Suamiku Galak

Suamiku Galak
80. Pembalasan Untuk Meta 2


__ADS_3

“Apa maksud Sayang Galak cinta?”


“Bisa jadi.”


“Cih! Meta enggak tertarik sama itu. Lagian laki-laki terlalu lamban soal cinta. Kebanyakan enggak pekanya. Mending langsung hajar aja. Lagian laki-laki mana yang enggak akan peka kalau Meta udah goda duluan?” Meta malah menyisihkan rambutnya ke belakang, sehingga memamerkan leher jenjangnya.


“Jadi itu prinsipmu bisa dapatin si Kumis Lele itu?” sindir Galak.


“Lagian Meta enggak buang harga diri Meta enggak ke sembarang kandang bebek, hanya untuk bebek yang bertelur emas,” dalih Meta.


Sebenarnya Galak sedikit terperangah. Perempuan yang berada di sampingnya ini selalu merubah pikirannya. Terkadang bersikap lugu, terkadang juga seolah tahu segalanya. Sejak awal perempuan ini memang rubah betina. Entah mana pikirannya, entah mana hatinya, wajahnya terlalu pintar menyelimuti semua itu.


Pernikahan ini menjadi semakin menarik.

__ADS_1


Galak mengangkat tubuhnya dan langsung mengunci tubuh Meta dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas ranjang. Pergerakan Galak yang tiba-tiba merubah ekspresi Meta seketika. Tidak ada ketenangan. Seolah terkejut di wajah dan berdesakan di dalam dada. Kemudian Galak menurunkan ciumannya.


Dasar payah? Ah, Galak sudah tidak peduli itu lagi. Lagi pula ciuman Meta tidak sehebat itu.


Benar saja: Meta memang sempat terkejut. Itulah kenapa ia tak berhasil menyamai kecepatan pergerakan bibir Galak. Saat ia menyadari bahwa keinginannnya dipenuhi, Galak malah menjatuhkan harapannya. Saat Meta mulai menggerakkan bibirnya, Galak malah melepaskan ciumannya. Ia terbangun dan menjauhi Meta yang terperangah.


“Ke-kenapa berhenti?” tanya Meta, lebih terdengar seperti protesan.


Galak melirik. “Ciumanmu enggak sehebat itu. Belajar lagi, ya, Dik. Ommu ini bukan orang yang bisa kamu atasi.” Galak pun bangun. Ia melangkah menjauhi ranjang. Saat membuka pintu, ia menoleh. “Oh, ya. Aku akan menemui nenek sendiri. Setelah aku kembali, kuharap koper ini sudah lenyap dari kamarku—“ Galak menunjuk koper itu “—kalau tidak, aku yang akan melenyapkannya dengan caraku.”


“Sebenarnya manis juga. Tapi tidak akan menarik kalau aku mengalah begitu juga. Kalau kamu membuang harga dirimu ke kandang bebek bertelur emas begitu saja, maka aku akan menerbangkan bebek itu selama aku belum lelah,” gumam Galak.


Rupanya Galak pergi bukan hanya meninggalkan Meta, tetapi bibir Meta yang sudah memancang persis seperti paruh bebek. Meta menjatuhkan punggungnya yang sempat terbangun ke atas ranjang. Kemudian melemparkan banyak pukulan oleh kepalan tangannya. Ia menyesal. Seharusnya ia tak terpedaya dengan mudah!

__ADS_1


-oOo-


Baru saja keluar dari mobil hitam nan mewahnya, Galak sudah mendapatkan sambutan dari Pama yang berdiri di depan pintu. Pama ini memang seorang yang multi-bekerja. Ia menjabat sebagai sekretaris Galak, bekerja untuk Vera, tetapi bertugas sebagai pengawal.


Galak bergeleng-geleng. Pantas saja Vera cinta mati kepada pekerjanya ini.


“Tuan sudah datang,” sambut Pama.


“Enggak. Barusan aku malah mau pergi.” Galak malah berbalik dan membuka pintu mobilnya lagi.


Wajah kaku Pama seketika mencair. Tangannya menyembunyikan lengkungan yang baru ia goreskan di wajahnya. Rupanya tuannya telah kembali.


“Silakan masuk, Tuan,” kata Pama di tengah-tengah tawanya.

__ADS_1


Galak turut tersenyum. Menggoda bawahannya memang hiburan terbaik sebagai majikan. Seandainya saja ia tak menikah, mungkin tiga atau lima pelayan cukup untuk menjadi hiburan seharinya.


__ADS_2