
Hai-hai. Sayang Galak kembali😁😁 Happy reading sebelum baca kejutan di bawah🤗🤗
🌺🌺🌺🌺
Ruangan Vera dipenuhi kesenyapan. Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan Galak tak berani bergerak. Dia diam. Bimbang. Menantikan keputusan Vera.
Usai memeriksa kabar yang meledak hanya dalam beberapa jam, Vera mendorong tabletnya ke atas meja. Tablet itu masih menampilkan skandal perselingkuhan Meta dan Ian.
“Ceraikan perempuan itu,” titah Vera dengan tenangnya. Tanpa mengingat kebersamaannya dan menantunya selama beberapa hari itu.
Mata Galak melebar. Dia tertegun mendengar keputusan itu.
Ya. Pada akhirnya, dia akan bercerai dengan Meta. Tapi tidak secepat ini. Apalagi, perceraian mereka tidak terjadi secara baik-baik, melainkan skandal. Bukankah ini seperti tebu yang habis manis dibuang sepahnya?
Setelah Meta menerima perjanjian dengan segala risiko, dia ditinggalkan di masa-masa jatuhnya. Skandal ini akan menjadi kasus yang berat. Mungkin juga membuat Meta tidak bisa bangun lagi.
“Tapi ini terlalu cepat,” protes Galak.
“Kenapa kamu terlihat keberatan? Bukankah ini juga yang kamu inginkan?”
Galak terdiam. Dia terjebak ucapannya sendiri.
“Kamu enggak mulai jatuh cinta kan, sama dia?” tuduh Vera.
“Kata cinta enggak ada dalam kamusku. Aku hanya tahu kerja keras,” tegas Galak.
“Makanya, ceraikan perempuan itu segera.”
Tetap saja, Galak belum bisa menerima. Dia merasakan keberatan yang tidak bisa didefinisikan dalam kata-kata.
“Berpikirlah dengan baik, Nak. Apa ada kesempatan yang lebih baik dari sekarang? Kalian memiliki konflik dan memiliki alasan untuk berpisah. Kalau kamu menundanya, Meta bisa saja membalikkan keadaan atau menuduhmu yang tidak-tidak.”
Rupanya, Vera tengah menyulut api di hati Galak.
Galak masih tak menjawab. Dia berusaha menimang pikirannya dengan baik. Agar tidak ada yang berat sebelah.
“Kalau aku menceraikan Meta, apa yang akan terjadi padanya?” Akhirnya Galak bersuara.
“Kehancuran.”
“Apa kita akan meninggalkannya begitu saja setelah menghisap darahnya?”
“Jadi itu yang kamu beratkan?”
Galak tak menjawab.
Vera tersenyum. Puas. “Aku tidak perlu mencurigaimu lagi sekarang. Aku sudah puas kalau bukan hatimu yang tertarik, melainkan belas kasihan saja.”
__ADS_1
Vera melirik Pama. “Siapkan rumah di luar negeri dan segala keperluan untuk seumur hidup perempuan itu.”
“Apa Nenek akan mengasingkannya?” tanya Galak dengan intonasi suara yang naik.
“Kalau dia masih berkeliaran di negara ini, bisa-bisa wartawan akan mencurigai pernikahan kalian lagi. Aku enggak akan biarkan itu terjadi.”
Jika Vera sudah bersikukuh seperti itu, maka tidak ada yang bisa Galak lakukan untuk membela.
Galak keluar dari ruangan Vera dengan mengembuskan napas berat. Entah apa yang mengikat dadanya. Dia merasakan sesak.
Keputusan Vera adalah benar. Meski Galak berusaha meyakinkan diri, tetap saja hatinya tidak bisa membohongi. Keberatan dalam hatinya adalah perpisahan.
Galak segera menghubungi seseorang untuk mencari Meta. Entah ke mana perempuan itu saat ini. Kalau dia melihat berita itu sendiri, entah bagaimana ekspresinya nanti.
Atau, perempuan itu masih bersama Ian dan benar-benar bermesraan?
Membayangkan kebersamaan mereka kemarin malam, seketika membuat perasaan Galak memanas. Dia jadi ingin cepat-cepat menemukan perempuan itu.
Galak hendak pergi keluar menuju mobilnya. Namun, dia melihat seorang perempuan berkeliaran di rumahnya. Setelah diperhatikan baik-baik, dia berhasil mengenali perempuan itu. Dia adalah Meta.
Galak lekas membuntutinya sampai di kamar.
“Sa-Sayang Galak!” Meta memekik melihat keberadaan Galak di belakangnya.
“Dari mana saja kamu?” tanya Galak dengan tatapan menghujam.
“Menemui Ian?”
Mata Meta membelalak. Mengisyaratkan kebenaran.
“Dan tidur bersama Ian juga?” imbuh Galak.
Meta bergegas mendekati Galak. “E-enggak. Meta … Meta … memang bertemu Ian dan minum bersama. Tapi Meta enggak sama Ian kok, tidurnya. Beneran. Meta tidurnya sendirian.”
Galak mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan sebuah foto yang dia dapatkan. Foto itu berisi wajah Ian dan Meta yang sedang bersama di atas ranjang. Jarak mereka sangat dekay. Bergerak sedikit saja, bibir mereka langsung bersentuhan.
Mata Meta membelalak. Itu benar wajahnya. Namun, dia tidak mengingat apa pun tentang hal ini. Dia melihat Galak dengan ekspresi bertanya-tanya.
“Ba-bagaimana Meta bisa ada di foto ini?”
“Harusnya itu yang kutanyakan padamu,” balas Galak sinis. Kemudian menarik ponselnya dan menunjukkan kabar berita.
“Skandal perselingkuhan artis terkenal?” Dahi Meta berkerut membaca judul berita itu. Dia membaca isinya dengan penuh antusias. Setelah berhasil mencernas seluruhnya, dia menggeleng-gelengkan kepala. Menunjukkan pada Galak jawabannya.
“Bukan Meta. Meta … Meta … Meta enggak pernah lakukan apa-apa ….”
Galak langsung menarik ponselnya. Kemudian menyembunyikan dalam kantong saku jasnya. Barulah perhatiannya kembali memusat kepada Meta.
__ADS_1
“Kamu udah melakukan itu. Kamu yang udah tidur sama Ian,” tegasnya.
Gelengan pada kepala Meta semakin cepat.
“Enggak Sayang Galak. Meta enggak lakukan apa-apa yang seperti di berita. Meta juga enggak tidur sama Ian. Itu cuma foto. Pasti ada yang sudah memanipulasi,” elak Meta mantap.
“Aku tahu,” jawab Galak.
Meta bernapas lega. Rupanya tidak begitu berat untuk membuat Galak percaya kepadanya.
“Kamu memang tidak melakukan apa-apa. Tapi di berita, justru sebaliknya. Sedangkan aku hidup dari apa yang berita bicarakan,” Galak menambahkan.
Napas Meta berhenti berembus dengan baik. Dia tercengang. Sekaligus kesulitan mencerna ucapan Galak.
“Kita harus bercerai.”
“A-A-Apa?”
“Kita … harus … bercerai ….” Galak mengulangi ucapannya.
“Tapi kan, Meta enggak lakuin apa-apa. Dan … dan bukannya Sayang Galak sudah percaya?”
Galak mengagguk. “Tapi ini sudah jadi keputusan Nenek. Nenek bilang, ini adalah cara terbaik untuk kita berpisah. Di mana, orang-orang akan sibuk dengan skandalmu, sampai tidak bisa menyoroti di balik perpisahan kita.”
“Tapi tapi tapi Meta gimana?”
“Untuk urusanmu, kamu tenang saja. Nenek yang akan mengurus biaya seumur hidupmu. Kamu hanya perlu pergi dan tenggelam dari dunia entertainment.”
“Tapi—”
Sebelum Meta mengeluarkan keluhannya sekali lagi, Galak sudah pergi. Meta bergegas mengejarnya. Namun, langkahnya dihentikan panggilan dari ponselnya.
Meta mengernyitkan dahi menemukan nomor asing yang tertera. Dia pun mengangkatnya.
“Halo. Dengan siapa?”
“Aku tahu di mana kakakmu.”
“Kakak? Kakak Alma?”
-oOo-
Hai-hai🤗aku ada kabar gembira. bahwasanya, Suamiku Galak akan segera tamat dalam waktu yang sangat dekat🤭🤭😀😀
Hayo. bakal happy ending apa sad ending, nih?😁
Tapi tenang. Kalian enggak akan berpisah dengan kegalakan. Karena di hari yang sama, akan ada Mas Dimas yang jauh lebih Galak dalam cerita baruku🙂
__ADS_1
Terima kasih untuk dukungan pada Suamiku Galak selama ini😁😁