
Bruk! Galak langsung melepaskan tangan Meta dan mendorong perempuan itu sampai terjatuh ke atas ranjang. Untung saja ranjang ini tidak mengandung duri seperti kasurnya tuan Crab.
Galak lansung berbalik sehingga membelakangi Meta untuk menyembunyikan ekspresi panik di wajahnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Meta.
“Enggak ada!” timpal Galak ketus.
Meta menyipitkan matanya. Dia menjadi curiga. Sepertinya benar seperti dugaannya selama ini.
“Sayang Galak … enggak bisa ciuman, ya?” tanya Meta. Sebenarnya dia kurang yakin sebelumnya. Akan tetapi pikiran itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
Galak tertawa meski terasa kaku. Berusaha menyembunyikan arti sebenarnya.
“Ha ha … apa kamu menikah denganku gitu aja? Apa kamu enggak tahu kalau aku udah mencium bermacam-macam perempuan?” sahut Galak.
“Terus kenapa Sayang Galak enggak pernah cium Meta?” tanya Meta.
__ADS_1
“Kalau aku bisa cium perempuan mana pun kecuali kamu, seharusnya kamu ngerti kalau itu berarti aku enggak tertarik sama kamu!” tegas Galak.
“Itu enggak mungkin. Mana ada laki-laki yang enggak tertarik sama Meta,” elak Meta.
“Jadi, maksudmu aku bukan laki-laki?” Entah kenapa, mendengar elakan Meta tadi membuat Galak merasa tersinggung.
“Om Kumis aja sampai mau bangun negara buat hidup sama Meta berdua aja,” imbuh Meta dengan suara yang lebih lirih.
Galak melirik sinis. Entah kenapa, mendengar Meta terus menyebut-sebut laki-laki tua, tidak tahu malu, yang sudah seharusnya sudah tinggal di lubang kuburan itu, membuat Galak merasa sebal.
“Terserah kamu, lah! Intinya aku enggak tertarik sama kamu, jadi keluar dari kamarku sekarang juga!” seru Galak merasa muak.
“Apa yang kamu lakukan? Lepasin aku!” seru Galak sembari meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari Meta, tanpa harus menyakiti perempuan itu. Akan tetapi, Meta sudah memaku kakinya kuat-kuat. Meta takkan lagi terlepas!
“Kalau Sayang Galak emang enggak tertarik sama Meta, terus kenapa Sayang Galak sampai cium Meta?” tanya Meta.
Seketika gerakan Galak berhenti. Ia mulai merasa lemah. Rupanya Meta berhasil menemukan sesuatu dari dalam dirinya.
__ADS_1
Jadi, perempuan bodoh ini punya otak juga?
“Mungkin aku gila untuk sejenak,” elak Galak sembari memalingkan wajahnya. Ia muak mengakui ini.
“Kausnya Sayang Galak bahkan masih ada di kamarnya Meta,” imbuh Meta.
“Ciumanmu terlalu payah. Jadi, aku enggak tertarik buat lanjutin ke tingkat selanjutnya,” tukas Galak.
“Tapi … bibirnya Sayang Galak yang bergemetar, membeku, seolah lumpuh ….”
Ah, sial! Galak benar-benar tersudut saat ini! Meta sampai mendeskripsikan apa yang terjadi.
Apa yang harus Galak lakukan sekarang?
“YA!” teriak Galak. Akhirnya Ia berhasil melepaskan diri dari pelukan Meta. Ia menoleh. Menyadari jaraknya yang amat dekat dengan Meta, Galak pun memundurkan langkahnya dua kali.
“YA! AKU SEKARANG EMANG ENGGAK BISA CIUMAN SAMA PEREMPUAN MANA PUN! CIUMANKU PAYAH! AKU SADAR ITU! APA SEKARANG KAMU PUAS?” teriak Galak dengan napas menggebu-gebu. Ia benar-benar malu. Itulah kenapa ia sangat marah. Ia berharap bisa menyembunyikan rasa malunya dalam selimut kemarahan ini.
__ADS_1
Meta tidak langsung bereaksi. Ia sudah menduga ini sebelumnya. Akan tetapi, setelah mendengar langsung dari Galak sendiri, Meta merasa terkejut.
“Ah, sial!” umpat Galak sembari mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar berhasil mengacaukan ketampanan diri dan kekerenannya. Kini ia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya lagi.