
Jujur saja, Galak semakin tidak kuat terus berada di dekat Meta. Ia terjebak di antara dua anggota tubuh sialannya: telinganya yang terus mendengungkan kepayahan dirinya dan matanya yang terus menggoda hati agar bibirnya mau mengecup kemanisan dari bibir tipis berwarna merah mudanya Meta. Apalagi perempuan itu terus saja menggerakkan bibirnya saat makan. Apa ia tidak bisa makan dengan tenang tanpa mengecap?
… Atau mungkin, menyalurkan makanan ke perut melalui tatapan mata?
Ah, sepertinya Galak harus memanggil Sandy Cheeks kemari.
Sudah berjam-jam Galak hanya duduk di atas kursi sembari melihat anak-anak yang bermain di taman. Bahkan sampai anak-anak itu pergi, Galak masih tak beranjak. Apa pantatnya belum cukup panas untuk mengeluarkan api?
Galak akhirnya beranjak saat malam telah tiba. Ia pikir ia takkan bertemu Meta di saat seperti ini. Ia pun bergegas pulang.
Sayang seribu sayang karena Sayang Galak tetap sayangnya Meta, rupanya Meta malah berdiam di dalam kamar Galak. Perempuan itu menyelonjorkan kakinya dengan tubuh memiring. Memamerkan paha putihnya yang hanya tertutup sebagian oleh gaun tidur berwarna merah hati. Bibirnya yang tergigit oleh gigi untuk menyebarkan aura godaannya begitu memerah. Lalu rambut pirangnya yang terurai bebas terus ia acak-acak untuk memamerkan leher jenjangnya.
Apa ia benar Meta?
Ia bukannya kuntilanak yang mau beranak, kan?
Lagi pula dari mana perempuan itu mendapat gaun tidur semahal itu?
Ia bukannya baru saja menemui Om Kumis, kan?
__ADS_1
Dari pada semua itu, ada sesuatu yang lebih penting lagi.
“Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?” tanya Galak. Ia yakin benar kalau pintu kamarnya sudah terkunci. Kuncinya bahkan sudah ia masukkan di dalam saku celana.
Meta meringis. Kemudian mengangkat sebuah gantungan dan memamerkan kunci yang tergantung di sana. Ia menggoyang-goyankan kunci itu, sengaja menggoda Galak.
“Bagaimana kamu bisa mendapatkan kunci itu?” tanya Galak. Ia yakin benar kalau kedua kunci yang Meta pegang sudah ia pegang.
“Bukan itu yang penting, Sayang Galak. Karena sekarang, kunci ini udah ada di tangannya Meta,” timpal Meta.
“Berikan!” seru Galak.
Ah, sial! Galak pulang hanya untuk beristirahat dengan tenang. Namun, ia harus berjuang dulu untuk mendapatkan ketenangan.
Galak bergegas mendekati Meta untuk menarik kunci yang terus Meta goyang-goyangkan. Akan tetapi, Galak kehilangan keseimbangan saat berusaha menarik kunci yang Meta tarik lebih dulu. Ia langsung jatuh di atas tubuh Meta.
Ini adalah posisi terkutuk dalam hidup Galak. Entah kenapa jantung dalam dadanya berdegup sangat kencang. Napas yang keluar dari hidungnya dan menabrak leher Meta terasa begitu berat. Galak benar-benar merasa tidak nyaman.
“Apa kita bisa memulainya sekarang?” tanya Meta.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya Galak.
Meta tidak menjawab dengan ucapan. Ia malah menggerakkan tangannya memasuki kaus Galak. Seketika Galak mengerti. Ia langsung melepaskan dirinya dari Meta dan bangun.
“Hentikan tindakan tidak tahu malumu itu! Kamu itu perempuan! Jangan bertingkah murahan seperti itu?” cerca Galak.
Meta terperangah. Sekali lagi ia ditolak. Ia pun bangun. “Bukannya dalam suami istri emang seharusnya enggak ada malu. Meta emang perempuan. Tapi Meta enggak akan terus-terusan menjual tinggi harga dirinya Meta. Kalau gitu, gimana Meta bisa dapatin laki-laki yang Meta mau?”
“Ya, tunggu aja sampai dia sendiri yang datang ke kamu,” jawab Galak.
“Sayang Galak, kan, enggak pernah sampai ke hatinya Meta. Apa kalau Meta nunggu, akan ada jaminan Sayang Galak bakal datang ke Meta?” dalih Meta.
Galak terdiam. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Bukannya Galak tidak mau datang, ia bahkan sudah pergi. Akan tetapi, langkahnya selalu terhenti di tengah jalan.
Tiba-tiba Meta bangun. Sebelum Galak mengedipkan kelopak Mata, tiba-tiba Meta sudah menjijit dan mengalungkan tangan ke lehernya, hingga akhirnya mendaratkan sebuah ciuman.
-oOo-
Sekarang tebak, euy... Ini udah beda lho 😁😁
__ADS_1