
“Boleh aku bilang sesuatu?” tanya Kasman.
“Apa?” sahut Meta.
“Nyonya beneran enggak jelas,” komentar Kasman.
“Emang enggak dijelasin biar enggak jelas,” aku Meta.
“Maksud Nyonya apa?” Kasman masih ingin mengerti.
“Udah, gih, sana! Cariin kunci buat Meta,” alih Meta.
“Iya, Nya.” Kasman menunduk dan pergi. Ia terpaksa harus memendam rasa penasarannya.
Kini tertinggalah Meta sendiri di halaman dengan mengacak-acak rambutnya frustasi. Karena takut dirinya terlihat payah, ia malah bertingkah aneh. Agar tidak diketahui Astri, ia malah berbicara tidak jelas kepada Kasman. Apa yang akan diceritakan Kasman kepada orang-orang tentang dirinya nanti? Semoga saja laki-laki itu tidak bergabung dalam grup perkumpulan gosip para pembantu.
-oOo-
Akhirnya Meta kembali memijakkan kakinya di depan pintu kamar utama kedua. Kini ia tersenyum semringah karena ia sudah mendapatkan kuncinya. Ia bahkan memiliki dua: yang satu ia pegang dan satunya ia masukkan ke dalam tumpukan celana dalamnya. Itu adalah penyimpanan teraman menurutnya.
Meta membuka pintu kamar utama. Namun, tempat itu kosong. Lalu ke mana Galak pergi? Bukankah menyeramkan kalau pintu ini terkunci tanpa penghuni?
Meta melangkah masuk. Melihat selimut tergeletak bebas di atas ranjang, sepertinya Galak sudah bangun.
__ADS_1
“Sayang Galaaak!” panggil Meta.
Tidak ada sahutan. Namun, saat Meta berbalik ….
Bwa!
“WAAA!” Bukan Meta yang menjerit, tetapi laki-laki tampan pemilik roti sobek. Siapa lagi kalau bukan Galak?
Galak keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk di bagian bawahnya. Sedangkan handuk lain sempat ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Menemukan Meta berada dalam kamarnya, Galak langsung menggunakan handuk itu sebagai penutup roti sobeknya.
“Kamu! Apa yang kamu lakukan di sini?” pekik Galak tidak terima. Ya, benar, memang sudah banyak yang merasakan kelezatan roti sobek rasa cokelatnya. Namun, setiap melihat Meta dengan posisinya yang memalukan seperti ini, membuatnya terus teringat akan saat-saat memalukannya di hotel dulu.
“Sebelum Sayang Galak kangen, jadi aku ke sini dulu. Eh, Sayang Galak udah bangun. Maaf, ya, Sayang Galak, udah bikin kamu kangen sebentar.” Meta memasang wajah menyesal.
Rindu?
Benar, Galak memang sudah rindu, tapi bukan pada Meta, melainkan kepergian perempuan itu. Galak merindukan masa-masa bebasnya di mana ia belum mengenal Meta dan di mana tidak ada Meta.
“Ih …. Abang Galaaak …. Enggak usah malu-malu, deh. Biar aku aja yang malu.” Meta mengedip-edipkan kelopak matanya.
Galak begidik melihat kelakuan istrinya. Bagaimana perempuan itu tidak malu bertingkah kekanakan seperti itu di usianya sekarang?
Benar, Meta memang masih muda. Akan tetapi, tidak ada anak SD yang berusia segitu. Anak SD saja tidak bertingkah sepertinya.
__ADS_1
“Udah, deh, sana pergi!” usir Galak. Ia mendongak ke arah pintu.
“Enggak mau,” tolak Meta.
“Aish,” desis Galak kesal.
“Kalau Sayang Galak kangen Meta, gimana?” dalih Meta.
“Enggak bakal,” elak Galak.
“Kalau Meta yang kangen Sayang Galak, gimana?” Meta membalikkan alasan.
“Terus aku harus peduli?”
Meta menganggukkan kepala.
“Enggak!” tegas Galak menjawab pertanyaannya sendiri.
“Udah, deh, sana, pergi! Aku mau ganti baju,” usir Galak lagi.
“Enggak mau!” Meta lebih menegaskan. Kini ia bahkan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tangannya yang menumpu membantali kepalanya.
“Apa lagi sekarang?” Galak sudah muak.
__ADS_1
“Pagi-pagi Meta ngidam roti sobek,” ujar Meta.