Suamiku Galak

Suamiku Galak
74. Dinner Ala Sayang Galak 2


__ADS_3

Usai perempuan itu pergi, Galak mendorong satu porsi tambahan ke arah Meta. “Biar kamu makin gemuk,” tuturnya.


“Kok, ke Meta?” pekik Meta.


“Raba aja tubuhmu. Udah kayak tulang tengiri kering,” sindir Galak.


Meta menurunkan tatapannya. Ia memerhatikan baik-baik tubuhnya. Ia tak yakin kalau tubuhnya sekecil itu. Sejak menikah, ia malah kerap memakan daging. Meta pun menoleh. Namun, ia malah melihat Galak yang makan bakso dengan lahapnya, tidak elegan seperti biasanya. Meta keheranan. Sejak kapan Galak memiliki jiwa-jiwa melarat?


Tadinya Galak hanya fokus pada baksonya. Menyadari diperhatikan sedari tadi, Galak pun menoleh. Ia keheranan melihat kedua mangkuk bakso di samping Meta tak tersentuh sedikit pun.


“Ada apa?” tanya Galak.


“Sayang Galak pernah jadi miskin, ya?” Meta malah balik bertanya.


“Ha?”


“Iya. Miskin kayak keluarganya Meta dulu. Serba kekurangan sana sini. Bakso semangkuk aja harus dibagi empat orang,” jelas Meta.


“Enggak pernah,” timpal Galak. Ia kembali memusatkan perhatiannya ke arah baksonya.

__ADS_1


Meta benar-benar melupakan baksonya. Ia malah meletakkan dagunya di atas tangan yang bertumpu di atas meja. “Tapi Sayang Galak kok hafal sih, cara makan bakso?” tanyanya.


“Dari kecil, waktu keluargaku berlibur di sini, kami cuma makan makanan yang dijual di pinggir jalan,” tutur Galak.


“Tapi kenapa? Ngapain orang kaya makan ginian?” tanya Meta semakin tertarik.


Galak menoleh. Ia sedikit tersinggung mendengar penuturan Meta. “Ginian apanya? Ini juga makanan,” timpalnya.


“Tapi, kan, Sayang Galak bukan orang melarat,” dalih Meta.


“Orang melarat atau pun orang kaya sama-sama manusia. Enggak ada bedanya,” jelas Galak.


Meta manggut-manggut. Apa yang Galak katakan memang benar. Pembedanya hanyalah gengsi.


“Meta dengar Sayang Galak ini orang yang jarang berlibur. Bekerja keras emang baik, tapi sesuatu yang berlebihan kan eggak ada yang baik,” timpal Meta.


“Aku bukannya enggak mau berlibur, tapi aku udah punya hiburan sendiri,” dalih Galak.


Meta mengernyitkan dahi. “Apa itu?” tanyanya.

__ADS_1


“Perempuan,” jawab Galak.


Meta berdengus sebal. “Berganti-ganti pasangan bukan hiburan yang baik, Tuan Sayang Galak. Jangan biasakan itu meski setelah kita bercerai,” ujar Meta memperingatkan.


“Perempuan adalah hiburan terbaikku. Karena aku lebih khawatir fokusku pada perusahaan akan terganggu saat perhatianku tertarik pada kegemaran yang lain. Aku lebih takut saat aku harus memiliki cita-cita seperti orang-orang lainnya,” jelas Galak.


“Ya udah. Kalau gitu Meta siap jadi perempuannya Sayang Galak yang akan melebur penat dan lelahnya Sayang Galak,” kata Meta ikhlas seolah-olah seseorang yang mengorbankan nyawanya.


“Enggak usah. Bukannya menghiburku, kamu malah bikin makin pusing kepalaku,” tolak Galak.


“Yang penting, kan, enggak pecah. Soalnya bayang-bayang Meta udah ikat pikiran Sayang Galak sebaik mungkin,” dalih Meta.


Galak hanya bergeleng-geleng kepala. Kemudian melanjutkan kegiatan makannya.


Galak sadar Meta masih belum berhenti memerhatikannya. Sendoknya pun berhenti di tengah jalan. Galak menoleh ke Meta. “Buruan makan. Aku udah ngantuk, nih.”


Meta tersadarkan. Ia pun melepaskan tumpuan tangannya dan mengalihkan kesibukannya kepada dua porsi makanan itu.


Bisa makan sepuasnya adalah keberuntungan paling besar bagi Meta. Jika manajernya selalu melarangnya makan ini dan itu, Galak malah menawarkannya dua porsi.

__ADS_1


Ah … makin sayang, deh, sama Sayang Galaknya Meta!


-oOo-


__ADS_2