorang tersenyum seperti itu karena kehilangan pekerjaannya?
Kasman menganggukkan kepala. “Ka, kemarin aku udah bilang, Nya,” jawabnya.
“Masak cuma karena Kasman peluk Meta, Sayang Galak sampai mecat Kasman? Itu, kan, berlebihan,” ujar Meta merasa tak percaya.
“Kalau Nyonya enggak percaya, tanya sendiri aja ke Tuan,” timpal Kasman.
“Sayang Galak enggak mau jawab pertanyaannya Meta,” tutur Meta.
“Iya, lah, Nyonya. Mana ada orang cemburu mau ngaku,” tukas Kasman.
__ADS_1
“Gimana kamu tahu kalau Sayang Galak beneran cemburu?” Meta semakin tertarik.
“Kalau Nyonya mau pastiin lebih jelasnya, coba Nyonya uji aja Tuan. Uji dengan godaan yang lebih berat,” jelas Kasman.
Meta membutuhkan waktu untuk memikirkan itu. Ia bahkan belum bisa menelaah seluruh kata-kata Kasman.
“Tapi … Kasman jadi dipecat gara-gara bantuin Meta,” ujar Meta merasa bersalah.
Kasman mengusap rambutnya ke belakang. Memamerkan betapa tampan diri dan hatinya.
“Tenang aja, Nyonya. Aku ini, kan, orang yang dermawan dan berhati mulia. Jadi Nyonya jangan merasa enggak enak hati,” timpal Kasman.
“Jangan terlalu berlebihan Nyonya. Kalau Nyonya mau balas aku, aku enggak minta banyak-banyak, kok. Cukup sepatu yang Nyonya pakai itu aja.” Kasman melirik ke arah sepatu berwarna emas yang Meta kenakan.
Meta menurunkan pandangannya. Seketika bola matanya membundar.
“Ini emang enggak banyak-banyak, tapi belinya butuh uang banyak banget!” seru Meta merasa tersinggung.
Kasman malah tertawa pelan. “Ayolah, Nyonya. Itu hanya sepatu,” rayu Kasman.
__ADS_1
Diameter bola mata Meta semakin melebar.
Hanya sepatu?
Benar saja, Kasman. Meski hanya sepatu, harganya sama seperti sebuah rumah. Lagi pula para pekerja di vila seharusnya tahu bagaimana perjuangan Meta untuk mendapatkan sepatu ini.
“Lagi pula, gara-gara aku, Nyonya jadi tahu gimana perasaan Tuan yang sebenarnya. Aku cuma dapat sepatu itu buat pacarku, tapi Nyonya—tinggal pepet dikit—bisa dapat segalanya. Nyonya cuma butuh dapatin hatinya Tuan buat beli segudang sepatu kayak gini lagi,” jelas Kasman.
“Hem ….” Meta tengah berpikir. Sebenarnya ucapan Kasman memang benar, tapi ….
“Meta, kan, belum berhasil pepet Sayang Galak. Terus Meta pakai sepatu apa, dong, habis ini?” tanya Meta. Sebenarnya ia masih merasa keberatan.
“Ya, minta sama Tuan, lah. Nyonya, kan, istrinya,” jawab Kasman.
“Kalau enggak dikasih, gimana?” tanya Meta lagi.
“Nyonya tahu, enggak? Harga selusin piring di rumah ini sama kayak gajiku dua bulan. Nyonya tinggal minta karung sama Bu Astri, terus karungin semua piring di sini, bawa ke pasar, di jual, kaya, deh,” jawab Kasman.
Apa hidup memang semudah itu?
__ADS_1