Suamiku Galak

Suamiku Galak
76. Kebenaran Kasman 2


__ADS_3

Meta berjalan mengendap-endap keluar dari area vila melalui pintu belakang. Hari telah sore. Tinggal sedikit lagi petang menguasai bumi ini.


Meta yakin kalau foto yang Galak jatuhkan tadi berisi fotonya Kasman. Karena Galak tidak memberikan jawaban apa pun, Meta menjadi penasaran. Makanya ia sengaja menghubungi Kasman dan mengajaknya bertemu di suatu tempat.


Bukan di restoran mewah, menyembunyikan rahasia di balik kamar hotel, atau bertingkah sebagai orang asing di bandara. Mereka hanya bertemu di pinggir jalan raya seolah dua teman yang hendak pergi bersama. Lagi pula mereka bukannya menciptakan rencana buruk, memangnya kenapa kalau ada yang melihat?


Mulut Meta membuka, seolah lidahnya tidak mau kalah dari mata. Sebuah mobil mewah berwarna biru terparkir di pinggir jalan. Kemudian seorang laki-laki keluar dari sana. Langkahnya seperti seorang model, apalagi saat kacamata hitamnya menurun, seolah semburat sinar mengelilingi wajahnya. Sepertinya Rizky Nazar benar-benar mendatangi Meta.


“Rizky Nazar …,” kata itu keluar begitu saja dari mulut Meta.


“Kasman, Nyonya,” sahut Kasman mengoreksi—atau Ian?


“Masak orang ganteng kayak Kasman namanya Kasman,” sindir Meta tidak percaya.


“Heh.” Ian tertawa pelan. Meta memang suka berterus terang.


“Ian,” celetuk Ian.


“Ha?”


“Ian namaku, Nyonya,” ujar Ian.


Kini lidah Meta merasa nyaman saat memanggil laki-laki berwajah tampan di depannya.

__ADS_1


“Ada apa Nyonya memanggilku kemari?” tanya Ian.


“Apa Kasman bakal jadi tukang kebun lagi?”


“Ha?” Ian tersentak. Apa penampilannya saat ini masih seperti orang melarat?


Jelas-jelas orang yang tidak mengenalnya pasti akan mengira seorang idol lewat.


“Soalnya Sayang Galak kemarin baca-baca biodata kamu kayaknya. Apa kamu mau melamar pekerjaan di sana?” tanya Meta.


Meta tidak sebodoh itu, kan? Mana ada tukang kebun yang repot-repot mencari pekerjaan pakai biodata atau ijazah segala?


“Baca biodataku? Tapi buat apa?” Ian malah keheranan.


“Jadi Nyonya mau ketemu aku cuma buat tanya itu?” tanya Ian.


Meta menganggukkan kepala.


Ian malah tertawa pelan. Meta yang aneh ini selalu saja bertingkah aneh. Pantas saja Galak sampai jatuh hati. Laki-laki mana pun tidak akan bosan selama Meta berada di sisinya. Karena Meta selalu saja menciptakan hal-hal yang baru.


“Tapi Kasman, eh, maksudnya Ian … pasti kaya. Kenapa kok malah kerja jadi tukang kebun? Udah ganteng-ganteng kok malah jadi tukang kuli,” tanya Meta.


“Nyonya enggat pernah lihat FTV-FTV?”

__ADS_1


Meta menggeleng-gelengkan kepala. Sebenarnya ia sempat bermain di beberapa FTV sebagai pemeran pendukung, tetapi ia tak pernah melihat hasilnya. Ia terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu selain berpindah dari satu lokasi syuting ke lokasi syuting lainnya.


“Sebenarnya aku ini menyamar, Nyonya,” aku Ian.


Meta mengernyitkan dahi. Penyamaran macam apa ini?


“Dari dulu itu aku selalu dikhianati perempuan, Nyonya. Mereka mendapatkan mobilku, tapi menikmatinya bersama laki-laki lain. Aku udah lelah, Nyonya. Makanya aku sedang mencari cinta sejati yang mau menerimaku apa adanya, dengan berpura-pura menjadi orang miskin,” ujar Ian malah ngedrama.


Meta mengembuskan napasnya. Ia merasa terharu akan cerita menyedihkan Ian. Akankah cerita itu menjadi best seller jika dinovelkan?


Kaki Meta bergerak maju. Ia berusaha menyalurkan semangat dengan memberikan tepukan di atas punggung Ian yang jatuh dalam pelukannya.


“Sekarang tersenyumlah. Kamu kan udah nemuin cinta sejatimu,” tutur Meta.


Punggung Ian menarik. Dahinya berkerut. “Siapa yang Nyonya maksudkan?” tanyanya.


“Bu Astri,” jawab Meta.


Kedua mata Ian menyipit. Ah, si tante-tante yang tidak ingat usia itu. Jujur saja mengingat orang itu membuat tubuh Ian begidik merinding.


Di dunia ini Ian hanya takut pada tiga hal: kemarahan Arga, diputuskan Saras, dan nenek lampir itu.


-oOo-

__ADS_1


__ADS_2